beauty fades


Beauty Fades…

0816199: Penyanyi itu muncul lagi… Apa yang aneh dengan mukanya?
0815166: Ya, dioperasi, leh! Dagunya juga.
0816199: Lha, sudah mancung kok dioperasi lagi?
0815166: Kurang kecil, kurang naik, kurang tipis.
0816199: Sekalian ganti sedotan aja, leh!

Ganti bentuk hidung, sekarang ini, soal biasa. Begitu juga dengan bentuk bagian wajah dan tubuh lainnya. Sudah sangat biasa. Dan mustinya saya tak perlu heran, karena pada suatu ketika, saya pernah kepingin ganti bentuk hidung juga. Sumpah!

Keinginan itu timbul pada suatu pagi. Penyebabnya: para pemain sirkus asal Jerman yang main di lapangan Tambak Sari. Ayah mengajak saya dan ibu menonton pada malam sebelumnya. Dan itulah pertama kali saya melihat orang berkulit terang, berambut kuning dan berhidung sangat tajam. Saya bertanya pada Ibu, bagaimana caranya bisa mengganti bentuk menjadi tajam seperti hidung para pemain sirkus itu. Ibu bilang, hidung cukup ditarik-tarik setiap pagi. Dan saya percaya. Sehingga mulai hari itu, saya rajin menarik hidung. Di mana saja. Kapan saja. Termasuk saat belajar dalam kelas. Saking rajinnya tarik hidung, sampai saya malas memegang pensil (waktu itu saya masih TK). Ibu guru yang jengkel melihat seorang muridnya tak bisa berhenti menarik hidung, memanggil ibu. Siangnya, sepulang sekolah, ibu melepas undang-undang baru: saya dilarang menarik hidung. Peraturan saya turuti.

Esok harinya, Ibu kembali dipanggil guru. Kali ini karena saya duduk di kelas sambil meringis kesakitan karena hidung saya jepit dengan jepit jemuran dari kayu. Yang bikin jengkel ibu guru, setiap kali ia ingin mendekat untuk melepaskan jepit jemuran itu, saya pasti berteriak histeris. Sebetulnya bukan karena kesakitan—yang tak seberapa– tetapi karena tak mau usaha memancungkan hidung gagal di tengah jalan. Malamnya, ayah mengajak saya bicara soal hidung. Dengan peta anatomi manusia di tangan, dia menjelaskan bahwa hidung mancung tidak bisa didapat dengan menarik-narik atau menjepitnya dengan penjepit jemuran. Hidung hanya bisa berubah bentuk bila dioperasi plastik, dan itu proses yang menyakitkan. Kalau tidak tahan sakit, hidung bisa bengkok. Kalau tidak tahan bersin, hidung bisa mekar seperti kembang sepatu. Dan tak cuma sampai di situ. Proses yang menyakitkan dan hasil yang tak pasti itu hanya bisa diperoleh dengan uang yang banyak sekali. Tanpa perlu diulang dua kali, saya memutuskan menunda cita-cita berhidung tajam seperti milik pemain sirkus Jerman. Tunggu sampai punya uang banyak untuk operasi -begitu kata hati saya waktu itu.

Keinginan mengubah bentuk wajah, tubuh yang kita miliki menjadi bentuk lain yang –menurut kita—lebih ideal, menurut saya amatlah manusiawi. Ingin punya bentuk lain itu sejalan dengan penyakit kita yang merasa milik orang lain lebih indah dari milik sendiri. Rumput tetangga lebih gemuk dan berkilau ketimbang rumput di halaman rumah sendiri.

Seorang teman di kantor sedang menghitung-hitung tabungannya –yang kehadirannya di luar pengetahuan suami—yang akan dipakainya di bulan mendatang dalam proses buang lemak di lengan, paha dan perut. Dia ingin tampil menawan dengan baju-baju tanpa lengan dan rok pendek yang bisa menyingkap kala angin bertiup. Boleh? Terserah. Itu kan uang dan badannya sendiri.

Yang lain bercerita akan menjalani operasi kecil di mata. Katanya, supaya ada lipatan. Menurut ceritanya, ini metode baru, pakai benang. Jadi kalau hasil kurang memuaskan, atau ingin menambah jumlah lipatan, benang tinggal ditarik atau ditambahkan lagi jelujurannya.

Operasi plastik hari ini soal biasa. Semua orang bisa melakukannya. Meski punya riwayat ingin mengganti bentuk hidung, sudah sejak lama saya  tak lagi berminat untuk mengubah apa pun dari tubuh dan wajah yang ada. Bagaimana bisa begitu? Karena dari waktu ke waktu Ibu selalu bilang semua yang ada di muka dan tubuh saya: sempurna. Tidak ada yang perlu diubah. Dia selalu mengingatkan bahwa apa yang saya punya itu sudah diatur dengan baik dan dirancang dengan luarbiasa oleh Yang Maha Hebat di atas sana. Jadi kalau saya utak-atik, artinya saya kurang suka dengan pemberianNya.

Tepatnya tak menghargai hasil buatanNya. Saya unik. Saya tiada dua. Begitu kata Ibu. Dan -meski butuh waktu- saya akhirnya percaya. Dan terakhir, Ibu meyakinkan saya, bahwa mengganti hidung agak landai ini menjadi tinggi menjulang itu tak penting. “Itu cuma soal tampilan,” begitu kata Ibu.

Dan akhirnya saya bisa lega lila dengan  hidung yang ada sekarang (yang dari tingkat ketinggian dan bentuk tetap paling payah dibandingkan hidung adik kembar saya), dagu yang tidak belah, mata yang agak kecil, tulang pipi yang cukup tinggi dan dahi yang padat kerutan. Saya yakin, apa pun yang sudah ada sekarang, adalah yang terbaik buat saya.

Lagipula, seberapa pentingnya punya dagu belah dan hidung mancung dalam kemajuan karier dan masa depan saya? Sampai hari ini: tidak ada hubungannya. Hidung landai ini baik-baik saja dan ikut menjelajah  hampir keliling dunia. Lagipula, tak terbayang rasa khawatir yang bakal mendera kalau jadi operasi plastik atau permak apalah namanya. Hidung ‘buatan’ bisa peyot kalau didera panas atau pilek berkepanjangan. Bikin hidup susah saja.

Kecuali untuk memperbaiki wajah atau akibat kecelakaan yang merusak wajah dan gangguan kesehatan, saya setuju dengan omongan Ibu: bahwa mengutak-atik muka dan badan hanya menunjukkan betapa tidak yakinnya pada diri sendiri.

Kalau tidak mengubah bentuk bibir, rasanya tidak bisa tampil mempesona?

Pesona datang dari kepandaian. Kecerdasan. Berkarya. Kemampuan menata hati dan pikiran. Semua itu lebih hebat dari sekedar bentuk mata yang seperti almond atau bibir yang penuh merekah. Atau dada yang mendongak. Ibu saya bilang,  tanpa kepandaian, hidung dan dada bersilikon itu juga tak berarti apa-apa. Tanpa kreativitas, suntikan botox penghilang kerut juga tak punya makna—selain membuat wajah selalu tampak heran, karena alis nanjak di dahi tak bisa turun?

Isi otak itu penting. Bahkan yang utama. Dan omongan Ibu ternyata sejalan dengan  Judith Sheindlin, yang punya serial Judge Judy. Ia pernah menulis sebuah buku, Beauty Fades, Dumbs Is Forever.

Saya suka kalimat itu.  Konon Judge Judy mendapatkannya dari sang ayah, yang meminta anaknya  serius mengasah otak, menjadi pandai ketimbang mengurusi tampilan luar.

Ibu saya sudah terbang ke Surga, jadi sekarang tugas saya untuk membuat Soca, putri saya, mengerti: bahwa ia cantik sebagaimana adanya. Itu berkat: hasil pemberian Yang Di Atas Sana, setelah memadukan unsur-unsur di wajah ayah dan ibunya.  Tetapi selain rupa, ia juga dianugerahi otak yang mesti diperkaya isinya. Agar ia bisa berlayar dan melaju di lautan kehidupan.

Adalah tugas saya dan bapaknya dan para gurunya untuk mengisi  dengan ilmu, pengetahuan dan berjuta hal-hal indah yang membuat Soca siap tempur di luar sana.

Dan sebagai ibunya, saya punya tugas tambahan: menjadi contoh sekaligus membuktikan bahwa rupa tak menentukan segala. Otaklah biang penentu masa depan. Sungguh!

Soca dan anak-anak perempuan di dunia tak boleh lupa ini: Beauty fades. Dumb stays forever

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to beauty fades

  1. aulia akualani says:

    setuju, otak dan hati yg utama

    Like

  2. Pingback: Tweets that mention beauty fades | Rumah Reda -- Topsy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s