ngupil


08151666: Ngapain?

08161993: Di Bus Way. Lagi lihat cowok ganteng yang asyik ngupil!

08151666: Tuluuuung!

Hari itu, bis Trans Jakarta menuju Kota tidak banyak peminat. Di halte Ratu Plaza (rasanya bukan ini nama resminya)  cuma ada saya dan seorang pria.  Umurnya paling baru 30-an. Tampangnya, cukup lumayan. Hidungnya  mancung. Dagunya tampak kebiruan, jejak bercukur pagi tadi.  Kemejanya yang biru muda dengan motif garis, dilengkapi dasi warna setingkat lebih gelap. Kami sempat bertemu pandang. Matanya bagus. Bulat. Alisnya tebal. Kalau harus memberi nilai, saya beri dia angka 8,5.

Begitu naik, saya langsung menuju bagian belakang bis yang bangkunya lebih tinggi dari yang lain. Sedangkan si eksekutif muda berponten 8,5 itu kebagian kursi dekat jendela. Karena jarak kantor dengan Ratu Plaza tak terlalu jauh, saya tak mau repot membuka belanjaan buku. Sebaliknya saya memilih memperhatikan penumpang Trans Jakarta ini. Dan si kemeja biru motif garis itu pun terperhatikan.

Lepas dua halte, saya lihat si ganteng itu mulai melakukan aktivitas dengan tangannya. Ia mulai menyentuh hidungnya dengan jemarinya yang kurus panjang itu. Sumpah, saya berharap dia berhenti sampai tahap penyentuhan saja. Tidak lebih (supaya dia tetap keren di mata saya). Ternyata, jari-jari itu tidak berhenti menyentuh, malah  bergerak lurus, seperti bor, memasuki lubang hidungnya. Terus menjelajah, mengorek dan mengorek. Tanpa henti! Dan kegiatan tak hanya sampai di situ: ia mengkombinasikan kegiatan mengorek itu dengan mendengus-dengus. Mencoba mengeluarkan hasil eksplorasi jemarinya. Dua orang perempuan muda yang duduk mengapitnya, mulai gelisah Mereka menoleh, membuang muka, memasang muka dongkol. Saya? Dongkol, heran sekaligus prihatin. Kalau jarak saya dan dia lumayan dekat, pasti tangannya sudah saya tepuk keras-keras. Sungguh!

Bagaimana mungkin, seorang lelaki yang dari tampilannya tampak cukup terhormat dan pasti punya pendidikan yang lumayan tinggi, bisa melakukan kegiatan seperti itu di tempat umum. Tanpa risi, tanpa malu.

Mengorek atau membersihkan hidung di tempat umum, cuma salah satu dari kebiasaan buruk yang bikin saya prihatin. Ada banyak lagi. Meludah di kendaraan umum. Menyisir rambut di restoran. Merokok di tempat yang bertanda dilarang merokok. Membuang sampah sembarangan. Daftar ini akan makin panjang kalau ‘mempersilakan duduk perempuan hamil/bawa anak, orang tua di bis kota’ ikut ditambahkan.

Terserah orang mau bilang apa tentang halaman ini, yang pasti saya jengkel bahwa hareee geneee, ketika kita sibuk membusungkan dada sebagai orang modern, berbudaya,  tahu etiket,  justru makin banyak orang berlaku sembarangan yang bikin malu diri sendiri, bikin jengkel orang lain.  Ke mana larinya sikap sopan, bersih, dan paham etiket dasar itu? Ke mana?

Ada teman yang bilang, itu salah sekolah yang tak lagi mengajarkan budi pekerti. Ada yang bilang, itu karena nilai-nilai moral yang semakin kacau di tanah air. Ada lagi yang ngotot bahwa yang paling bertanggung jawab atas semua ini adalah pemerintah. Begitukah?

Saya tidak mau menunggu terlalu lama hasil penelitian, riset, seminar atau apalah namanya yang membahas soal sopan santun, etiket dan tata krama. Terlalu lama. Terlalu buang waktu. Saya bilang, ini salah Ibu. Ya, ibu si ganteng itu. Ibu banyak orang yang melakukan kesalahan-kesalahan tidak penting tapi bikin jengkel itu. Anda tidak terima dan melotot sambil menggerutu atau mengumpati saya? Terserah. Saya tak peduli. Saya tetap yakin dan percaya, bahwa kesalahan yang dilakukan oleh banyak anak –yang sekarang sudah berangkat dewasa—adalah hasil ajaran ibunya. Ibu? Betul sekali!

Kalau sampai seorang wanita cantik makan ceplak-ceplak seperti babi, salahkan ibunya yang tak pernah mengajarinya makan dengan mulut tertutup.  Kalau ada seorang laki-laki tampan perlente bersin dan membiarkan semuanya muncrat ke segala arah, salahkan ibunya yang tak mengajari anaknya menutup mulut pakai saputangan. Kalau ada seorang bintang yang selalu lupa bilang terima kasih ketika diberi sesuatu, salahkan ibunya yang lalai mengajari anaknya mengenal kata itu.

Orang boleh bilang ini soal kecil. Ini tak ada hubungannya dengan hubungan ibu dan anak. Saya tidak terima. Kedekatan anak dan ibu bukan cuma membahas hal-hal besar dan heboh seperti masa depan, kesuksesan, kecukupan… Kedekatan anak dan ibu bermasuk bicara soal sopan santun, soal perilaku, soal kebersihan, soal timbang rasa. Dan ini penting.

Berapa banyak yang diterima Soca hari ini? Saya tak tahu. Yang pasti, saya akan terus memberi dan mengajari sambil terus berdoa semoga tak ada yang terlewat.  Kalau sampai satu hari nanti  ada  yang mengeluhkan tingkah laku  anak tercinta ini, saya mesti merelakan ia mendapat sanksi dan saya dipersalahkan. Karena memang itu kesalahan saya. Pasti.

Berat? Tidak. Ini memang sudah package deal buat jadi ibu. Mau terima atau tidak. Begitu saja.

Itu menurut saya.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to ngupil

  1. Rina says:

    saya pun akan memperhatikan kata-kata Ibu saya dengan lebih baik, semoga tidak ada yang terlewatkan juga… Terimakasih, Ibu Soca 🙂

    Like

  2. dwi arlina says:

    hi mbak Reda,setuju banget! anak adalah cerminan orang tua…
    biar tampang kece kalo gak punya manner, langsung drop deh nilainya!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s