Payung Termahal


Saya suka payung itu. Tangkainya dari kayu berwarna gelap, kokoh, sementara warna kainnya tak mencolok. Yang saya tak suka adalah Deasy (teman saya), menyebutnya ‘payung termahal’ di kawasan perkantoran Sudirman – Jakarta. Ini berawal dari peruruan saya akan rumah. Tiap ada pameran, jika menyertakan kata ‘rumah’, pasti saya ada di situ. Saya memang terobsesi punya rumah. Sejak pindah dari Surabaya ke Jakarta tahun 1968, Ayah, Ibu, saya dan adik-adik, berkelana dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain. Kok nggak beli saja sih? Nyicil kek… Saya juga pernah ngomong begitu pada ayah dan ibu. Tapi, ternyata nyicil bukan perkara gampang. Rumah seperti enggan mendekati keluarga kami.

Dulu, ketika baru sampai di Jakarta, Ayah –bersama seorang teman- membeli sebidang tanah lumayan luas di bilangan Pasar Rebo. Stelah diberi pagar dan gubuk kecil, kami Ayah menerima kabar buruk: tanah itu ternyata milik sebuah instansi besar di negari ini. Alhasil, Ayah dan temannya serta wakil instansi besar itu bertemu di pengadilan. Karena proses yang bertele-tele, Ayah bosan. Tanah itu –kini telah jadi perumahan mewah—dilepas. Dilupakan.

Kesempatan datang lagi setelah Ayah pensiun. Rumah yang dituju adalah yang kami tempati sampai tahun lalu. Rumah besar tak beraturan. Ahli feng shui pun mungkin akan ragu menentukan urat rezekinya. Tapi berkat sentuhan Ibu, rumah yang tiga tahun lalu mirip kardus raksasa itu, bisa tampil manis. Begitu manisnya, sampai si pemilik terkagum-kagum. Buntutnya, eeeh…. Dia malah ingin menempatinya sendiri. Terpaksa pindah lagi. Cari rumah baru.

Rumah yang ditempati Ayah dan adik-adik sekarang ini lumayan besar. Cuma saja, jika hujan banjir! Dan selalu bikin heboh karena rak-rak buku kami sangat pendek kakinya.

Lain lagi dengan rumah yang saya tempati sejak si Kecil berusia 6 bulan. Bentuknya manis, juga warna catnya. Pohon jambu darsana di depan rumah juga selalu sarat dengan buah yang manis. Tapi rayapnya, membabi buta. Tiang pintu, jendela, habis dilalap. Jari tangan sering kejeblos dalam rabuk kayu. Kalau berdiri dekat tiang-tiang itu, terdengar suara rayap pesta ria, “Kretek…. Kretek…” Nah, jadi sungguh tak salah kalau saya jadi rajin mencari hunian tetap, kan?

Tapi memilih rumah itu tidak gampang. Isi brosur pameran dan kenyataan sering meleset. Fasilitas umumnya sering tak jelas. Dan yang paling sering terjadi, semua sudah bagus, eh haraganya bikin ciut hati. Duh!

Suatu kali, bersama dua teman –Deasy dan Mbak Astari—saya datang ke pameran rumah lagi. belum genap satu putaran, saya sudah jatuh cinta pada rumah mungkil di Depok. Jantung saya berdebar. Hebatnya lagi, untuk tanda jadi saya cukup membayar Rp50.000,-. Sisanya tinggal disetor paling lambat dua hari lagi. Karena di dompet cuma ada selembar Rp20.000,- dengan malu-malu saya pinjam sisanya pada Mbak Astari. Deasy kaget, “Red, sudah dihitung-hitung belum? Lapor dulu sama beliau (maksudnya suami saya),” katanya. Aah, jika saya suka, pasti dia pun suka.

Dengan bangga saya serahkan uang ‘tanda jadi’ tadi. Hati berdebar ketika si penjaga stan super ramah itu menyerahkan payung besar. Hadiah tanda jadi. Mendadak saya sulit bernapas, sementara kedua teman mengagumi payung yang kokoh itu. Di sisa hari itu, saya tak bisa berkonsentrasi. Isi kepala cuma soal rumah. Sementara mata tak lepas menatap payung kokoh berlogo nama pengembang rumah masa depan saya.

Di rumah, dengan bangga saya perlihatkan hasil temuan hari itu kepada suami. Dia setuju, baik bentuk maupun lokasinya. Dia juga setuju dengan kegunaan payung besar hadiah itu. Tapi yang dia tak setuju adalah harganya. Lho? Tanpa banyak omong, dia menekan-nekan kalkulator. Tiba-tiba muncul angka-angka ‘aneh’ dan … mahal. Intinya, kalau kami ambil rumah itudaman itu, maka selama 3 tahun kami harus puasa total -silakan makan angin dan minum air hujan, terus ke mana-mana jalan kaki! Lho, kok bisa? Ternyata ketika di pameran, saya salah melihat harga. Perlahan, debar jantung saya kembali tenang. Ah, rupanya debar itu pertanda bahwa saya belum bisa memiliki rumah mungil nan cantik dan asri dan seterusnya, dan seterusnya.

Sayang, esok harinya, di kantor terlanjur tersebar bahwa saya akan beli rumah. Deasy malah menyediakan diri mengantar saya menjenguk lokasi rumah masa depan kami. Dia ingin jadi orang pertama yang menyaksikan peristiwa ‘bersejarah’ ini. Apa daya, niat baiknya harus segera dipadamkan. Dengan suara pelan, saya ceritakan kisah rumah kami itu. Mulut Deasy terbuka, matanya terbelalak, dan sejurus kemudian meledak tawanya. Setelah bisa mengatur napas, dia menepuk bahu saya, “Jangan sedih, Red. Justru kamu harus bangga. Biar nggak punya rumah mahal, tapi kamulah satu-satunya orang di jalan Sudirman ini yang pnya payung mahal. Payung lima puluh ribu perak!” Tak sampai lima menit, kisah rumah mungil di Depok berganti dengan kisah payung termahal. Dan berduyun-duyunlah teman dari bagian lain berkunjung ke kotak kerja saya dengan satu tujuan: melihat wujud payung mahal itu. Menjengkelkan!

Sampai sekarang, tiap kali mereka memergoki saya membca atau membolak-balik iklan rumah, atau mendengar saya bersiap datang ke pameran rumah, pasti ada saja yang nyeletuk, “Mau nambah koleksi payung termahal, nih?”

Terlalu.

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di rubrik GADO-GADO, majalah Femina,  1992. Ketika itu harga payung kualitas terbaik tak lebih dari Rp20.000,-

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Payung Termahal

  1. johnherf says:

    : kini menjadi Payung Hijau ya Mbak Reda, …..
    (Asyik, lancar, membaca ayat demi ayat tutur katanya).

    Like

    • rgaudiamo says:

      Entah di mana payung itu sekarang, John. Terselip di acara pindahan rumah yang baru berakhir tahun 2006 kemarin.

      Terima kasih sudah mampir dan juga untuk komentarnya.
      Selamat malam minggu!
      r

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s