Mak


Pernah dengar makanan berjudul ‘perut ayam’? Jajanan ini terbuat dari tepung terigu, campur gula, diberi air, terus digoreng dengan bentuk melingkar seperti isi perut ayam: usus. Rasanya, hmmm! Makan satu, mau dua. Makan dua, mau sepuluh. Saat ini, si perut ayam sedang naik daun di rumah kami. Setiap pagi, kalau Mak bangun lebih awal, maka ia akan segera beraksi di dapur, membuat perut ayam. Dan siapa yang bangun terlambat, jangan harap kebagian.

Meski kedengarannya gampang, perut ayam sering sulit dibikin. Salah-salah yang keluar dari penggorengan tak berbentuk perut ayam yang lembut, tapi bongkahan terigu goreng yang keras. Rahasianya? Mak bilang tak ada rahasia. Tapi saya kok hampir tak pernah mendengar teman-teman Mak sukses meluncurkan perut ayam buatan sendiri.

Bukan sombong, tapi Mak memang luarbiasa piawai di dapur. Hanya dengan icip-icip masakan di restoran, ia bisa menduga unsur-unsur utama dan pendukung sebuah masakan. Bahkan sampai jenis kecapnya, bisa ia temukan! Resep femina yang sulitnya seperti apa pun, kalau dia coba, pasti jadi dan enak. Hebatlah!

Tetapi di samping kisah sukses yang mengagumkan itu, ada juga kisah yang agak lain nadanya. Seperti minggu lalu. Ia mencoba membuat apem. Tuangan pertama, sukses. Apemnya cantik jelita, lubang-lubangnya banyak. Tapi entah kenapa, pada tuangan-tuangan berikutnya, lubang-lubang semakin berkurang dan akhirnya hilang sama sekali. Mak kesal. Maka digorenglah adonan apem itu. Hasilnya, menakjubkan. Kue cucur yang indah rupawan, tercipta. Sayangnya pada gorengan berikut, kesuksesan tak lagi terjadi.  Yang muncul kemudian adalah bulatan tepung goreng. Mirip kue bantal. Selanjutnya? Adonan berubah menjadi perut ayam tapi rasa apem. Untung tetap enak.

Keahlian Mak tak terbatas pada dapur. Urusan jahit-menjahit pun beliau sangat ahli. Ketika sekolah, seragam saya selalu hasil karya Mak. Malah Mak yang menjahitkan kebaya pengantin saya. Jahitan Mak selalu enak di badan dan jatuhnya bagus. Tak cuma itu, jahitannya selalu awet. Pernah ketika saya masih bayi, Mak membuatkan baju hangat. Entah bagaimana mengambil ukuran dan menjahitnya, baju hangat itu bisa saya pakai sampai kelas III SD! Dan tetap enak di badan.  Padahal ukuran tubuh kan sudah berkembang ke segala arah.

Tetapi seperti juga urusan dapur, di urusan menjahit bisa muncul faktor X yang membuatnya tak lancar. Begini, buat Mak menjahit itu harus lancar. Perkakas harus lengkap dan beres. Gunting harus tajam, jarum pentul harus cukup, benang dengan warna sesuai tersedia, dan mesin jahit berjalan mulus. Kalau salah satu dari unsur-unsur itu kurang oke, maka yang timbul adalah bencana.

Mau contoh? Celana panjang adik saya. Sampai hari ini belum terjahit juga, padahal sudah dipotong sejak setahun  lalu. Atau daster yang cuma dijelujur dan tak ada tindak lanjutnya (pemotongan kain dan jelujur terjadi 5 tahun lalu dan sekarang jarum pentulnya sudah memberi karat pada kain). Juga rok Mak yang entah kapan proyek pembuatannya dimulai (saya sudah tak mampu mengingat waktu pastinya karena sudah terlalu lampau). Alasan pemberhentian kerja: gunting tumpul, tali mesin jahit putus, …. Lalu kapan mau diteruskan? Nah, ini yang susah dijawab.

Kemarin saya melihat Mak mengeluarkan celana adik saya. Katanya mau diselesaikan. Adik saya sudah girang hatinya. Mata berkedap-kedip: ada celana baru buat date. Mak mengeluarkan kain yang sudah dipotong berbentuk celana, lalu duduk manis di depan mesin jahit. Tepat sebelum mesin bergerak, tiba-tiba listrik di rumah kami padam. Sehingga mesin jahit tak bisa bekerja. Mak memutuskan untuk menunggu. Apa daya, sampai kantuk menyerang matanya, listrik tetap tak mau kembali ke rumah kami. Akhirnya Mak memutuskan untuk istirahat. Tidur siang. Sore hari, listrik datang lagi. Mak sudah bangun dan mandi. Tetapi niatan menjahit celana sudah terbang entah ke mana. Alih-alih mendekati mesin jahit, Mak malah sibuk membalik-balik buku resepnya, bersiap mencoba masakan baru untuk besok. Kandas harapan adik saya punya celana baru. Iseng saya bertanya pada Mak, bilakah celana itu akan diselesaikan. Ringan Mak menjawab, “Besoklah.” Adik saya yakin, besok itu tak akan datang. Mak pasti tak akan kembali pada celananya. Mukanya berlipat-lipat.

Malam harinya, sambil duduk-duduk di ruang tamu, Mak membalik-balik majalah keluarga, dan tertarik pada pola pakaian balita, “Ini bagus buat Soca. Saya buatkan, ya!” katanya sambil melirik sang cucu yang asyik main di lantai. Saya langsung memberi dukungan penuh, mendorong agar niat ini segera terlaksana. Tetapi di lain pihak, saya juga harus siap kalau sewaktu-waktu niat itu terhenti di jalan.

Begitulah Mak. Kalau benar terlaksana, yang muncul tak cuma satu baju. Sepuluh! Atau bahkan ada bonus masakan enak. Kalau sampai tak terlaksana? Lha, itu sudah biasa kan? Namanya juga Mak.

Catatan: tulisan ini pernah dimuat di rubrik GADO-GADO, majalah Femina, 1993

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Mak

  1. Gita says:

    Ibu Reda… kue perut ayam itu juga sukaan saya… sampe sekarang, tiap kali pulang ke Sidoarjo, tak pernah lupa Ibu saya beli kue itu dipasar buat saya… 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s