Oh, Bajaj!


Bicara soal kendaraan, yang satu ini tak masuk dalam daftar favorit saya. Alasannya, meski tubuhnya kecil tapi ia terlalu semena-mena di jalan raya. Alasan lain, maaf, ada dendam pribadi saya dengannya.

Peristiwanya sendiri sudah lama lewat, sekitar 4 tahun lalu. Ketika itu saya dan pacar -yang sekarang sudah jadi suami- naik bajaj. Kami sedang mengurus segala sesuatu yang menyangkut perkawinan kami. Bajaj dipilih, karena cuma kendaraan ini yang bisa mencapai tempat tujuan. Setelah harga cocok, kami naik. Ternyata setelah duduk di dalamnya, kami disadarkan bahwa sang supir punya mimpi jadi pembalap mobil. Bajaj dilarikan kencang, memotong tiba-tiba, membelok tanpa ancang-ancang. Lampu sen? Lupakan. Bahkan menoleh pun tidak.

Di sebuah pertigaan, tiba-tiba ada metromini melintas, diikuti mikrolet. Tak ayal, si bajaj mencium bagian belakang mikrolet. Sialnya, di belakang kami ada mobil yang pengemudinya punya mimpi sama dengan si sopir bajaj. Ia tak sempat mengerem dan mobilnya menyeruduk bajaj yang kami tumpangi. Hasilnya, mendadak ada keramaian kecil di siang bolong. Bajaj kami terguling. Dari posisi duduk manis di jok belakang, saya jadi berada di bawah bajaj. Jok ada di atas kepala. Dengan segala daya, akhirnya saya dan pacar berhasil keluar dari bajaj yang mendadak tengkurap itu. Sang supir mengaduh kesakitan. Jempolnya berdarah. Saya tak merasa apa-apa, kecuali bahu yang agak pegal. Tanggung, perjalanan kami teruskan dengan bajaj lain. Lha, mau bagaimana lagi? Cuma bajaj yang bisa mencapai tempat itu….

Ternyata rasa pegal di bahu perlahan berubah jadi ngilu yang menggigit. Diantar pacar, saya periksa ke rumah sakit. Alamaak, ternyata bahu saya patah tiga! Tak ada jalan lain, saya mesti menjalani operasi. Sambungan besi menyatukan kembali bahu saya agar bisa kembali ke bentuk semula.  Tapi, meski rupanya sudah sempurna, ternyata bahu tak bisa diandalkan sepenuhnya seperti sediakala. Terutama untuk mengangkat beban berat. Dan kalau berada di ruang dingin, ada satu titik di bahu yang rasanya sangat menggigit. Ngilu. Nyeri.

Nah, sejak itu saya mengibarkan bendera perang pada bajaj! Bila jarak tempuh tak terlalu jauh, saya pilih jalan kaki. Bila kaki tak sanggup, saya pilih naik bis kota. Punya uang lebih, naik taksi. Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini saya seakan dijepit oleh situasi yang membuat saya sulit menghindari si bajaj.

Berawal dari kegiatan belanja bulanan bersama suami. Senang, karena bisa belanja berdua. Tapi pulangnya? Karena barang belanjaan banyak, jalan kaki terasa berat. Sialnya suami tak mau pulang dengan cara yang menyehatkan jantung: jalan kaki. Saya usul naik mikrolet, ia tegas-tegas menolak. Alasannya -sayangnya- betul: kalau naik mikrolet kami harus jalan kaki sekitar 500 meter lagi. Cara paling praktis dan nyaman -menurutnya- cuma satu: naik bajaj. Aduh!

Naik taksi? Wah, jelas mengada-ada. Karena jarak terlalu dekat dan ongkosnya berlipat ganda. Alhasil, kami menyediakan diri untuk dikocok-kocok benda roda tiga ini ketika ia melalui jalan berlubang, berbatu yang diterjangnya tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun. Setiba di rumah, saya perlu beberapa menit untuk menenangkan tubuh dan hati. Getarannya yang luarbiasa rasanya masih terasa terus, terus, dan terus. Aduh!

Ternyata bepergian menumpang bajaj tak menandakan gejala berhenti. Malah dua minggu lalu, lagi-lagi saya harus menikmati getarannya. Pasalnya saya harus berkunjung bahkan menginap di sebuah rumah sakit karena jantung Ibu agak kurang sehat. Sebenarnya bisa juga naik bis. Tapi sayangnya jadwal kedatangan kendaraan roda empat dan berbadan besar itu tak tentu, sementara saya tak punya banyak waktu untuk menunggu. Maka kalau mau cepat, saya harus naik bajaj.

Minggu lalu, ibu terpaksa pindah ke rumah sakit yang lebih canggih yang ternyata tak bisa dicapai dengan bajaj. Selain jauh, rute menuju rumah sakit ini melewati jalan protokol yang bebas kendaraan roda tiga. Tapi rupanya kegembiraan saya datang terlalu awal. Justru dengan kepindahan ini saya justru jadi lebih sering naik bajaj. Mengapa? Jalur lalu lintas di sekitar rumah sakit itu sangat padat. Karena itu banyak bis yang memilih lewat jalan tol. Akibatnya saya selalu harus naik bis sampai terminal, dan kemudian memutar kembali ke rumah sakit. Pilihan kendaraan? Cuma dua: ojek atau bajaj.

Naik ojek memang cepat. Tetapi kelakuan pengemudinya di jalan raya, sama saja. Apalagi bentuknya yang ramping membuat sang ojekwan senang menyelipkan motornya di antara bus, truk dan mobil lain. Lutut sering bergesekan dengan bodi kendaraan lain. Kalau sudah begitu, rasanya jantung melorot sampai jempol kaki. Halaaah!

Jadilah saya memilih bajaj, lewat jalan kecil yang berliku agar bisa muncul di jalan kecil, di samping rumah sakit besar itu. Setiap kali saya duduk di joknya, saya selalu berbisik dalam hati: “Semoga ini terakhir kali naik bajaj.” Tapi nyatanya, saya kembali berbajaj, lagi dan lagi.

Hal ini saya keluhkan pada adik saya. Dengan santai ia menjawab, “Mungkin Kakak memang tidak bisa lepas dari bajaj. Dari pada sibuk menghindar, kenapa tidak lebih mencintai bajaj?” Mencintai? Bagaimana?

“Jadi juragan bajaj, misalnya? Dengar-dengar lumayan menghasilkan!” ia memberi usul sambil senyum-senyum.

Oh, terima kasih!

Catatan: tulisan ini pernah dimuat di rubrik GADO-GADO, majalah Femina, 1994.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Oh, Bajaj!

  1. yasmine simbolon says:

    Mbak Reda, saya tidak pernah trauma bajaj seperti mbak. waktu SD kelas 5 ompung saya merasa saya sudah cukup dewasa untuk pulang sendiri, terlalu repot dan ribet mengkoordinir uda2 saya untuk mampir menjemput. jadilah saya gemar naik bajaj… sampe sekarang pun, saya masih penggemar bajaj, pulang pergi kantor kalau disamperin males sedikit– pasti tangan langsung menyetop bajaj. suara dan bau oli campur bensin memang mengganggu, tapi bagi saya entah kenapa kok rasanya lebih aman naik bajaj daripada naik taksi, pikir saya- gak mungkin gue dibawa kabur dan di culik supir bajaj, kan bisa tinggal lompat, hehehe….

    sekarang, thanks God udah ada bajaj BBG. Bau dan ribut tidak ada lagi, lebih nyaman pula. Plus, bajaj BBG dilengkapi lampu sen!!! tahu kan kalau bajaj seri lama (orange) mau belok cuma tuhan dan si supir yang tahu. 🙂

    tapi keluhku sekarang cuma harganya itu loh… kok sekarang naik bajaj dan taksi gak beda2 jauh ya? hu uh!

    Like

    • rgaudiamo says:

      Kejadian itu berlangsung sudah lama sekali…. Sebelum kawin, Yasmine (sekarang anakku saja sudah 19 th, hehehehe). Beberapa waktu lalu, ke mana-mana naik mobil. Sekarang saya sering pakai kendaraan umum. Dari Trans Jakarta, Kopaja, Ojek sampai kembali ke Bajaj. Setuju denganmu, Yasmine, soal nyaman dan bisa kabur itu. Apalagi Bajaj BBG. Oke banget. Tapi setuju juga dengan tarifnya yang sekarang makin oke itu. Beda tipis sama taksi. Apalagi kalau sudah hari hujan, waaaaah hati tergoda ber-taksi, deh.

      Tapi selain bajaj, ojek juga sama ngeselinnya, lho. Jarak dekat tarifnya melebihi taksi. Yaaah, kalau tak dikejar waktu, mending naik taksi. Tapi kalau lagi padat jadwal, terpaksa ngotot dikit sama para Ojekwan itu. Jalan penuh, padat, dan kita dihadapkan pada pilihan + risikonya. Begitulah kota besar. Mari bermodal semangat untuk terus bisa melaju di kota ini, Yasmine! 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s