Sayang Adalah…


Hampir sepuluh tahun lalu, saya terlibat dalam percakapan dengan seorang teman.  Setelah omong sana sini, bahasan pun tiba pada topik kasih sayang pada anak masing-masing. Teman ini, seperti saya, cuma punya seorang putri.  Menurut dia, sayang pada anak baiknya ditunjukkan dengan nyata. Salah satunya yang paling mudah adalah dengan memberi apa saja yang diminta sang anak.

Menolak? Jangan pernah. Karena, “Nanti dia menangis, merengek…. Saya tidak mau anak saya menangis,” begitu katanya. Saya tak setuju dengan pendapatnya. Tetapi karena tak ingin berdebat, saat itu saya diam saja. Biarlah.

Minggu lalu, saya bertemu dengan teman itu lagi yang sedang berjalan-jalan dengan seorang remaja putri, tinggi sekitar 162cm dan bobotnya mungkin berada di angka 90-an kilogram.  Agak terlalu berat untuk ukuran dan usianya. Setelah saya amati, ternyata, remaja itu adalah putri kesayangannya yang sepuluh tahun lalu begitu cantik, manis dan lincah. Sekarang berat, susah napas, tak bisa bergerak banyak.

Mungkin wajah saya yang tampak terkejut, membuatnya terpaksa berbisik, “Beginilah kalau tidak bisa melarang anak….” Menurut teman saya ini, anaknya menjadi tak bisa bergerak, sesak napas dan tampak kepayahan berjalan itu karena makannya tak bisa diatur. Pertanyaan saya kepada sang Ibu: mengapa tak bisa diatur? Teman ini merengut, “Habis, maunya makan yang goreng-goreng, semua yang manis, segala yang banyak lemak, gurih… Jadi begitulah! Sekarang belum 17 tahun sudah tinggi kolesterolnya. Ya, mau bagaimana lagi?”

Apa? Mau bagaimana lagi? Wah, ini tak boleh dibiarkan!

Si Ibu yang teman saya itu, saya geret ke kedai kopi. Kepadanya saya ceritakan hal yang pernah disampaikan oleh Ibu, menjelang melahirkan, dulu. Menurut ibu saya, sebagai ibu, kita harus mengatur anak. Sejak kecil, anak harus tahu bahwa orang tua akan memberi peraturan, pengarahan, yang semuanya ditujukan untuk kebaikan anak. Mulai dari makanan sampai jam tidur. Dari minuman sampai sopan santun.  Takut anak merengek dan rewel? Biarkan saja.  Kalau bukan kita yang mengatur, lalu siapa lagi yang bisa diharapkan? Siapa  yang mampu?

Ketika kita tak mau mengatur karena tak ingin mendengar ia menangis atau merajuk, apa yang terjadi? Tiba-tiba peran penentu aturan berpindah tangan. Anak yang tadinya harus diatur, berbalik mengatur kita. Bisa lewat rengekan, tangisan, amuk… Kita masuk dalam arus kekuasan anak. Mereka menguasai kita. Dan alih-alih berujung baik, kita malah membuat anak tak tahu lagi mana yang benar dan seharusnya dilakukan.

Rengekan dan tangisan yang melengking, memang tak enak di telinga. Tetapi itu biasa. Menurut Ibu, itulah cara pembelajaran penting: tidak semua tangisan dan rengekan membuat semua permohonan dituruti. Anak perlu tahu bahwa permintaannya tak baik, bahkan bisa merusak nantinya. Dan sebaiknya ia menangis sekarang ketimbang nanti, ketika segala sesuatunya jadi sulit diperbaiki, ketika mendadak sakit gula, jantung ….

Sayang bukan memberikan segala sesuatu yang diminta anak, tetapi memberi segala sesuatu yang diperlukan agar tumbuh kuat, sehat, lurus dan benar.

Sayang adalah mengatur, mengajar dan membimbing anak agar menjadi baik dan benar. Bukan membiarkannya menggelinding sendiri dan baru dipaksa berubah ketika segalanya telah terlanjur salah. Terlanjur rusak.

Sayang ada dalam ribuan tindakan yang kita berikan kepada orang terkasih agar ia tumbuh sehat, baik, dan benar. Bukan merusaknya.

Begitu menurut saya (yang meniru habis omongan Ibu).

*)pernah dimuat di http://www.preventionindonesia.com

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Sayang Adalah…

  1. renny Silfia says:

    terimakasih Mbak 🙂
    biar calon ibu seperti saya ini ngga jadi bingung kalau anak menangis.

    Like

    • rgaudiamo says:

      Kalau jadi Ibu, kau akan tahu mana tangis yang perlu diperhatikan dengan amat sangat, ada tangis yang dibiarkan saja. Anak adalah makhluk cerdas. Ibu, harus lebih cerdas lagi. Begitu kata Mak-ku, Ren. Apa kabar Inggris?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s