menolak melihat


Tulisan ini saya buat beberapa minggu selepas tahun baru. Ketika itu yang terasa adalah mendesaknya semangat baru muncul. Disusl oleh berlompatannya resolusi baru. Semua serba baru. Menyenangkan? Mestinya begitu. Tapi kenyataannya, tak terlalu membahagiakan. Tahun baru malah prihatin. Mengapa? Karena  selain ‘hal-hal baru yang menyenangkan tadi’, penyakit baru ikut muncul.  Dan langsung parah!

Terserahlah apa kata para ahli, saya menyebutnya dengan penyakit ‘buta’ baru. Berbeda dengan kebutaan yang selama ini kita kenal,  penyakit ini siap menyerang siapa saja. Tak pandang bulu dan tanpa gejala apa pun sebelumnya. Ting! Tiba-tiba penyakit itu langsung mendarat. Siapa pun bisa terjangkit. Anda juga! Tetapi yang menarik dari penyakit ini, ketika terkena mata masih bisa melihat seperti biasa. Sehat. Tetap bisa membaca, menulis dan beraktivitas seperti biasa. Begini, buta yang satu ini justru diidap oleh orang yang bisa melihat, bisa membaca, tidak ada gangguan di mata. Bahkan tak ada hubungannya dengan kondisi kesehatan mata -sehubungan dengan istilah kedokteran/kesehatan fisik. Bagaimana bisa?

Mari kita lihat bagaimana ciri mereka yang menderita penyakit baru ini. Pertama, mereka yang menderita penyakit ini kita temui di hampir semua ruas jalan raya. Besar, kecil, gang, bulevar: ada.  Perempuan, lelaki, dewasa, muda: semua bisa terjangkit.

Pertanda mereka telah mengidap penyakit ini: selalu melanggar rambu-rambu lalu lintas. Mata mereka seakan buta terhadap semua rambu itu. Lihatlah jalan di depan RS Cipto Mangunkusumo. Pagi, siang, malam, selalu saja ada motor atau bajaj yang melawan arus jalan yang searah itu dengan mantap! Kalau ditegur, mereka malah mengamuk. Lalu, pada tanda dilarang belok, justru di situlah terjadi putaran.  Rambu satu arah malah dibaca: silakan bolak-balik, mondar-mandir sepuasnya, lho! Tanda larangan seakan dibaca sebagai tanda anjuran: silakan, lakukan saja dengan riang gembira.

Awalnya, saya pikir penyakit ini hanya menyerang para pengendara motor. Ternyata mereka yang jadi buta terhadap lalu lintas justru semua orang. Supir bajaj, supir mikrolet, metromini, bahkan taksi dan mobil pribadi ikut melanggar. Sungguh mengesalkan. Atau mungkin tepatnya sungguh menakjubkan, karena bisa terjadi serempak begitu.

Suatu kali, saya melihat seorang pengendara motor melawan arus dan terserempet mobil yang datang dari arah benar. Alih-alih minta maaf karena telah menyusahkan orang, si pengendara motor mengamuk luarbiasa. Mobil yang sudah baik-baik mengikuti aturan lalu lintas malah digebrak-gebrak. Ketika kejadian itu saya laporkan pada suami, dia bilang begini, “Coba kita doakan orang yang buta rambu itu.” Heh, didoakan? “Ya didoakan supaya jangan keterusan mengidap penyakit ini. Semoga ia tersadar bahwa kesalahan ada pada diri sendiri, atau matanya jadi bisa melihat kembali dengan benar. Biar sembuh!” Oh, begitu ya? Baiklah bila begitu. Mulai hari ini, saya akan berdoa agar mereka yang menolak melihat tanda-tanda lalulintas itu bisa kembali melihat dengan baik dan benar. Doa, dimulai.

pernah dimuat di majalah Area, 23 Januari 2008

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s