ini kedaiku!


Sampai dua tahun lalu, setiap pagi hari, setelah mengantar anak ke sekolah, saya dan suami selalu mencari tempat nongkrong untuk ngobrol. Problemnya, ini bukan urusan mudah. Tak banyak tempat nongkrong yang asyik dan nyaman yang sudah buka di pagi hari.

Pilihan pertama: warung kopi pinggir jalan yang buka 24 jam (jadi mau dihampiri jam berapa saja sudah buka). Di warung pinggir jalan, kopi tersedia setiap saat. Tetapi tujuan utama mau ngobrol jarang bisa terlaksana. Letaknya yang selalu di pinggir jalan besar itu obrolan kami kalah melawan deru bajaj, motor dan sukses tertelah suara radio pemilik warung yang berteriak-teriak kencang. Protes? Sudah dicoba dan gagal. Pemilik warung tak rela  mengecilkan volume radionya untuk dua orang yang datang hanya buat ngopi dan ngobrol.

Pilihan kedua, kedai kopi yang berpendingin, di gedung perkantoran.  Tak ada deru bajaj, tapi upaya mengobrol juga jarang bisa berlangsung mulus. Gangguannya: jeritan penyiar radio atau lagu-lagu dari cd yang diputar para barista. Kencangnya bukan main, deh!

Suatu kali saya mampir ke sebuah kedai berpendingin yang sangat asri. Tapi begitu saya selesai memesan kopi, dan duduk manis, sang barista langsung memutar lagu dan jreng-jreng: suara James ‘Metallica’ Hetfield berkumandang, keras sekali! Saya tidak anti Metallica. Grup ini termasuk salah satu yang suka saya dengarkan karyanya. Tetapi -sayangnya- sekarang bukan saat yang tepat untuk itu.  Sekarang saya hanya mau mengobrol dengan suami. Membahas ini itu, dari yang remeh-temeh sampai yang heboh dan gawat. Maka saya minta volume dikecilkan. Lalu sekalian saya bertanya, mengapa ia memasang cd dengan volume maksimal, di pagi hari dan di saat pengunjung kedai kopinya hanya ada saya dan suami. Dengan muka masam, sang barista menjawab, “Ya, ini kan lagu kesukaan saya, Bu. Emang nggak boleh dengar lagu kesukaan?”

Aduh, kok saya bisa lupa, ya: ini kedaimu, tempatmu bekerja sambil bermain sekaligus menikmati lagu kesukaanmu dengan sesuka hati! Kalau saya datang ke kedaimu, maka saya harus terima apa yang kau lakukan. Kalau tak suka, saya harus tempat lain. Musik terlalu bising? Jangan ke mari. Ya, ini kedaimu. Bukan kedai tetamu yang ingin ngopi sambil baca, sambil meeting, sambil bekerja, sambil ngobrol. Bukan. Baiklah, kalau begitu, saya janji tak akan mampir lagi. Toh kami cuma pengganggu saja buatmu. Satu lagi: supaya benar-benar surut niat kami untuk mampir, janganlah repot-repot bikin promo harga atau bonus atau apalah yang menggoda. Jangan!

(Tiba-tiba teringat pada kedai kopi Café de Flore, di St-Germain, Paris yang nyaris tak terdengar lagunya, karena ingin para pengunjungnya ngobrol sendiri, asyik sampai kapan pun juga. Silakan, silakan…. ).

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to ini kedaiku!

  1. starbucks thamrin aja, mbak. isinya orang ngobrol semua 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s