pada hari minggu…


Hari Minggu adalah hari jalan-jalan se-Indonesia. Malah ada lagu khusus yang dibuat untuk hari itu, kan? “Pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota….”  Jalan-jalan ke mana? Mari kita lihat tempat tujuan wisata keluarga Jakarta.

Yang pertama,  Kebun Binatang Ragunan. Rasanya semua orang tua merasa perlu mengajak anaknya ke tempat ini. Berdesakan, tak soal. Banyak pasangan bergulingan di rumput, biar.  Suasana hutan berubah jadi panggung dang-dut, tak apalah. Yang penting, anak bisa lihat aneka satwa, pulang beli bola dan topeng dari karton yang entah berbentuk apa.

Tujuan berikut, ada di Utara Jakarta: Ancol, Dufan, Gelanggang Renang dan Samudra juga padat merayap. Di timur, ada anjungan-anjungan di TMII yang biasanya sepi di hari-hari lain, menjadi ramai dipenuhi pengunjung pada hari Minggu.

Tapi, itu kondisi beberapa tahun lalu. Sekarang, lain.  Kalau ingin dianggap tahu tren, lupakan Ragunan, Ancol, TMII, apalagi museum. Arahkanlah langkah Anda bersama keluarga ke mal. Setiap Minggu, hampir setiap restoran di mal, penuh –kecuali yang kebangetan buruk layanan dan rasa makanannya. Butik pakaian, padat. Penjaga gerai kosmetik mendadak sibuk. Hari Minggu, mal hidup jadi hidup oleh langkah lalu-lalang ayah ibu, anak-anak, baby sitter…. Mal: arena bermain baru.

Di sini -mal- telinga pekak oleh jerit  dan teriakan anak-anak yang menganggap mal adalah arena bermain –terang, luas karena bisa dipakai main kejaran dan sepatu roda segala, dan banyak jajajan. Mal adalah ‘taman’ bagi pasangan kekasih untuk berpelukan dan  berciuman di escalator atau pojok cafe. Mal menjadi tempat kakek-nenek bertemu anak dan cucu. Mal adalah kedai kopi tempat bapak-bapak menanti istrinya belanja dan anak naik kereta atau bertualang di toko mainan. Mal menjadi ruang pamer baju baru atau potongan rambut terkini. Mal jadi perpanjangan ruang bayi dan anak. Ibu-ibu bangga menggendong  cucu mereka yang belum genap 40 hari, tak peduli ada banyak orang lalu lalang batuk dan bersin dan menyebarkan penyakit di sekitar mereka. Mal adalah tempat mempertontonkan  cinta kasih –meski yang dicintai harus naik kursi roda atau kereta dorong.

Sampai kapan kebiasaan ini berlangsung? Menurut perkiraan saya, pasti   akan terus, lama. Bosan dengan mal ini, ada mal baru yang tumbuh di seberang jalan. Begitu terus. Jarak antara satu mal dengan yang lain makin dekat dan rapat saja. Sementara koridor yang ada di dalam mal dibuat lebar. Sehingga kita akan melihat lebih banyak kursi roda atau kereta bayi (berikut para pengasuh yang pecicilan mengiringi kereta terkait) seliweran.

Hmmm, jangan-jangan sudah waktunya ada versi baru lagu Pada hari Minggu itu. Mungkin baiknya berbunyi, “Pada hari Minggu kuturut ayah ke mal…”

😀

pernah dimuat di majalah Area, 19 Maret 2008

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s