Ada Apa di Hari Ini?


Ketika bangun pagi ini, pernahkah Anda bertanya, apa yang menanti di hari ini? Sebuah cerita sukses yang pantas dikenang malam nanti, atau masalah yang bakal mengganggu hingga esok tiba? 

Seminggu lalu, seorang teman bercerita tentang pengalamannya pada suatu hari. Begini…
Bangun pagi, ketika ia bangun, yang ada di kepalanya adalah pertempuran yang akan dihadapi bersama para satpam di kantor –yang menurutnya bersikap asal, tak kenal senyum, dan cenderung kurang ajar.

Dengan bekal itu dia berangkat kerja. Begitu tiba di tempat tujuan, yang ia bayangkan terjadi. Bahkan lebih buruk dari yang ada di kepala sebelum berangkat tadi. Sehari itu, hatinya tak karuan. Seminggu itu ia sakit kepala. Sungguh sayang: sekian ratus jam terbuang dengan pikiran kusut, hati panas.

Cerita teman tadi langsung mengingatkan saya pada nasihat seorang teman lama, Frisca Saputra. Teman ini –menurut saya—luarbiasa sabarnya. Melihat masalah yang ada di depan mata, dia berhak naik darah sejak bangun tidur. Bahkan boleh dimulai dari mimpi di malam sebelumnya. Tetapi dia tetap tenang. Seperti aliran sungai kecil yang mengalir di depan kompleks rumahnya, di Bogor sana.

Sebagai orang yang bersumbu pendek –gampang meledak di saat tak terduga—saya merasa perlu mencuri ilmunya. Ia menjawab dengan sebuah peristiwa yang ia alami di  masa kanak-kanak dulu. Dari sana, saya belajar satu hal: bahwa hal buruk yang menggelora di kepala dan hati, harus dibasmi sesegera mungkin. Kekesalan yang terasa di hati, bila dibiarkan akan membuat kita panas. Dan ketika panas itu membungkus seluruh tubuh, ia akan memancar ke luar, memanggil ‘panas’ yang lain untuk bergabung. Kalau sudah begitu, malapetaka yang besar akan muncul, mengejutkan dan pasti merugikan.

Lantas saya ingat berbagai peristiwa yang pernah menimpa saya, suami dan putri tercinta. Dan ia benar: semua berawal dari kekesalan saya yang ujug-ujug muncul di pagi hari lalu saya biarkan membahana. Sejak saat itu, saya mencoba –dengan sekuat tenaga—menghilangkan rasa tak karuan di saat bangun pagi. Awalnya, tak mudah karena pada malam harinya saya punya sisa-sisa urusan yang belum selesai. Sehingga ketika bangun, hati tetap kusut. Apa yang harus dilakukan? Kusut dan masa itu harus selesai sebelum tidur. Belum selesai, ya saya tak tidur.

Kembali kepada teman yang berurusan dengan satpam tadi, nasehat Frisca saya bagikan. Berharap ia bisa menerapkannya sesegera mungkin. Sungguh sayang, bila hari yang diberikanNya kepada kita rusak begitu saja, dan merusak hari-hari lain yang menyusul di belakang.

Dua puluh empat jam sehari yang kita terima sampai sekarang adalah hadiah yang luarbiasa. Apa yang ada di dalamnya, tanggung jawab kita. Apa yang terjadi di belakang adalah upah perbuatan kita sendiri.

Jadi ada apa hari ini?
Kita sendiri yang paling tahu jawabnya.

*tulisan ini pernah dimuat di majalah PREVENTION INDONESIA

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s