belajar MEMILIH


Kemarin saya bertemu dengan seorang teman setelah lebih dari setahun tak jumpa. Penampilannya begitu berbeda dari yang saya ingat, sehingga sempat saya ragu menyapanya. Dia jadi lebih muda dan segar. Juga langsing.
Cerita punya cerita, dia mengaku berhasil menurunkan sampai hampir 10 kilogram. Hebat! Tetapi teman saya bilang itu hanya akibat dari kehebatan yang lain. Apakah itu?“Saya mengatur makan dan olahraga. Berat badan yang turun, cuma bonus,” katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh. Atur makan? Wah, ini hal baru karena setahu saya, teman yang satu ini pantang menahan diri kalau sudah sampai di urusan makanan. Buat dia, makan enak itu kewajiban –tak peduli apa menu dan kandungannya. Kok bisa berubah? Teman ini mengaku penyebabnya adalah majalah Prevention.

“Sejak baca majalahmu, aku merasa harus melakukan sesuatu. Apalagi setelah lihat sepupuku kena stroke di umur 38 tahun. Masih muda, jalan masih jauh, kalau ditempuh dengan badan yang tidak fit, sakit-sakitan, apa enaknya?” kata teman yang bekerja sebagai sekretaris direksi sebuah perusahaan minyak ini. “Aku takut anak-anakku yang masih kecil itu hidup susah karena sehari-hari hidup bersama ibu yang penyakitan, mengeluh melulu.”

Lalu mulailah ia mengatur makanan yang masuk ke dalam tubuh. Beratkah? Dengan enteng dia bilang tidak. “Kamu tahu kenapa nggak berat? Lha, kan di majalahmu sendiri yang bilang, kalau kita memilih sesuatu karena kesadaran dan suka, maka semua enteng. Tetapi kalau kita melakukan sesuatu karena disuruh atau karena menuruti larangan, pasti berat. Rasanya kok hidup terkekang, sengsara karena makan ini nggak boleh, itu dilarang….”

Dr. Tan Shot Yen, salah satu penasihat majalah Prevention, memang pernah mengatakan hal tersebut di salah satu edisi. Ketika kita dilarang melakukan sesuatu, maka yang terasa adalah gejolak untuk melawan larangan itu. Rasanya kita punya sejuta alasan untuk melanggarnya. Tetapi sungguh berbeda hasilnya bila kita justru memilih untuk tidak melakukan sesuatu.  Kita tak merasa perlu tergoda untuk melanggar, karena itu pilihan sendiri. Bukan dipilihkan, bukan dilarang.

Membuat pilihan itu hak semua orang. Dan kalau kita memilih sehat, maka larangan hilang. Yang tertinggal hanya kesungguhan hati menjalani pilihan.

Nah, selamat membuat pilihan.
Dan semoga Anda memilih hidup sehat.

*pernah dimuat di majalah PREVENTION INDONESIA

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to belajar MEMILIH

  1. Vica says:

    posting bagus mbak, terutama karena ada tips diet/hidup sehat. Mungkin perlu saya praktekkan untuk suami nih. Pilihan selalu ada, tergantung bagaimana kita berketetapan pada pilihan yg telah kita ambil. Bener ga sih?

    Salam kenal 🙂

    Like

    • rgaudiamo says:

      Semoga sekarang sudah berhasil mengajak suami hidup lebih sehat.
      Pilihan selalu ada. Kita yang menentukan: mau pilih yang mana, baik yang mana –untuk diri sendiri dan untuk keluarga. Baik untuk hari ini dan untuk masa depan…. Pilihan, sekali lagi, ada di tangan kita. Salam sayang dari Jakarta buat Vica dan keluarga.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s