memilih SENDIRI


Ini masih soal pilihan.
Kalau minggu lalu kita bicara bahwa membuat pilihan itu penting –karena pasti berdampak pada sikap selanjutnya, maka kali ini kita bicara soal bagaimana pilihan itu dibuat.Begini, tiga bulan yang lalu, saya berkenalan dengan sekelompok perempuan muda. Dari omong-omong kami, saya mendapat kesan, bahwa mereka sangat bersemangat menjalani hidup sehat. Secara serempak mereka mengaku berolahraga secara teratur, makan yang baik dan benar, menjauhi kebiasaan buruk bagi kesehatan. Dan itu membuat saya kagum. Di umur mereka, saya justru sedang kacau-kacaunya dalam urusan kesehatan. Makan tak teratur, dan yang dimakan pun tak jelas bentuknya.

Waktu berlalu. Dan akhirnya saya bertemu lagi dengan salah satu dari tim perempuan muda sehat itu. Tanpa basa-basi, saya tanyakan kabar dan apakah masih setia dengan pilihan hidup sehat itu. Nah, inilah jawaban yang saya terima, “Wah, ke laut, Bu!” Oh, bagaimana bisa?

Ternyata dari kelompok empat perempuan muda itu, ada satu yang mendadak pindah tugas ke Bali. “Sialnya dia tuh yang paling semangat. Jadi setelah dia nggak ada, kami kehilangan mesin penggerak….” Lho, jadi pilihan hidup sehat kemarin itu bukan pilihan sendiri?

“Itu pilihan kami. Saya juga memilih sehat. Tetapi setelah dia pergi, tidak ada yang menyemangati, satu persatu rontok. Kami jadi malas dan akhirnya kembali ke kebiasaan lama,” begitu cerita yang saya terima.

Sayang sekali….

Cerita teman muda itu membuat saya prihatin. Menurut saya, ketika kita memilih melakukan hal yang baik dan hasilnya pun luarbiasa, harusnya kita terus menjalaninya dengan tekun. Ada atau tidak ada tim penggembira.

Kalau segala sesuatunya dijalani dengan embel-embel ada supporter, bagaimana jadinya nanti? Tidakkah itu merepotkan ketika supporter tak lagi berminat menemani?

Untuk hal-hal yang baik dan jelas bermanfaat, mengapa pilihan harus disertai dorongan teman? Mengapa tak mengatur pikiran sendiri dan mengatakan: ini jalan yang kupilih, aku suka dengan pilihan ini. Aku akan jalani selalu, ada atau tidak ada teman.

Ya, sama seperti saat kelaparan. Apakah untuk mengisi perut sendiri harus selalu bersama teman? Kalau tak ada teman yang bisa diajak ke warung, apakah itu berarti kita akan memilih kelaparan? Tentu tidak, kan?

Jadi ketika memilih, pilihlah untuk diri sendiri. Lalu jalanilah sendiri. Bahwa ada orang yang ikut serta, bagus. Tetapi ketika orang itu tak ada lagi, teruslah teguh dengan pilihan sendiri. Tak usah ikut-ikutan berhenti.

Ini hidup kita.

Ini pilihan kita. Lengkap dengan risiko dan manfaatnya.

Begitulah.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s