The Day I Moved My Body


Kalau kita bertemu 20 tahun lalu, Anda akan berkenalan dengan Reda yang anti olahraga. Anti? Betul. Dan itu terjadi tanpa disadari tapi kemudian dinikmati. Bagaimana bisa? 
Ceritanya begini, sekitar 19 tahun lalu, usai melahirkan putri tercinta, saya disarankan agar tidak buru-buru olahraga, minimal sampai 6 bulan ke depan. Saran ini saya jalankan dengan taat. Tetapi waktu 6 bulan itu ternyata berlangsung cepat dan tak terasa sudah terlampau sampai setahun, dua tahun, tiga tahun.

Tidak olahraga sementara makan sesuka hati tentu membawa akibat pada ukuran tubuh dan perut, bukan? Nah, setiap kali ada yang bertanya, saya kok bisa-bisanya menjawab: “Belum boleh olahraga, habis operasi Caesar!” Hebatnya lagi, orang yang bertanya kok ya mau-maunya menerima alasan itu. Padahal, setelah orang itu berlalu, saya langsung ingat kalau alasan itu sudah kadaluwarsa sekali!

Hal ini berlangsung terus, sampai putri saya berusia 7 tahun (jadi saran itu sudah kebablasan 6,5 tahun!).  Dan mungkin akan terus begitu, kalau saya tak bertemu dengan mantan guru olahraga saya, Ibu Tinneke.

Entah ada angin apa, tiba-tiba ibu guru yang hebat ini lewat di depan rumah saya. Kaget melihatnya berlalu, saya panggil, ia masih ingat pada muridnya ini, dan akhirnya mampir. Kami lantas bercerita soal ini dan itu, juga soal bagaimana ia bisa sampai ke daerah rumah saya yang jauh dari tempat tinggalnya itu. Ternyata dia mencari keluarga jauh yang kebetulan tetangga keluarga kami.

Dirasa cukup pertemuan kami, Ibu Tinneke pamit. Saya mengantarnya sampai ke jalan tempat tinggal keluarganya itu. Nah, sambil berjalan itulah ia bilang begini, “Kamu tuh umur berapa sih? Tiga puluhan, kan? Tapi perut kok sudah melendung begitu, padahal kau tidak hamil kan?” Dengan berat saya menggeleng.

“Tidak olahraga juga?” tanya Ibu Tinneke lagi. Saya menggeleng lagi, “Kenapa?” Aduh, saya tak punya alasan. Ya, kenapa saya tak olahraga lagi, ya?

“Kamu tuh mustinya malu sama aku, umurku sudah 60 tahun, punya anak tiga, tapi perutku lebih rata dari perutmu!” katanya sambil menepuk perutnya yang memang lebih kencang dan rata dibanding perut saya.
“Tapi Ibu kan guru olahraga! Jelas perut Ibu lebih rata dari perut saya.” Mendengar jawaban saya, Ibu Tinneke melotot, “Eh, ini tidak ada urusannya dengan profesi jadi guru olahraga! Ini soal mau gerak atau tidak. Mumpung badanmu masih bisa diatur, sana olahraga! Masak badanmu yang baru 30 tahun di dunia ini kalah sama badanku yang dua kali lipatnya?”  Percakapan kami berhenti di situ, karena rumah keluarganya sudah ada di depan kami.

Sambil berjalan pulang, saya pikirkan betul omongannya. Sampai di rumah, saya berkaca. Aduh, memang buncit betulan perut saya ini! Ya, tampaknya waktu berolahraga sudah tiba.

Esok harinya, saya putuskan untuk bergerak. Cara termudah: jalan kaki. Meski bangun pagi tidak mudah, saya paksakan diri. Eh, ternyata suami memperhatikan juga. Tanpa diminta, ia lantas menemani. Malamnya, badan terasa patah-patah (padahal cuma jalan kaki seputar kompleks!). Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya bisa tidur lelap.

Ah, berarti kegiatan ini harus diteruskan. Tak ada alasan lagi untuk berhenti. Dilarang!

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s