What we can do..


Sudah dua hari ini saya berada di Bali dalam urusan kerja. Melihat jadwal kegiatan, saya menemukan celah kosong untuk bertemu dengan beberapa orang teman. 

Satu yang benar-benar saya tuju adalah seorang teman yang belum lama pindah ke Bali. Saya sangat ingin tahu apa yang membuatnya memutuskan pergi dari Jakarta, kota yang membesarkan dan memakmurkannya.

Setelah buat janji, akhirnya kami putuskan untuk bertemu. Tadi malam.
Begitu masuk warung yang tak terlalu besar itu, saya mencari-cari. Tak ketemu. Saya telepon, dan berdirilah ia. Menyeruduk dan memeluk saya!

Saya tak mengenalinya!
Apa yang terjadi? Teman tercinta ini ternyata tampak begitu beda dari sosok yang saya kenal selama ini. Lepas dari sarung dan blusnya dan sandalnya yang sangat ‘Bali’ (di Jakarta dia selalu pakai blazer dan rok ketat dan sepatu hak tinggi dan rambut di-blow mantap): ia tampak sangat segar! Sekali!

Di Jakarta, hampir tak pernah saya melihatnya berwajah cerah. Meski dandan, ia tampak suram. Saya bahkan memanggilnya Miss Grumpy. Sekarang, saya boleh menyebutnya Miss Happy!

Bagaimana bisa?
Semua berawal dari liburan seminggu di Bali. Ternyata setelah seminggu lewat, ia jadi merasa betah. Tak mau pulang. Ujung-ujungnya, ia memutuskan berhenti bekerja, dan cari peluang bisnis di Bali. Berhasil!

Tetapi soal tampak lebih sehat itu, bagaimana caranya?
Ia cerita keberangkatannya ke Bali semua karena stres pekerjaan. Di sini, ia tenang, meski tetap bekerja keras. Kuncinya pada sikap menerima, katanya. Di Bali, dengan kondisi sekarang, pendapatannya tak tentu dan jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan gaji di Jakarta. Tetapi, mendadak di sini ia merasa tak perlu punya banyak uang. Sepanjang cukup, sudah baik. Sepanjang senang, sudah hebat. I am so happy for her.

Tak semua orang bisa seberuntung teman saya ini. Tak banyak di antara kita punya kesempatan untuk beralih mendadak di saat yang tepat. Tetapi saya yakin, meski belum bisa putar haluan, kita tetap –harusnya– bisa membuat hari-hari terasa lebih baik. Bagaimana?

Mulai memilah mana penting dan mana tidak.
Mulai belajar menerima apa yang ada dan mensyukurinya.
Mulai bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan.

Anda boleh bilang: easy said than done.
Dan saya akan membalas: kita tahu bisa atau tidak sebelum menjalaninya.
Bagaimana kalau kita coba bersama sekarang?
Saya ingin bisa melakukan itu.
Anda juga kan?

Ayo!

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s