pagi, ke sekolah: aman


Saya tinggal di sebuah gang sempit, di belakang sekolah. Setiap pagi, kalau hendak berangkat ke kantor, maka yang harus selalu saya lakukan adalah menyeberangi jalan kecil yang ada di samping sekolah.

Menurut aturan lalu lintas, ini jalan satu arah. Arus kendaraan hanya boleh melaju dari Timur ke Barat.  Rambu yang mengacu pada aturan ini pun sangat jelas dan banyak. Jadi, kalau sampai ada yang tak melihatnya, kebangetan. Tetapi, apa daya, setiap hari saya harus melihat ke kiri dan ke kanan kalau tak ingin diserempet motor atau bajaj dan bahkan mobil roda empat dari arah yang salah.

Mengesalkakan? Memang. Tapi sudahlah, untuk keamanan diri sendiri, saya yang sudah dewasa (banget) ini, cukup bisa jaga diri. Setidaknya, bisa menghindar -sedikit dua sedikit- dari kemungkinan  membahayakan diri sendiri apalagi orang lain. Saya tidak terlalu khawatir. Tapi ada satu hal yang bikin lutut selalu dingin, ngilu dan jantung bedebar lebih cepat terkait dengan arus lalu lintas yang huru hara di dekat rumah ini. Begini, di sebagian besar dari kendaraan yang melawan arus sesuka hati itu -motor, bajaj, mobil- adalah kendaraan yang dikemudikan oleh ayah ibu yang mengantar anaknya ke sekolah dekat rumah saya itu.

Sudah lebih dari sepuluh kali saya lihat sendiri bagaimana motor dan motor yang dikemudikan ibu atau ayah dengan anak di boncengan atau di depan, beradu. Anak-anak yang dibonceng ada yang tumpah ke jalan. Menangis. Orang tua saling tuding, menyalahkan. Huru-hara! Terlambat tiba di sekolah jadi tak penting lagi karena sekarang semua sibuk mengurusi luka dan cidera masing-masing. Dan anak yang menangis bukannya ditolong, tapi dimarahi, disuruh diam. Jangan berisik. Luarbiasa!

Bapak Ibu, tangisan anak itu adalah tumpahan rasa sakit, sedih, takut atas kejadian yang menimpa mereka. Bukan berisik dan bukan manja dan apalagi cengeng.

Bapak Ibu, anak-anak berhak mendapatkan rasa aman dari Anda berdua. Mereka bukan barang, yang tinggal ditenteng naik kendaraan. Mereka punya rasa, mereka bisa takut, stress, panik. Semangat yang perlu diingat ketika mengantar anak ke sekolah adalah memastikan anak tiba di sekolah DENGAN SELAMAT. Tidak terlambat, penting. Tapi SELAMAT itu yang utama.

Anak itu buah hati, katanya. Maka perlakukanlah sebagaimana mestinya. Jaga dengan baik, dengan cinta. Beri perlindungan yang baik dan benar. Buatlah ia aman dan selamat selalu. Anak-anak tidak pernah jadi orang dewasa, tapi kita orang dewasa pernah jadi anak-anak. Jadi gunakanlah pengalaman itu untuk menjaga anak-anak tercinta. Dia harus aman. Selamat. Jangan biarkan ia takut, ia khawatir, panik.

Semoga Bapak Ibu sepakat.

Dan dengan sepakat, berarti mulai Senin besok, kegiatan mengantar anak akan berpusat pada keselamatannya, keamanannya, ketenangan hatinya. Bukan seberapa cepat mencapai gerbang sekolah.

Tentu untuk menciptakan perjalanan yang aman dan nyaman ada hal-hal yang perlu diubah: seperti bangun lebih pagi (maka tidurlah lebih cepat), mandi dan sarapan yang praktis dan cepat…. Tetapi semua itu soal kecil dan bisa dilakukan sepanjang kita sepakat -sekali lagi- keamanan anak adalah segalanya.

Bukan begitu, Bapak Ibu?

A mother driving with her children

 

 

 

DATA BERKATA:

1. Kecelakaan motor pada anak-anak lebih besar resikonya 26 kali lipat daripada kecelakaan motor orang dewasa

2. Data dari World Health Organization (WHO) 2011 diketahui jumlah anak meninggal akibat kecelakaan lebih besar dari pada orang dewasa. Setiap tahun ada 1,2 juta nyawa anak hilang di jalan. 

-Data dari Konferensi Anak Indonesia 2012

Bapak Ibu, luangkanlah waktu untuk membaca tulisan ini juga:

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s