Every day: Valentine’s Day


Sudah hampir setahun ini saya mendapat  kesempatan siaran di VRadio, di acara Ngopi Sore, yang sebetulnya lebih tepat disebut Ngopi Malam, karena siarannya berlangsung dari jam 7 sampai 8. J

Nah, pada satu Senin malam, saya siaran dua hari setelah hari Kasih Sayang lewat.  Rasanya masih relevan kalau pada malam itu saya membahas soal hari penuh cinta itu.

Buat saya, hari Kasih Sayang itu menarik. Karena hari itu tampak begitu istimewa buat banyak orang. Persiapannya sama serunya dengan hari Natal atau Tahun Baru. Jauh-jauh hari, sepasang kekasih akan sudah membahas hari yang satu ini. Ada acara istimewa. Ada hadiah yang tak berhubungan dengan ulang tahun. Ada ucapan yang disusun dengan serius. Semua untuk tanggal 14 Februari. VRadio 106.6FM saja habis-habisan memutar lagu cinta sejak sehari sebelumnya dan berlangsung hingga sehari setelahnya. Jangan ditanya permintaan lagu yang berkaitan dengan tema ini. Bertubi-tubi banget deh.

Bagaimana saya merayakan Hari Kasih Sayang yang baru lewat? 

Pada hari Kasih Sayang Sedunia itu, saya berada di Balikpapan. Dan lupa kalau hari itu hari istimewa.  Totally forgot.  Tanggal 14 Februari 2014 menjadi hari Jumat biasa. Tidak lebih dan tidak kurang. Saya bahkan lupa kalau pada hari itu tanggal 14 Februari –kalau ini sih emang kebangetan, ya. Hahahahaha….

Tapi sebentar….Saya punya alasan mengapa bisa lupa pada tanggal 14 Februari ini.

Bagaimana saya bisa tidak ingat bahwa itu adalah hari yang perlu dirayakan oleh siapa pun yang percaya pada cinta, itu ada penyebabnya. Dan yang menyebabkannya adalah….. suami saya. Betul, dia yang jadi pacar selama hampir 7 tahun dan sudah bersama dalam ikatan perkawinan selama 23 tahun, adalah biang keladinya.

Apa yang ia lakukan?

Apakah ia anti hari kasih sayang?

Tidak suka warna pink?

Hmmmm, nggak ada hubungannya dengan itu. Justru sebaliknya. Termasuk warna pink.

 Lalu apa?

Begini….

Duluuuuuuuuu sekaliiiiii, ketika kami pacaran dulu, dia justru amat sangat ingat pada hari Kasih Sayang. Ya, mungkin karena saya juga sih yang rajin ngingetin. Sebulan sebelumnya –ya, sebulan sebelumnya—saya sudah woro-woro akan adanya hari Valentine itu. Tepatnya sih memberi penjelasan secara historis tentang keberadaan hari itu, dilengkapi petunjuk praktis dan persis apa yang harus dia lakukan.  Mengapa harus dilakukan? Karena dia bukan orang yang suka merayakan hari-hari model begituan –kecuali hari Raya Keagamaan. Wong ulang tahunnya sendiri dia tidak ingat, kecuali pas harus mengisi formulir. Hebat kan?

Nah, entah dia ingat omongan saya, atau mengingatkan diri sendiri, di masa pacaran kami itu, hari Valentine jadi super istimewa. Dua tiga hari sebelumnya, dia sudah buat teaser…. Ada kartu-kartu kecil yang diselipkan di buku, di tas…. Setiap kartu berisi puisi pendek buatannya. Keren-keren. Dia memang jagoan buat puisi. Nggak kayak saya, yang lebih suka bikin cerpen panjang-panjang.

Dan di hari valentinenya, ada kartu besar. Warna pink. Ada bunga juga. Kartu besar ini, seperti juga kartu-kartu kecil itu, dia buat sendiri. Sama amplopnya. Duh, super duper romantis, deh.

Pacaran tujuh tahun, saya mengalami prosesi Valentine yang pakai teaser segala itu. Begitu menikah, saya tetap mengingatkan seminggu sebelumnya, bahwa akan tiba hari istimewa buat pasangan kekasih sambil membayangkan pada waktunya nanti, akan muncul kartu yang lebih dahsyat, bunga yang lebih gemebyar.

Tetapi, harapan tinggal harapan. Pada tanggal 14 Februari, beberapa bulan setelah kami menikah, kartu buatan sendiri taka da. Bunga raib. Coklat? Apalagi! Tidak ada kabar beritanya, tidak ada tanda-tanda kedatangannya Lupa? Nggak mungkin. Lalu apa? Setelah menunggu seharian, dan malam tiba juga tidak ada ajakan candle light dinner, saya gak tahan lagi. Bertanya kepada suami tercinta, “Kamu lupa ya hari ini hari Valentine?”

Tahu jawabannya? Dia bilang, “Nggak kok, nggak lupa. Aku tahu ini hari kasih sayang,” sambil senyum-senyum dan merokok santai. Lho, kalau nggak lupa, kenapa nggak ada bunga, nggak ada kartu, nggak ada candle light dinner? Di mana letak ‘nggak lupa’ nya? I don’t get it, Darling! Jujur sih, waktu itu hati berasa kecewa bianget. Nggak lupa, tapi kok nggak kasih apa-apa? Bohong banget deh ini….

 Mungkin muka saya waktu itu kelihatan nggak oke banget,  sehingga suami langsung mengelus kepala saya dan katanya, “Betul aku nggak lupa ini hari Valentine. Ini hari kasih sayang. Hari besar buat pasangan kekasih.  Tetapi aku nggak mau merayakannya di hari ini.” Maksudnya?

“Oh, ada yang kurang, maksudku, aku tidak mau merayakan kasih sayang di hari ini saja. Aku mau merayakannya setiap hari. Kita sudah pacaran tujuh tahun, sekarang sudah menikah, sebentar lagi anak lahir, itu kan harus dirayakan. Setiap hari yang kita jalani, adalah hari kasih sayang. Jadi, sebagai pasangan kita pantas merayakan setiap hari yang kita lalui bersama sebagai hari kasih sayang?” Hati saya melompat. Muka saya, rasanya waktu itu merah. Saya jengkel sekali.

Menurut saya –waktu itu- apa yang disampaikan suami itu adalah alasan cerdas alias pinter-pinternya dia ngomong.  Saya berkeras, bahwa di luar setiap hari yang penuh kasih sayang, pantaslah bila ada hari super kasih sayang, yaitu tanggal 14 Februari. Tapi dia balik menjawab, “Kenapa harus ada hari super kasih sayang? Apa perlunya? Bagusnya setiap hari kita anggap hari super kasih sayang,…”

Malam itu kami makan di rumah. Tak ada coklat, tak ada menu spesial. Cukup nasi Padang saja, beli di warung, di makan di rumah sambil nonton televisi. Cakep banget dah. 

Lewat beberapa hari, urusan hari Kasih Sayang masih belum hilang dari pikiran. Omongan suami masih saja berputar di kepala.  Meski masih kurang senang tak ada kartu dan bunga dan makan malam istimewa, jujur saya terpaksa mengakui bahwa apa yang dijabarkan suami benar adanya. Sangat benar

Setiap hari, buat pasangan suami istri, haruslah jadi hari Valentine. Setiap hari, adalah hari kasih sayang. Merayakannya, setiap hari. Mensyukurinya, setiap hari.

PR saya dan suami adalah bagaimana menjadikan setiap hari itu sebagai hari kasih sayang. Jujur-sejujur-nya, itu nggak gampang.  Tetapi kasih sayang membantu kita untuk bisa jalan terus.

Bahasan sehalaman ini sama sekali tak tidak berniat membuat semua orang berhenti merayakan Valentine’s day tahun depan. Sama sekali tidak. Sebaliknya, saya ingin kita semua ingat, bahwa setiap hari baiknya kita jadikan hari kasih sayang. Penuh cinta. Penuh sayang. Jadikan setiap hari lebih baik dari hari kemarin.

Karena ketika kita memilih dia menjadi pasangan, ketika itu juga kita sebenarnya sudah sepakat untuk menjalani hari-hari penuh cinta, kasih, tanpa henti. Hingga akhirnya hari-hari itu habis.

Sulit?

Image

Saya sih nggak bilang itu gampang (catatan selama 23 tahun menguatkan pernyataan saya 🙂 ) Saya berani jamin, setiap hari ada saja hal menarik muncul. Tapi yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya. Penyelesaiannya sangat tergantung pada semangat yang ada di hati. Mau jadi bahan ribut atau memperkaya hati dan menjadikan ikatan kita bersamanya lebih kuat lagi (ini juga pelajaran yang saya dapat dari suami).

Sampai di sini setuju, kan?  Bila ya, mari kita pikirkan bersama. 

Happy Valentine Day: today, tomorrow, forever.

 

 

 

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Every day: Valentine’s Day

  1. Tuty says:

    Everyday is mother’s day, father’s day too. Semoga anak2 kita nggak memperlakukan kita secara istimewa setahun sekali aja…
    Pokoknya setelah menikah, the “incurable romantic” jadi tiba2 sembuh.. Red. 🙂 Ajaib kan kontrak seumur hidup ini?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s