Kepada Bapak dan Ibu yang telah terbang ke negeri Malaikat,


-tulisan ini pernah muncul di Facebook beberapa tahun lalu. malam ini saya mengirimkannya untuk sahabat saya, Anna Oesmani. 

Tahukah Bapak, tahukah Ibu, pada hari kepergian kalian, mendadak ada lubang di hati kami. Awalnya hanya setitik saja. Tetapi semakin hari, semakin menganga. Tak pernah ada upaya yang berhasil membuatnya tertutup. Rasanya, semakin besar usaha kami lakukan, semakin lebar saja dia….

Bapak dan Ibu, pada hari kalian pergi, orang datang berkumpul, berkata bahwa duka akan menguap, hilang dan hari-hari selanjutnya akan kembali seperti sedia kala.

Hari ini, setelah begitu banyak hari terlewati, kami tahu, bahwa duka itu tak pernah terbang dan hilang dan semua kembali seperti sedia kala.

Bapak dan Ibu, ketahuilah hati ini sudah berubah bentuk. Tak lagi utuh seperti saat kita masih bersama. Kepergian itu yang membuatnya begitu. Tetapi mungkin memang baiknya kami biarkan lubang itu tetap terbuka. Karena mengingatkan betapa besar kehilangan kami.

Image

Bapak dan Ibu, ketika kalian pergi, rumah mendadak sepi. Tetapi kemudian kami pun tahu, bahwa pada dasarnya kalian hanya pergi dari rumah. Di hati, di pikiran, kalian tetap ada. Bahkan lebih berjaya dari masa-masa kita bersama. Mendadak kami ingat pesan kalian yang tak jelas terdengar ketika kita masih bersama. Mendadak semua perintah, cerita, aturan, datang menggulung, masuk dan tinggal menetap. Lebih dahsyat lagi:  mendadak kebiasaan kalian kini jadi kebiasaan kami.

Kami menjelma kalian: Menyerap semua yang ada padamu, Ibu. Tanpa bisa mengelak, menjadi kau, Bapak. Terjadi begitu saja, tanpa terasa.

Dengan kemampuan terbatas, kami menduga-duga sendiri: mungkin memang inilah satu-satunya cara agar kita bisa terus berdekatan. Beginilah cara kita mengerti bahwa kepergian itu justru membuat kita semakin dekat. Terikat erat.

Jadi Bapak, Ibu, kalau pada suatu hari kalian melihat kami menangis, tak usah khawatir: lubang yang ada di hati itu agak sedikit meradang karena rindu yang tak tertahankan. Itu saja.Terlupakan? Tak akan pernah.

Kalian selalu bersama kami. Hingga kapan pun.

Selalu,

peluk sayang dari anak-anakmu di sini

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Kepada Bapak dan Ibu yang telah terbang ke negeri Malaikat,

  1. Laily Lanisy says:

    Hi, mbak Reda..
    Terima kasih sudah mampir ke lapak saya dan me-like, cerpen “Bu Kar dan Bung Aznen Yang Terhormat..”
    Tulisan-tulisan mbak Reda di blog ini bagus-bagus. Senang membacanya.
    Salam,
    Laily Lanisy

    Like

    • rgaudiamo says:

      Mbak Laily,
      Saya amat-sangat menyukai tulisan Mbak. Dulu, saya selalu menantikan Femina, berharap bisa bertemu dengan tulisan Mbak.
      Dan sekarang Mbak mampir di sini, suka tulisan saya, ampun rasanyaaaaa…. Bulu badan berdiri, tak menduga, penulis pujaan membaca tulisan saya.
      Mbak, terima kasih sekali lagi. Tulisanmu amat sangat berpengaruh buat saya. Sungguh.

      Selamat menjalani hari ini dengan penuh kasih,
      r

      Like

  2. Guandra says:

    siapapun yang telah membuat tulisan ini, terima kasih. Semoga kita yang masih bisa berkumpul bersama dapat mengambil hikmah untuk tidak menyia-nyiakan kedua orang tua kita apalagi beliau yang sudah renta.

    Salam
    ~Guandra~
    Blogwalking

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s