Jalan-jalan (1)


Maghrib di Ciujung

 

“Berangkat!”

“Ke mana?”

“Tidak penting.”

Ide jalan-jalan, datang begitu saja. Penyebabnya cuma satu: kalender menunjukkan 3 angka berwarna merah dalam satu baris, sayang dilewatkan di rumah saja dengan tidur, nonton televisi, atau main facebook…

Usul saya sampaikan, dan suami langsung setuju. Hari Jumat, jam 11.30 siang kami berangkat, setelah siap-siap 10 menit sebelumnya: masukkan beberapa potong baju dan celana seperlunya, sikat gigi, sabun, handuk, minyak kayu putih (obat nyamuk paling ampuh sedunia!). Satu tas buat berdua. Berangkat, berangkat, berangkaaaat! Tapi ke mana? Nah, itu yang belum kami putuskan. Yang penting jalan, berangkat, pergi. Soal tujuannya, bagaimana nantilah.

Memasuki pintu tol, suami nyeletuk, “Kita mau ke arah mana ya?” Saya meringis saja: tidak tahu baiknya ke mana. Ke gunung, senang. Ke laut, gembira. Jadi saya bilang, “Mana saja yang bisa dicapai tanpa antrian mobil yang panjang dan lalu lintas padat. Ke mana saja yang bisa membuat kita santai, bisa lihat pemandangan bagus….”

Dari halaman facebook, Kang Herman Jusuf usul sebaiknya kami tidak ke Bandung karena macet parah. Tujuan mulai terbentuk: ambil tol ke arah Merak. Garis Besar Arah Perjalanan sudah ditemukan. Tapi tujuan persisnya? Tetap belum berhasil ditemukan. Sementara itu mobil terus melaju.

Di mobil ternyata ada peta lipat serba ringkas, memuat seluruh Indonesia dan Jawa Barat. Saya asal sebut: Pangandaran! Begitu diperiksa, ya ampuuun, jauh nian dari Jakarta! Jalan memutar jauh ke bawah sana, di Selatan.

Jadi ke mana baiknya –mengingat sudah mengambil tol arah Grogol, Tangerang, Merak…. Ah, Malingping saja!

Mengapa Malingping? Tidak ada alasan ilmiah atau istimewa, kecuali karena ketika mata menemukan titik Malingping, di peta pantai Selatan, kami langsung teringat cerita Ivan Haris, sahabat kami. Ivan sering melewatkan akhir pekannya di Muara Binuangeun. Dan setiap menuju Binuangeun, ia pasti melewati Malingping. Tapi di peta yang ada di tangan, tak menyebut Binuangeun. Sementara GPS mengacu pada nama minimarket. Meragukan. Jadi, kami menuju tempat yang namanya tertera di peta dan kelihatannya tidak terlalu jauh: Malingping!

Lepas Tangerang, kami baru memastikan letak Malingping pada Ivan. Terlambat? Kelihatannya begitu. Tapi jalan berliku, penuh lubang, hilang arah, dan sedikit tersesat, tak mengganggu rasa senang kami.

Buat banyak orang, mungkin jalan-jalan model begini tak terbayangkan karena jauh dari keteraturan dan perencanaan. Target tiba jam berapa dan di mana, tidak jelas. Kalau pun ada patokan yang bisa dijadikan pegangan adalah hari Minggu sore sudah harus berada di Jakarta lagi. Dari jam berangkat di hari Jumat sampai Minggu sore? Mana suka mau ke mana.

Kami –masing-masing- cuma membawa sebotol air mineral. Tidak ada bekal makanan atau camilan. Prinsipnya, kalau lapar dan haus, cari warung. Kebelet ke belakang, cari pompa bensin. Lelah, berhenti di tegalan. Ngantuk, tidur di pompa bensin di temani supir-supir truk yang bersahabat dan musik dangdut dari radio petugas pompa.

Perjalanan kemarin yang sangat mendadak itu, kami isi dengan mengejar pemandangan. Merekamnya di dengan peralatan yang kami punya. Suami memakai kamera serius, saya pakai IPhone polosan, hehehehe…

Rangkasbitung. Malingping. Bayah. Bagedur. Pulo Manuk. Semua itu adalah tempat baru buat kami. Belum pernah sekali pun kami ke daerah ini. Tetapi apa yang kami berdua temukan, sangat luarbiasa. Matahari sore membuat kami kehabisan kata-kata. Ombak berlari di pantai membuat kami tak ingin pergi. Setiap kali kami merasa sudah waktunya untuk kembali berjalan, langit berubah warna. Awan membentuk gambar lain. Ombak memercikkan air lebih tinggi. Kibaran bendera perahu berubah seperti tangan penari.

Sungguh luarbiasa apa yang kami dapatkan selama dua setengah hari kemarin. Perjalanan di hari pertama, berakhir di Bagedur, pukul 00.10. Hari berikutnya, kembali di jam yang sama, di Bogor. Tidur. Meluruskan badan. Sebelum lewat tengah hari kami telah masuk Jakarta.

Jalan-jalan yang kami awali dengan niat ‘asal jalan’ ternyata menyajikan begitu banyak bonus. Mulai dari rute yang cukup lancar untuk ukuran akhir pekan yang panjang, warteg yang enak makanannya, penduduk yang ramah dan semangat memberi petunjuk arah dan terutama pemandangan yang indah.

Bicara soal gambar, sungguh tak terhitung banyaknya yang kami bawa pulang. Termasuk di dalamnya foto Kang Pendi, pedagang cilok pikulan yang berjalan santai di pantai. Memory card sudah mau meledak karena kepenuhan foto, tetap saja kami berdua merasa ada yang lolos tak tertangkap.

Dua setengah hari lewat sudah tapi senangnya masih terasa sampai sekarang. Senang karena mata terhibur. Senang karena bisa lepas dari keseharian. Senang karena bisa tiba di tempat baru. Dan terlebih lagi, senang karena kami bisa mengobrol soal apa saja (segala dibahas), tertawa-tawa, nyanyi-nyanyi, tanpa batas waktu….

Saya senang dengan perjalanan kami ini. Terima kasih sangat, Ed. Dan mari kita bersiap berangkat menuju ….

Pentingkah? ♥

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Travel and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Jalan-jalan (1)

  1. Rizka says:

    wah…senangnya mbak..untung dapet suami yang sejalan pola pikirnya…tapi emang bener sih, aku juga liburan gak pernah direncanain jauh2 hari2, serba mendadak. Yang penting hati senang 😉

    selamat liburan dadakan berikutnya mbak!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s