Jalan-jalan (2)


Waktu itu hari terakhir Puasa, kantor tutup lebih awal. (saya baru beberapa bulan bekerja di Gadis, belum lama lulus). Saya baru pulang kantor, berada di dalam bis tingkat yang menuju terminal Rawamangun –wilayah rumah saya.

Entah bagaimana, bis tingkat berhenti agak lama di depan stasiun Gambir. Bosan menunggu, saya memilih turun dan maju jalan masuk stasiun.
Saya tahu hari-hari sebelumnya stasiun penuh oleh pemudik. Saya ingin lihat sendiri, bagaimana keadaannya di hari -1 lebaran. Ternyata stasiun amat lengang. Loket yang kemarin penuh pemudi, sekarang kosong, cuma ada petugas di balik jendela berkawat. Saya mendekat dan iseng menanyakan karcis ke Solo, atau Yogya, atau …. Mana sajalah. Sambil senyum lebar, bapak penjual karcis bilang, “Semua masih ada. Mau ke mana, Dik?”

“Solo!” saya menjawab yakin. Keluar uang dari kantong gajian, dan tiket diberikan. Keretanya ternyata sudah menunggu. Saya buru-buru mencari telepon umum, mengabari ibu kalau saya ke Solo bersama teman-teman. Betul saya tidak sendiri berangkat ke Solo, kan? Ada banyak penumpang lain di gerbong itu dan dalam setengah perjalanan bisa jadi teman-teman saya yang baru. Berangkat kita ke Solo! Mari! Saya berangkat dengan baju di badan, tas jeans yang berisi dompet, buku catatan, bolpen, tape recorder dan kaset yang sudah terisi setengahnya, kamera Yasica dan kantong coklat berisi gaji bulan itu.

Itu bukan pertama kali saya main lompat naik kereta, atau bis luar kota. Dorongan untuk pergi bisa muncul begitu saja dan tak tertahankan. Soal di sana tinggal di mana, makan apa, tak pernah datang bersama niat ingin pergi atau jalan-jalan itu. Dan seingat saya, pada masa itu segala sesuatunya lancar dan aman dan menyenangkan sekali. Sangat!

Tapi itu dulu. Sebelum Soca –putri kami muncul. Begitu Soca lahir, saya kok berubah dengan serta-merta, ya?

Liburan tidak bisa berlangsung tanpa rencana yang jelas: mau ke mana, naik apa, sampai sana tinggal di mana, kondisi di sana seperti apa sehingga harus bawa apa, jenis makanannya seperti apa…. Semua itu jadi pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh yang mengajak pergi –sering kai suami. Kalau ada yang kurang meyakinkan, maka saya akan segera mencoba mencari jalan untuk bisa mengatasinya sejak kami berangkat.

Artinya, saya harus membawa hal-hal semua yang akan dibutuhkan di perjalanan, tempat tujuan dan perjalanan pulang. Akibatnya tas yang kami punya selalu kurang besar dan kurang banyak untuk bisa memuat bawaan kami. Semua dirasa perlu. Mulai dari selimut kesayangan Soca, baju, mainan, botol susu, makanan, popok sekali pakai, topi, krim matahari, obat gosok, obat batuk, balsem, handuk besar-sedang-kecil, kantong plastik(kenapa ya musti bawa kantong plastik?) … Tapi apa pun itu, semua musti di bawa karena semua…. PENTING!

Saya ingat betul saat berangkat ke Solo naik pesawat bersama Soca, beberapa hari menjelang Lebaran. Huaduh, huru-haranya…. Tidak tidur beberapa malam saya menyiapkan segala perangkat. Kalau saja memungkinkan dan boleh, mau rasanya saya bawa tempat tidur naik pesawat. Atau sekalian pasang sayap di dinding rumah, supaya semua terbawa. Tapi mana mungkin? Jadi bawa apa saja yang bisa dan sanggup dibawa. Yang penting masuk tas dulu lah, biar tenang hati ini. Bahwa setiba di tempat tujuan, yang terpakai tidak sampai 10% dari total gembolan, itu soal lain.

Jalan-jalan berikut bersama Soca, ke sebuah bukit yang penuh dengan air terjun –Cilember. Rencananya hanya 3 hari di sana. Tapi bawaan saya –kata suami- cukup buat sebulan! Seprei, selimut, bantal, guling, kacang, kornet, ikan asin, sampai gitar ikut berangkat. Saking heboh dengan daftar bawaan, saya malah lupa melakukan kunjungan awal, buat memeriksa situasi dan kondisi lokasi tujuan. Di kepala dan hati, yakin rumah pohon tujuan kami itu bisa dicapai dengan mudah. Ternyata…. Woadooooh, jalan setapak sempit dan licin dan berliku dan naik turun menyambut kami. Walhasil koper beroda dan gitar dan panci (saya bawa juga!) ditinggal di parkiran bawah. Yang naik ke atas cuma selembar kain iket batik milik suami yang dibentangkan, diisi baju secukupnya, minyak kayu putih, dan selimut kecil milik Soca. Kain diikat, disangkutkan ke bahu. Hiks.

Kehebohan berangkat ini ternyata berlangsung terus, bahkan di perjalanan dinas, saat Soca tak ikut berangkat. Seperti saat saya bekerja di majalah Cosmopolitan Indonesia dan beberapa kali harus ikut konperensi editor di seberang lautan: beberes baju bisa dari Senin sampai Jumat! Padu padan baju tiada habisnya. Daftar bawaan tak kunjung titik. Ada saja yang barang bawaan yang aneka ria itu tak sempat ditengok –apalagi dipakai- karena memang tak diperlukan. Ampun!

Tapi masa itu sudah berlalu. Sekarang saya bisa bolak balik ke Balikpapan dengan bawa satu tas ringan, dan saya persiapkan sekitar 1 jam sebelum berangkat ke bandara. Bahkan ketika harus berkunjung ke kantor pusat di kota cahaya, bisa saya siapkan semalam sebelum berangkat. Apa penyebabnya?

Saya pikir, sikap spontan saya sudah mulai kembali, setelah sempat hilang beberapa belas tahun. Tetapi kembalinya sikap spontan itu sepenuhnya akibat penularan yang sangat sukses dari suami dan anak tercinta.

Jalan-jalan itu dibawa enteng, dibikin senang

Jalan-jalan itu dibawa enteng, dibikin senang

Mereka berdua itu, kalau mau jalan-jalan, bisa dibahas sekarang dan 10 menit kemudian bisa sudah siap berangkat. Tapi bisa juga ngomongnya sekarang dan rencana berangkat besok, tapi jalannya baru seminggu lagi. Tidak masalah juga. Dan hebatnya mereka berdua tidak pernah ribut, mengomel soal ketidak-pastian itu. Santai saja. Mengalir saja. Bahkan kalau hati sedang tidak tenang, bisa tidak berangkat sama sekali. Waktu dan tujuan menyesuaikan. Bawaan, tidak usah dipikirkan. Bekal makanan, tidak perlu dipusingkan. Asal bawa teh panas manis atau kopi, aman. Ketika suami masih merokok, sepanjang kantong celana ada sebungkus Gudang Garam dan korek, maka segalanya tak perlu dikhawatirkan. Sekali lagi: santai dan mengalir saja

Jalan-jalan, itu kegiatan yang menyenangkan. Ketika menjadi beban, membuat pusing kepala, namanya bukan jalan-jalan lagi. Kalau kata suami, “Dibawa enteng, dibawa senang saja…”

Belasan tahun lalu, setiap kali suami bilang begitu soal jalan-jalan, saya bisa menggeram kesal. Kok bisa jalan-jalan dibawa enteng? Lha bawaannya saja seabreg-abreg! Tapi -sebalnya- dia betul. Buat apa bawa perlengkapan satu container kalau yang dipakai cuma seember? Bikin susah diri sendiri saja.

Sekarang lain: saya bisa setuju itu. Saya menikmatinya dengan sangat. Betul, ada yang harus dibawa. Tapi yang perlu-perlu saja. Contohnya, karena saya selaluuuuu dikejar nyamuk, maka minyak kayu putih sebaiknya dibawa. Tapi tidak usah bawa semprotan, raket listrik, sapu lidi…. Nggak usah!

Jalan-jalan: dibawa enteng, dibikin senang.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
Image | This entry was posted in Travel and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Jalan-jalan (2)

  1. Betmen says:

    sebagai teman atau sahabat nya Ibu Reda….saya selalu kagum dengan apa yang di lakukan nya jaman dulu….bisa di bilang saya ini yang selalu nge “rem” kalau Ibu satu ini lagi memuncak dahsyat emosinya…..semua di lawan gak ada takutnya !!

    Like

    • rgaudiamo says:

      Hai Milly!
      Hihihi, terbayang hari-hari Milly menjadi ‘rem’ dan ‘tembok’ yang bisa mendadak muncul begitu kondisi dan situasi kurang menguntungkan tiba. Kalau tiada Milly di sisiku, mungkin hidung, jempol, kuping saya bocel-bocel karena….. ya, satu dan lain hal!

      Jangan-jangan, itu adalah cikal bakal Milly jadi Betmen: menolong teman yang memerlukan pertolongan! Mengembalikan gunting, meja, gelas kepada fungsi aslinya.

      Hari-hari yang agak membahayakan, tapi menyenangkan dan cukup aman buatku, karena ada Betmen di sisiku. Terima kasih sangat, Milly! Rem-nya terbukti pakem banget.

      Kangen kumpul-kumpul dan ketawa-ketawa dan ngobrol-ngobrol, tanpa harus berjaga-jaga musti nginjek rem mendadak, hehehehe….

      Yuk, Mil!
      #peluk

      Like

  2. imada says:

    Kemampuan menulis seperti ini tuh bisa dipelajari atau hanya orang2 tertentu yang “diijinkan” memilikinya?

    Like

    • rgaudiamo says:

      Menurut saya nih,
      kemampuan menulis itu milik semua orang, yang kemudian akan menghasilkan tulisan dengan keindahannya masin-masing.
      Semua orang -sekali lagi menurut saya, Imada- diijinkan memilikinya.
      Mungkin yang membuat seseorang lebih lancar menulis dari yang lain adalah kebiasaan, latihan, dan kegemaran membaca.
      Begitu 🙂
      Jadi, ayo menulis!
      r

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s