Jalan-jalan (3)


“Bagaimana kalau kita istirahat dulu?”
“Ayo! Di mana?”
“Biasa: Pompa bensin terdekat saja!”

Pada suatu waktu, ketika bertamu ke rumah sahabat lama, tersampaikanlah cerita jalan-jalan kami bertiga. Dan di dalamnya ada kegiatan tidur di pompa bensin. Mendadak wajah teman kami ini berubah suram.

“Kalian itu suka kebangetan. Sudah anak cuma satu, perempuan pula, pas jalan-jalan kok malah tidur di pompa bensin, sih?” Dia prihatin sangat. Saya buru-buru menyela, menyampaikan betapa gembiranya putri tunggal kami itu tidur di pompa bensin dan mandi di kamar mandi yang tersedia. Air melimpah, bersih, murah. Tetap teman saya itu menunjukkan wajah tak senang. Katanya, liburan harus nyaman, aman, dan pantes. Saya sudah siap membantah lagi, tapi diberi kode oleh suami untuk berhenti membahas acara menginap di pompa bensin.

Kebiasaan melepas lelah –tidur, leyeh-leyeh, mandi- di pompa bensin dimulai ketika pertama kali jalan jauh dengan VW Safari ke Jawa Tengah. Kami berangkat di musim liburan. Jalan yang macet terasa sangat melelahkan. Sementara itu menemukan hotel atau penginapan yang nyaman, ternyata tidak mudah. Karena lelah tak tertahankan, suami mengusulkan kami berhenti sebentar di pompa bensin saja. Begitu tiba di pompa bensin yang cukup besar, halamannya sudah agak penuh, terisi oleh truk-truk besar membawa muatan yang hwarakadah. Ketika kami parkir, beberapa supir truk datang dan menyapa kami. Bahkan belum-belum sudah ada yang menawari kopi kepada suami. Terima kasih sangat, Bapak-bapak!

Bayangan saya, kami cuma mengasoh sejenak, lalu jalan kembali. Ternyata, begitu mesin mobil berhenti, kami bertiga langsung tertidur lelap dibuai alunan radio siaran lawakan atau lagu-lagu dangdut berirama cepat. Sampai pagi!

Ketika bangun itulah kami baru sadar, kalau jendela mobil kami yang harus dipasang dengan cara khusus, tidak terpasang. Sehingga kalau ada yang tergoda, dengan mudah bisa menyambar bawaan di mobil tanpa membuat kami terbangun. Tetapi semua aman sentosa di tempatnya. Kami dijaga dengan sangat baik oleh sahabat-sahabat baru kami: kelompok supir truk. Bahkan kami dapat tawaran singkong rebus dan tempe mendoan, hidangan sarapan mereka. Senang sekali! Lalu waktu giliran ke WC dan kamar mandi, wah airnya melimpah ruah sampai tumpah-tumpah! Beda betul dengan WC dan kamar mandi di pompa bensin Jakarta dan sekitarnya yang sering bau pesing dan air cuma menetes. ☹

Sejak itu, setiap kali ke luar kota, kami tak pernah khawatir: pompa bensin siap menerima kami. Tetapi apa yang asyik buat kami bertiga, bisa sangat tidak menarik buat yang lain. Pernah ada sahabat yang kami ajak menikmati tidur di pompa bensin. Mulanya mereka tampak semangat, tapi begitu sampai di lokasi, muncul alasan berantai yang intinya menolak tawaran kami ☺. Tak apa, itu sangatlah normal. Senormal kami yang tak bisa jalan-jalan dengan perencanaan jauh hari: Segala yang kami bertiga atur jauh-jauh hari hampir selalu rontok menjelang hari H. Sewajar sahabat kami, Ria Untari yang bisa punya jadwal jelas selama setahun ke depan. Setiap tahun ia bersama suami dan putrinya yang seumur Soca –saat itu- sudah tahu mau ke mana, berapa lama, sejak setahun sebelumnya! Luarbiasa.

Jalan-jalan, buat kami adalah kesempatan paling pas buat membahas hal yang tak sempat disentuh di hari-hari lain. Ketika jalan bertiga, kami sering manfaatkan dengan membuka sesi curhat. Soca boleh menumpahkan isi hati dan uneg-unegnya tentang kami berdua. Selain menyimak, Mak dan Pak juga diberi kesempatan untuk saling membahas. Ketika kegiatan ini dilakukan di di tengah perjalanan yang santai, di antara pepohonan, rumput, dan hamparan sawah, rasanya sangat menyenangkan buat kami bertiga. Telinga, hati, pikiran bekerja sama dan mengolah dengan baik . Silakan dicoba. Siapa tahu menyenangkan juga hasilnya.

Jalan-jalan, memang tak harus pakai misi atau visi atau apalah. MAu ke mana dan kapan, yang penting berhasil membuat hati riang, pikiran tenang. Banyak tertawa, banyak cerita, banyak senang. Dan akhirnya membawa banyak kenangan yang menetap di hati. Seperti kami berdua yang hingga hari ini masih dengan jelas mengingat perjalanan bertiga bertama naik VW Safari. Begitu mobil bergerak keluar rumah, Soca memutuskan memulai perjalanan dengan nyanyian ini, “Kotek-kotek-kotek-kotek…. Anak ayam turun berkotek, anak ayam turun seribu, mati satu tinggal sembilan-ratus-sembilan-puluh-sembilaaaaan….” Bukan main, tiada tamatnya lagu itu! Terus mengiang sampai yang nyanyi lupa sudah sampai hitungan ke berapa ☺

Begitulah.

Oya, bulan Mei ini mengandung banyak hari kejepit. Semoga sempat ambil cuti, bisa jalan-jalan bersama yang tercinta.

 

Bertiga

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s