Tentang Sebuah Nama – catatan dari seberang meja


Red Envelope with White Envelopes“Maura, Mas! MAURA! Bukan Muara!”
Di pagi yang super cerah, teman saya dari jurusan SDM, sudah teriak-teriak. Disambung dengan omelan, “Emang lu pikir gue muara sungai, apa?”.

Maura jengkel karena di ujung sana ada yang salah menyebut namanya. Memang sih cuma terbalik satu huruf, tapi kan…. Beda nian!

Ini bukan kejadian pertama, dan saya rasa sangat pantas Maura marah. Pasalnya, di seberang sana, -si penelepon yang salah sebut nama berkali-kali itu- adalah pencari kerja yang menghubungi kantor kami. Maura–bukan Muara- adalah orang yang memberi jawaban tentang apa yang diperlukan, berkas dikirim ke mana, dan segala karena saya juga sering terkena insiden semacam itu. Istilahnya, kalau ada satu nama saja yang perlu dicatat dengan benar oleh si pencari kerja itu, ya namanya Maura. Kalau sampai salah, repot. Sekali!

Salah mencantumkan nama dalam urusan lamar-melamar pekerjaan, sangatlah tidak menguntungkan buat si pelamar. Pertama, sudah pasti surat lamaran atau CV tak akan sampai. Kalau pun sampai, dan si penerima merasa itu bukan dirinya, bisa jadi berkas penting itu tak dibuka. Atau, kalau angin buruk sedang bertiup, bisa jadi berkas yang sudah dibuka itu tidak digubris karena pengirimnya dianggap iseng-iseng, tidak serius…. Jadi mengapa harus diperhatikan?

Sesederhana itu?
Kedengarannya sederhana, tapi pada kenyataannya, salah tulis nama –pegawai yang menangani lamaran dan juga nama perusahaan—di surat lamaran adalah tindakan ceroboh yang akan membawa hasil buruk. ☹

Kesalahan paling sering terjadi, ketika seseorang mengirimkan surat lamaran ke banyak perusahaan, dan surat itu dibuat dengan cara copy-paste. Amat sangat sering, nama perusahaan yang dituju adalah perusahaan tempat saya bekerja, tetapi di bagian tengah, atau akhir, nama perusahaan lain bertebaran.

Saya pernah menerima surat lamaran yang ditujukan kepada saya dan tertulis nama Cosmopolitan Indonesia –tempat saya bekerja pada suatu ketika – tetapi di tengah-tengah surat muncul nama Femina dan nama sahabat saya, Petty Fatimah, hahaha…. Maunya melamar ke mana, sih?

Dulu, saya masih berbaik hati, tetap memanggil penulis surat lamaran yang salah memasang nama perusahaan kalau CV-nya keren bianget. Tetapi setelah ngobrol sana sini, tanya ke banyak teman, akhirnya saya putuskan untuk tidak mempedulikan email atau surat-surat yang “salah alamat” itu. Kalau dikirim via email, kadang saya masih mau memberitahu pada si pengirim bahwa nama perusahaan yang ia tuju salah. Apalagi kalau yang mengirim adalah sarjana baru. Rasanya saya perlu diberitahu bahwa ia salah mencantumkan nama dan sebaiknya surat itu dikirimkan saja ke perusahaan yang dimaksud. Jangan kepada saya. Tapi kalau via amplop berprangko, ya cukup sampai sekian. Tak akan saya apa-apakan.

Kejam?
Menurut Maura –dan saya- tidak kejam sama sekali. Justru itu memberi pengertian pada pengirim bahwa salah pasang nama itu tidak bisa dibenarkan.

Mengapa?
Begini, menurut saya, mengajukan permohonan bekerja di sebuah perusahaan itu adalah urusan yang serius. Karena di sanalah kita akan menghabiskan sebagian besar waktu untuk, memakai ilmu dan menyerap pengetahuan baru agar bisa mengembangkan diri, jadi besar, jadi pandai dan tentu saja dapat uang.. Jadi jelas bukan sembarang tempat. Nah, karena itu pilihan jadi penting. Dan ketika memilih harus dengan sepenuh hati. Yang saya maksudkan dengan sepenuh hati adalah kita manfaatkan sel-sel kelabu di balik kepala untuk bekerja lebih keras dalam mencari tahu perusahaan yang kita bidik itu: nama perusahaan, pemimpinnya, orang bagian HRD-nya (minimal laki-laki atau perempuan), bidang industri serta prestasinya, dan tentu saja tentang pekerjaan yang akan kita lamar itu. Find out what is the job description of the post you’re applying.

Pada suatu ketika saya membutuhkan seorang editor. Surat lamaran berdatangan. Tetapi yang mengejutkan, ternyata cukup banyak pelamar yang tak bisa membedakan pekerjaan seorang editor dengan auditor. Ampun, jauh banget salah jurusannya!

Niat melamar pekerjaan memang bukan sekadar menulis surat lamaran dan mengirimkannya. Ada perhatian khusus di sana, ada ‘pekerjaan’ kecil yang perlu dilakukan. Dan itu perlu dilakukan dengan teliti. Dengan hati. Dengan sungguh.

Begitulah.
Semoga sepakat.
Semoga berguna. 🙂

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s