Perjalanan Pulang


Jakarta, wilayah Sudirman, sore hari: jam pulang orang kantoran.
Jalan padat: jelas.
Ramai klakson mobil: pasti.
Motor menguasai trotoar: bukan hal baru.

Itu menu saya setiap menuju pulang.
Suami memang menjemput, tetapi saya tak tahan membayangkan dia menjelajahi macetnya jalan di depan kantor saya, plus aturan 3 in 1 itu. Maka kami putuskan untuk bertemu di lokasi paling nyaman, yang tak merepotkan suami dan tak meresahkan saya: di lapangan parkir sebuah hotel, di sudut Jalan Thamrin.

Di tengah tahun 2012, ketika kantor berpindah ke wilayah Sudirman, perjalanan menuju titik temu itu hampir selalu saya tempuh dengan berjalan kaki. Kadang dengan kecepatan tinggi, kadang santai. Hitung-hitung olahraga. Tetapi belakangan ini, saya lebih sering naik kendaraan umum –tepatnya Metromini–dan turun persis di halte, di ujung jembatan penyeberangan di depan Plaza Indonesia.

Mengapa Metromini 640? Pertama, karena akhirnya saya bosan memperjuangkan lahan pejalan kaki di trotoar yang dikuasai para motor. Awalnya sih, saya sering ngotot berjalan di tengah trotoar dengan tak mau bergeser meski motor sudah menggerung-gerung, seakan mau menabrak. Mari, kita adu ngotot! Saya yakin mereka tak akan berani menabrak saya, dan teman-teman lain sesama pejalan kaki. Setiap berpapasan dengan pengendara motor di trotoar, saya mengumpat panjang pendek dengan suara keras. Tapi lama-lama, lelah juga. Mau teriak, mau berdiri di tengah trotoar, tetap saja mereka itu tak peduli. Memang saya belum pernah ditabrak sampai jatuh atau luka. Tapi kena senggol hingga tas di bahu jatuh, makan asap tebal, dipelototi, sudah terlalu sering. Saya pikir, haruskah membuang energi untuk melawan itu? Tidak usahlah. Tak ada hasilnya, malah lebih sering merusak suasana hati ketika bertemu suami. Rugi!

Jadi, saya putuskan menghemat tenaga, emosi dan waktu dengan naik Metromini. Bermodalkan Rp. 3000,00 saya sampai di tujuan dengan super cepat.

Mulanya, saya tak terlalu menikmati masa-masa di bangku Metromini ini (yang tak pernah lebih dari 7 menit). Buat saya, ukuran bangkunya agak menggemaskan. Lebarnya sangat minimal. Diisi dua orang kurang besar, diduduki seorang terlalu lega. Lalu ruang untuk tungkai yang terlipat, jelas tidak standar. Biasanya sih tak terlalu luas. Dan sering kali begitu sempitnya sehingga kita lebih memilih berdiri ketimbang duduk di bangku itu. Itu sebabnya, saya lebih suka duduk di bangku pas depan pintu, yang ada tiang besinya. Lumayan lega….

Lalu hal yang tak bisa membuat kita nikmat naik Metromini adalah cara Abang Supir mengendalikan kotak berodanya ini. Mereka –hampir semua!– cuma kenal kecepatan tinggi dan rem mendadak. Bersikap hati-hati, mengijinkan pemakai jalan lain mendahului: tak dikenal. Kadang, dalam waktu yang maksimal kurang dari 10menit itu, pantat bisa beberapa kali terangkat dari bangku dan terbanting karena Metromini menerjang lubang atau pembatas jalan tanpa mengurangi kecepatan. Awalnya sih saya suka teriak, marah-marah. Tapi kok yang bunyi cuma saya ya? Belakangan saya tahu kalau ini sangatlah normal. Jadi tak guna diprotes. Yang penting jangan pernah melepaskan pegangan dari besi atau bangku atau tiang metal apa saja yang terbentang di dalam kendaraan itu. Biar aman.

Dari tempat saya naik, biasanya Metromini kosong. Ngetem sebentar sampai penuh, baru bergerak secepat kilat. Awalnya saya jengkel berlama-lama duduk di metromini. Ya, saya ingin cepat sampai. Tapi kemudian saya memilih untuk berdamai dengan pengeteman ini. Mau ngomel, percuma. Karena memang itulah metode yang diyakini oleh para pengemudi Metromini sebagai cara terbaik menambah penumpang.

Nah, dalam menikmati saat ngetem itu, ternyata saya justru menemukan hiburan yang menyenangkan: musik!

Beberapa Metromini dilengkapi oleh speaker yang lumayan ukurannya, menghasilkan suara yang jreng-jreng: sehingga terasa kami para penumpang berada di arena konser! Kadang ada yang melengkapi dengan lampu kelap-kelip. Disco mini beroda empat!

Soal jenis musiknya, silakan terima apa yang disajikan. Dari lagu-lagu lama – Ernie Djohan, D’Lloyd, Rita Butar-butar– lagu daerah Tapanuli, Campur Sari, Tarling, hingga yang sangat hari ini: One Direction! Mantab.

Atau sekalian live music! Para penampil ini selalu berdiri di pintu masuk depan, bersandar di tiang yang dipasang agar pintu tetap terbuka. Mereka hanya naik kalau tahu metromini tak punya speaker, sound system. Setelah itu, mereka akan menyanyi satu atau dua lagu, tergantung masa ngetem yang tersedia. Ada yang terus menyanyi hingga bis berjalan ada yang memilih selesai begitu roda mulai berputar.

Untuk yang live music ini, rupa-rupa bentuk dan suaranya. Tetapi belakangan ini saya perhatikan lebih banyak penampil di tiang Metromini yang membawakan lagu dengan sangat baik, dan merdu, dan indah ketimbang yang asal teriak.

Ada pasangan ibu dan anak perempuannya yang selalu menyanyikan lagu-lagu rohani. Ibu yang menyanyi dan anak yang mengumpulkan uang. Oh, suara ibu itu amat sangat merdunya! Kalau dia konsentrasi menyanyi, suaranya menggema, menenangkan keresahan penumpang yang tak tahan kepanasan di Metromini. Sayangnya, Bu Uli –begitu ia dipanggil- lebih sering pecah konsentrasinya kalau melihat arus karyawan turun dari jembatan penyebrangan. Bisa saja bunyi lagunya jadi begini, “Di doooooaaaaaaa ibuku……. Ayo Neng, Mas, naik Mas! Mau berangkat nih! …. Oya, namakuuuuuuu disebuuuuuut!” berkali-kali ia lakukan, tanpa merasa ada yang salah.

Ada seorang kakek yang bisa menyanyikan empat sampai lima lagi. Tapi hanya bait pertama saja. “Sengaja aku datang ke kotamu. Lama nian tidak bertemu…. Ingin diriku mengulang kembali berjalan-jalan bagai tahun lalu…..” disambungnya dengan, “Kalau kau seorang diri…..” Habis menyanyi, mengumpulkan uang, ia tak langsung turun, tapi tetap di bis, beraksi bak kondektur memanggil-manggil calon penumpang. Bahkan bisa ikut terus sampai jauh, dan meneriakkan halte-halte yang dilewati kotak beroda kami ini.

Dua malam terakhir ini, menjelang jam 19.00, metromini yang saya tumpangi dikunjungi oleh seorang lelaki muda, membawa gitar. Di sudut yang biasa, dia menyanyi. Dan lagunya…. Bagus-bagus. Malam kemarin, ia menyanyikan Bad Day-nya Daniel Powter. Malam berikutnya ia membawakan nomor lama Beatles, Blackbird. Suaranya merdu. Gayanya keren….(fotonya saya sertakan di sini, hasil jepretan diam-diam). Ketika ia habis menyanyi, saya nyaris berdiri dan bertepuk tangan. Tapi segera ingat, kalau sebelah saya ada ibu-ibu yang terkantuk-kantuk duduk dengan kepala menempel di bahu saya. Kalau saya bangun, kepalanya bisa terkena sandaran bangku kami dari bahu karatan. Kasihan. Habis menyanyi dua lagu, lelaki muda itu mengulurkan kantong bekas permen kepada kami, para penumpang. Dalam sekejap kantongnya penuh. Semua suka!

artist

Anak muda itu,
Ibu dan putrinya.
Kakek yang cuma suka bait pertama sebuah lagu…
Mereka adalah artis yang menyuguhkan cita rasa seninya kepada kami, penumpang Metromini. Dan saya senang bisa menikmati penampilan mereka.

Besok malam: siapa yang akan hadir di panggung sudut metromini?
Entah. Tapi saya tak sabar menunggu.
Perjalanan pulang ini: sungguh menyenangkan.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Perjalanan Pulang

  1. kwartono rachmadi says:

    Membacanya serasa turut hadir di sana…. Terbitkan lagi Mbak…. Siap mendukung……
    Izin share boleh???

    Like

  2. Hihi naik transportasi publik memang selalu punya cerita tersendiri ;D

    Like

  3. Nathanael Comtemplaro Christian says:

    Lain denganmu, aku sering menggunakan MetroMini 19, saat kantor kita masih satu kantor di kawasan Sudirman – ekstra elit itu.

    Aku memilih si ‘besi tua cepat’ karena aku lelah berdesakan di TransJakarta arah Bundaran Senayan ketika waktu menunjukan pukul 7 malam. Sudah kesekian kalinya kudengar Ia membuka suaranya yang serak dan dalam layak penyanyi Bossanova yang sungguh mahir. Lantas, aku perhatikan bahwa Ia seorang pemusik paruh baya yang tak pernah berganti baju. Hanya dengan kaus kutang putih dan kemeja coklat muda yang terlihat usang karena keringat mengucur di tubuhnya.

    Saat Ia menyanyikan interlude pertamanya… Hatiku terenyuh… “I’ll be home for Christmas… You can count on me…”

    — Aku selalu tak sempat menanyakan namanya karena Ia selalu turun di terminal Blok M, sedangkan aku di halte Bundaran Senayan. Sebelum aku turun, Ia,
    sambil bernyanyi, tak lelah tersenyum saat aku memberikan uang di kantong permen usangnya. Aku hanya tersenyum dan berkata, “Bapak… Suara Bapak, bagus sekali. Terima kasih, ya.”

    Aku kangen masa-masa itu, Mbak.
    Kamu masih setiap hari dengan ‘bumpy ride’ itu? 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s