Di Pasar Beringharjo


Bila sampai Jogja, jangan lupa mampir ke Pasar Beringharjo.
Itu yang selalu saya lakukan.
Saya suka sekali pasar itu.

Pertama kali tiba di pasar ini, sudah lama sekali. Kalau tak salah akhir 1988.
Ketika itu pasar belum penuh oleh pedagang batik macam sekarang, dan tangga yang tegak di tengah pasar dibuat dari batu bata yang besar, lebar, berlapis semen. Kokoh.

Di salah satu anak tangga batu itu, bersama pacar –yang sekarang jadi suami- saya makan nasi pecel yang dijajakan oleh seorang ibu tua, Mbah. Di pincuk daun pisang, sayur rebus, ditambah dua tiga cubit nasi, disiram bumbu pecel. Diberi remukan peyek teri, potongan tempe. Oya, pakai sendok bebek.

Enak, dan masih lapar, kami masing-masing tambah satu pincuk lagi. Si Mbah menawari kami minum, gelas kecil-kecil seperti gelas untuk minum jamu bersama jerigen air, ia keluarkan dari keranjang anyaman plastiknya. Gratis.

Ketika kami tanya berapa yang harus kami bayar, dia bilang –dalam bahasa Jawa halus—lima ratus. Betul, lima ratus rupiah untuk empat pincuk nasi pecel, plus minum. Kami memberinya seribu rupiah dan pacar saya bilang kembaliannya buat dia saja. Senyum yang sejak tadi mengembang, berubah menjadi tawa lebar. Kami dipeluknya erat-erat. Bahu kami ditepuk berkali-kali. Terima kasihnya tak habis-habis.

Bulan lalu, untuk urusan pekerjaan, saya kembali ke Jogja.
Dan meski waktu amat sangat mepet, saya ngotot mampir ke Pasar Beringharjo karena sudah berniat membawa pulang beberapa helai lurik.

Memasuki pasar itu setelah beberapa tahun lewat, terlihat ada begitu banyak yang berubah. Deretan pedagang di selasar utama, kini hanya diisi pedagang batik dan baju. Bahkan sampai ke lorong-lorong kecil: batik dan batik dan batik saja isinya. Lalu tangga batu tempat saya bertemu Si Mbah dulu, sudah berganti escalator yang lancar mengalir turun naik. Pasar sejuk oleh pendingin ruangan yang entah diletakkan di mana. Orang sibuk lalu lalang, penjaja berteriak menawarkan dagangan, lagu-lagu campur sari dan dang dut, lagu pop, berkumandang deras. Riuh.

Setelah keluar masuk beberapa lorong, akhirnya saya tiba di sebuah kios yang hanya menjual lurik. Lurik ditumpuk rapi di sebuah lemari kaca, dan saya yang berdiri di luar kios agak kesulitan menentukan pilihan. Ditunjuk yang kuning, diambilkan yang merah. Disebut yang hijau, datang biru. Tiba-tiba datang bantuan, seorang Mbah berdiri di samping saya, dan dia mengarahkan Mbak lurik mengeluarkan kain yang saya maksud. Langsung lurik yang saya tunjuk dan yang diambil, klop. Ah!

Setelah pilih, menawar, membayar dan barang belanjaan diikat, Mbah yang tadi membantu saya menemukan pilihan itu bicara dalam bahasa Jawa halus. Melihat saya tak mengerti, Mbak Lurik langsung menerjemahkan. Oh, ternyata si Mbah menawarkan diri membawakan lurik. Bagaimana? Si Mbah memperlihatkan kain gendongan dari lurik yang warnanya sudah pudar, tersampir di bahu. Mbak Lurik bilang, “Biar si Mbah yang bawakan belanjaannya, Bu. Jadi kalau mau keliling-keliling, bisa santai. Ndak berat, ndak capek. Belanja jadi enak. Tinggal lenggang kangkung.”

Mbah yang berada di samping saya, tingginya tak sampai sebahu saya. Rambutnya putih semua. Dari senyumnya, saya tahu beberapa giginya banyak yang telah tanggal. Saya ragu apakah ia bisa mengejar langkah saya yang cepat (dan selama ini sering dikeluhkan oleh anak dan suami). Tapi senyum Si Mbah membuat saya memutuskan untuk membiarkan belanjaan saya masuk gendongannya.

Mbah menanyakan apa lagi yang saya cari, apakah ada yng ingin saya beli atau lihat, atau kunjungi. Saya tak punya waktu untuk keliling, tapi perut lapar. Kepada Si Mbah saya bilang mau cari makanan. Dia balik bertanya, saya mau makan apa dalam bahasa Indonesia. Lalu dia menyebutkan beberapa resto cepat saji dari negeri seberang. “Bagaimana dengan sega pecel?”
Matanya terbuka lebar mendengar usulan saya, “Sega pecel?” ia bertanya meyakinkan lalu terkekeh-kekeh. Ya, sega pecel, saya yakinkan dia. Dan sekejap itu juga ia langsung menggamit tangan saya. Tiba-tiba saya merasa seperti sedang digandeng Mak, menyusuri lorong-lorong pasar. Rasanya…. menyenangkan.
Melewati beberapa toko pakaian, ia melambatkan langkah, menanyakan seandainya saya mau mampir. Tidak, sega pecel saja, Mbah.

Mbah memutar arah, menuju pintu keluar pasar. Kami tetap bergandengan dengan saya agak lari-lari mengikuti langkahnya yang agak cepat. Di luar, kami disambut oleh jajaran payung yang meneduhi para pedagang makanan. Pecel ada di situ. Mbah membiarkan saya memilih mau duduk di emper yang mana. Ia menolak ketika saya tawari makan. Tapi setuju dengan teh panas manis.

Entah bagaimana mulainya, ketika sedang makan pecel itu, ibu penjaja pecel yang saya beli dagangannya, beradu mulut dengan tetangganya yang juga jualan pecel. Suara mereka makin meninggi dan dorong-dorongan payung. Dengan bahasa Jawa timbul tenggelam dalam kosa kata halus dan kasar yang campur baur, saya coba melerai mereka. Gagal. Suara mereka kian meninggi. Mbah bangun dari kursi di sebelah saya. “Wis, wis…. “ cuma itu yang saya mengerti, karena selebihnya kalimat panjang. Disampaikan dengan suaranya yang rendah dan halus. Saya tak tahu apa yang ia sampaikan, yang pasti suara kedua ibu penjaja pecel pun surut. Setengah berbisik, Mbah minta saya memaafkan kedua ibu tadi.

Pecel saya habis. Teh panas manis tandas. Perut kenyang.
Saya mencari taksi menuju hotel. Mbah mengantar saya ke pangkalan taksi yang tak jauh dari deretan payung pedagang makanan. Setelah memberinya upah, saya masuk taksi, melaju ke hotel.

Mbah berdiri di trotoar, merapikan letak kain gendongan di bahu, lalu melambaikan tangan.

Sampai jumpa Mbah Atmo yang tinggal sendiri di sebuah desa di Bantul, jauh dari anak dan 20 cucunya.

Sampai jumpa Mbah Atmo yang setiap hari, setelah lepas jam dua belas, ketika rumah telah bersih, selesai memasak, berangkat ke Pasar Beringharjo, tempat ia menawarkan jasa membawakan belanjaan dengan kain luriknya.

Mengapa tak tinggal bersama anak dan cucu, Mbah?
“Nanti merepotkan mereka saja,” begitu katanya.

Mungkin.

Siap membawakan belanjaan kita keliling Ps. Beringharjo & sekitarnya.

Mbah Atmo yang siap membawakan belanjaan kita keliling Ps. Beringharjo & sekitarnya.

 

 

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Di Pasar Beringharjo

  1. Pasar Bringharjo, tempat paling asik berburu batik bagus dan murah

    Like

  2. J. Darwis says:

    Ke Jogja tidak terlalu sering. sempat beberapa kali, entah 4/5 kali, urusan kerjaan, menemani klien, atau benar-benar berlibur. tetapi kota ini selalu menarik. ya itu tadi, kalau makan semua enak dan murah. terlebih pencinta batik dan lurik, bringharjo surga nya.

    Naik becak selalu jadi pilihan ketika keliling malioboro, murah. 35 ribu sudah keliling bringharjo,keraton,tamansari, makan di bale raos, nyari gudeg, dan balik ke bringharjo. obrolan ringan namun bermakna hidup juga sering didapat. Namanya Pak Surimin, kalau tidak salah sudah narik becak 23 tahun lamanya. Ndeso tapi pengamat politik, jadi selama perjalanan naik becak ngomongnya politik terus. berhubung september 2014 yang lalu isu politik sedang hangat dari tukang becak sampai presiden. katanya, Indonesia itu harus dipimpin oleh orang yang pernah merasakan hidup susah, tau mengayuh hidup demi 10 ribu, tau rasa keringat orang susah, mengerti beban hidup di gubuk dengan 7 org anak, dan 5 orang cucu. Akhirnya dia senyum sumringah semoga capres yang ia coblos menang.

    Jogja selalu punya cerita sendiri. lain waktu berkunjung, lain memori.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s