Guk-guk-guk: tiada henti!



Kami tak berniat memelihara anjing.

Tapi ternyata jumlah anjing di rumah menjadi 25 ekor!

Girl with Balloons

Memelihara anjing?
Itu bukan ide yang menarik. Niat pun –sebenarnya- tak ada karena rumah kami yang tidak besar. Selain itu lingkungan cukup aman, jadi tak membutuhkan penjaga khusus yang perlu perlakuan khusus pula itu. Tetapi ide dan niat itu berubah ketika pada suatu sore ayah saya menemukan seekor anjing dengan potongan mirip Benji, tergeletak di trotoar di depan rumah. Kelihatannya tak berdaya. Rasa iba yang muncul membuat ayah saya langsung menggendong dan membawanya ke rumah, memberi makan dan susu.

“Jangan senang-senang dulu, siapa tahu pemiliknya datang,” begitu kata Ayah ketika melihat kami langsung mengerubungi anjing itu. Ternyata setelah ditunggu-tunggu, seminggu lewat tanpa ada seorang pun mampir bertanya atau memperlihatkan tingkah laku mencari anjing di sekitar rumah kami. Maka pada hari kedelapan, anjing yang ditemukan itu diberi nama: Minggu, karena ditemukan pada hari Minggu. Dia anjing pertama kami.

Minggu bisa diandalkan sebagai penjaga rumah. Setiap saat siap mengabari kami kalau ada tamu –baik yang diundang maupun tidak- memasuki halaman rumah. Suaranya bisa mencapai kami yang duduk di dapur! Minggu juga anjing yang cerdas dan pembersih, ini sangat menyenangkan hati Ibu. Pendek kata, Minggu adalah anjing yang penuh pesona.

Tetapi ternyata di luar kehebatannya, Minggu punya kelemahan: menderita lemah jantung. Kalau kaget, biasanya karena ada suara keras, ia langsung pingsan sejenak. Yang menyebalkan, begitu sadar kembali, ia akan mengejar sumber penyebab pingsannya. Saya selalu jadi sasaran. Mengapa? Karena –jaman itu- saya cengeng sekali. Sedikit-sedikit menangis dan –sialnya- dengan suara keras (karena di sela-sela tangis pasti ada jeritan-jeritan). Cukup keras untuk membuat jantung Minggu yang lemah itu kumat. Jadi begitu ia membuka mata, maka dihampirilah sumber serangan jantungnya. Kalau sudah begitu, ia beringas sekali! Saya, tentu makin keras menangis, juga menjerit. Minggu makin semangat memburu. Tempat paling aman dari kejaran Minggu adalah tempat tidur tingkat. Saya harus naik secepat kilat. Dan harus berhenti menangis. Kalau tidak…. Gonggongan Ming akan terus membahana. Terlalu!

Anjing berikut, Blackie namanya. Ini anjing pindahan. Tuannya masuk rumah sakit, sehingga taka da yang bisa merawatnya. Herannya, kami kok yam au-maunya menerima. Blackie sebenarnya tidak cocok tinggal dengan kami. Pertama, rumah kami terlalu sempit untuk anjing herder ukuran besar seperti Blackie. Tak ada tempat untuk Blackie berlari-lari ke sana ke mari. Kedua, ia tak pernah cocok dengan Minggu. Beda kepribadian. Ketiga, Blackie yang sudah berusia lanjut ini tidak boleh diperlakukan dengan sembarangan. Ia harus diberi makanan khusus yang harganya –saat itu- lebih mahal dari makanan keluarga kami. Apa daya kami tak bisa memenuhi kebutuhan Blackie, ia harus terima makan apa saja. Ini memperburuk kondisi kesehatan Blackie: rambutnya rontok dan muncul luka di sana sini.

Blackie tak bertahan lama. Minggu? Ia melarikan diri. Kata Ibu, Minggu tersinggung. Soalnya, tuan kesayangannya – ayah saya- pada suatu pagi menyakiti hatinya. Untuk pertama kalinya ayah memukul Minggu. “Habis kencing di dalam. Bau, kotor” begitu alasan Ayah. Seumur-umur tinggal bersama kami, cuma Ayah yang tak pernah berlaku kasar padanya. Jadi pukulan ringan dari orang tercinta itu amat melukai hati Minggu rupanya. Ayah menyesal ketika tahu Minggu tak juga pulang hingga sore hari. Ia berusaha mencari ke sana ke mari. Sia-sia. Minggu tak bisa memaafkan Ayah.

Anjing kami yang lain, sepasang anjing pendek. Simby dan Scooby, hadiah seorang dokter hewan yang akan berangkat ke Australia. Maunya sih menolak, tapi melihat betapa lucunya mereka, hati kok jadi…. Ya, betul: iba lagi. Dan ternyata keduanya bisa diandalkan untuk menjaga rumah. Saying, belum lewat tiga bulan, Scooby dicuri orang. Simby kelihatannya sangat kehilangan. Makan enggan, lebih banyak diam. Suatu hari, adik saya melihat seekor anjing terikat di dekat selokan kering di depan rumah. Kembali, rasa iba muncul. Adik saya membawanya ke rumah. Jadilah ia sahabat Simby. Berdua mereka seru bermain. Oya, nama anjing baru ini, Ahu, yang dalam bahasa Sabu –tanah kelahiran ibu saya- berarti anjing. Ahu campuran anjing kampung dan collie, bulunya putih dengan aksen coklat muda keemasan. Sungguh cantik. Ternyata selain memikat hati kami, Ahu juga telah membuat hati Simby tertambat. Buah cinta mereka muncul pada suatu malam: sembilan ekor saja. Mantab!

Agar isi rumah berimbang –antara binatang peliharaan dan pemiliknya—beberapa anak Ahu diadopsi beberapa teman. Sayangnya, tidak semua anak-anak pasangan Ahu dan Simby sama cantik dan ganteng dengan ibunya. Yang kelihatan betul ras kampungnya, tetap tinggal bersama kami. Tak ada yang minat. Mereka tetap tinggal bersama kami. Tetangga usul untuk dibuang saja. Tetapi serta merta ide itu ditolak oleh Ayah dan adik-adik. Kasihan, begitu kata mereka.

Di tengah riuh rendah Ahu, Simby dan beberapa ekor anaknya, tiba-tiba datang seorang teman, menghibahkan Lady, anjing betina berbulu hitam, keturunan Peking. Cuma, mentang-mentang namanya Lady, makannya pun tak mau sembarangan. Kalau taka da daging, ia ogah makan. Ibu mengomel karena jatah belanja berkurang. Belakangan, seiring dengan bertambahnya usia, Lady mulai bisa memahami situasi dan kondisi ekonomi, ia mau makan apa saja. Sama seperti teman-temannya.

Kalau dihitung-hitung, jumlah anjing yang pernah tinggal di rumah, sudah lebih dari 25 ekor. Namanya macam-macam. Salah satunya Molly R (singkatan Ringwald, nebeng ngetop bintang remaja Amerika jaman itu).

Hari ini, tercatat ada enam ekor di rumah. Umur mereka sebaya. Mulanya sih mereka semua lucu-lucu. Tapi belakangan ini mulai bikin masalah yang lumayan mengesalkan. Bayangkan, ketika gigi mereka mulai tumbuh, semua bentuk kertas di makan. Bahkan buku telepon yang tebalnya hampir 10 sentimeter itu bisa tinggal sepertiganya! Belum lagi masalah koran: jangan harap bisa membaca berita dengan lengkap kalau kalah cepat memungut dari lantai. Paper adik saya tak ketinggalan dilahap (karena tak punya waktu untuk mengetik ulang, adik saya membawa remah-remah lahapan anjingnya menghadap Ibu Dosen sebagai bukti bahwa ceritanya tidak dibuat-dibuat).

Dengan semakin besar, telinga mereka pun kian peka plus suara kian nyaring. Jadi kalau ada orang berdiri di depan pagar atau ada bunyi bel, enam suara anjing –tinggi rendah dan adu keras—langsung menggema, membahana. Yang lebih menjengkelkan lagi, mereka tidak bisa menggonggong secukupnya, selalu saja berpanjang-panjang. Dan semua digonggongi. Tirai jendela bergerak, guk-guk-guk! Lampu dekat gerbang menyala, guk-guk-guk. Tukang Sayur meneriakkan dagangannya, guk-guk-guk-guk. Bibi menyapu di halaman juga guk-guk-guk-guk! Padahal Bibi ini juga yang setiap hari memberi mereka makanan.

Belakangan ini kekesalan kian bertambah lantaran mereka mulai doyan berkelahi dengan seru. Satu memulai perkelahian, yang lain merasa harus berpartisipasi aktif! Kegiatan ini hanya berhenti setelah disiram air. Ibu semakin sering mengomel. Rumah bising, berantakan. Tetapi yang lebih dari itu adalah urusan merawat mereka semua itu. Para pencinta anjing yang sarat akan rasa iba itu –ayah dan adik-adik saya- malas memberi makan, malas memandikan, malas mengajak jalan-jalan, dan terutama malas membersihkan kotoran. Yang mengherankan, mereka –para pecinta anjing itu- selalu mengomel kalau melihat bulu peliharaannya tersebar di mana-mana. Kalau anjingnya berisik, mereka yang mengeluh kebisingan. Tapi begitu Ibu mengancam mau mengirim para anjing ke yayasan penyayang binatang, mereka ngambek. Ajaib!

Saya? Wah, saya -kebetulan- tak punya rasa cinta berlebih buat mereka ini. Pertama, buat saya, mereka itu merepotkan. Saya tidak melihat indahnya kegiatan membersihkan kotoran, memandikan mereka. Kedua, kehadiran mereka mengganggu arus pergaulan. Buktinya, Marlini, teman saya, tidak mau main lagi ke rumah karena kami memelihara banyak anjing. Pertama kali ia main ke rumah, kakinya sampai melayang di udara, menghindari sambutan para peliharaan ini. Bicaranya pun kacau karena perhatiannya terpecah pada makhluk yang berkeliaran di bawah jok kursi. Kasihan. Jadi ketika Ibu rebut-ribut kesal soal anjing, saya mendukung dengan sungguh-sungguh. Akhirnya? Entahlah sampai kapan hidup bersama guk-guk-guk-guk akan berlangsung. Dengar-dengar Ibu sudah membuat peraturan: No more dogs! Maksudnya semua anjing dipergikan? Oh, tidak…. Yang sudah ada boleh tetap di rumah, tetapi pintu tertutup untuk anjing baru. Segitu aja? Eh, yang segitu pun sudah bisa dibilang lumayan buat keluarga kami. Sumpah!

Reda Gaudiamo

Pernah dimuat di rubric Gado-Gado, Femina No.9/XXI, 4 – 10 Maret 1993

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s