Langganan Ojek (bagian 1)


Sudah hampir setahun ini saya menggunakan jasa tukang ojek untuk berangkat ke kantor. Menurut saya, naik ojek membantu kita bangun sedikit lebih siang, tapi sampai di kantor jauh lebih pagi.

Untuk urusan berangkat kantor ini, saya punya dua tukang ojek andalan yang bersedia menjemput ke rumah: Pak Yitno dan Pak Zul. Bergantian mereka datang dalam lima hari kerja. Keduanya saya temukan setelah menyeleksi beberapa tukang ojek selama beberapa waktu. Mereka yang tak saya ajak ‘jalan’ lagi, pasti melakukan salah satu dari daftar berikut ini: melanggar lampu merah, melawan arus, ngebut, membuat dengkul saya beradu dengan mobil atau motor lain.

Pak Zul biasa mangkal di pojokan gereja HKBP Rawamangun. Perawakannya tidak terlalu tinggi, tetapi sangat tegap. Mungkin kalau diberi selempang sarung, tampilannya bisa mengalahkan Tuan Tanah Kedawung. Pak Zul gampang tertawa. Apa saja bisa membuatnya tergelak. Ketika saya komentari urat tawanya yang sangat pendek itu, dia bilang, “Idup mah dibawa enteng aje, Bu. Dibawa senang. Biar rejeki dateng bererot.”

Dibonceng Pak Zul berarti siap mendengarkan ceritanya yang disampaikan dengan suara keras, mewalan bising jalan raya yang ramai oleh klakson motor, taksi, bajaj, mobil, sepeda, gerobak… Pak Zul, sejak lahir, tinggal di Jakarta. Lahir di Tanah Tinggi, Senen. Dan kemudian bergeser ke Rawamangun. “Pas jaman masih rawa, Bu. Ya namenye juga Rawamangun, pantes-pantesnye pake rawa dong,” katanya kembali disambung tawa berderai.

Pak Zul sekolah secukupnya saja, cuma sampai SD kelas 6. Setelah bisa baca-tulis dan menghitung uang, bapaknya bilang ia tak usah sekolah lagi. Bapaknya –menurut Pak Zul—terlalu banyak anak dari terlalu banyak istri. Katanya lagi, ia tak yakin bapaknya ingat urutan anak-anaknya. Bahkan nama anak-anak dari istri terakhir, sudah tak penting lagi buat bapaknya. Dan pak Zul termasuk di deretan ini.

Lelaki yang selalu menyapa siapa saja di sekitar tempat tinggal saya dan pangkalan ojek, bahkan sampai ujung Jalan Pemuda ini, punya jadwal kerja yang ketat. Pagi hari, Senin sampai Jumat, mengojek. Siang hari, membantu istri di kedai nasi rames, dilanjutkan dengan mengawal bis jemputan anak sekolah, saat matahari terbenam, suaranya yang nyaring memanggil anak, cucu, kerabat, dan sahabat untuk sholat maghrib lewat toa yang terikat di menara langgar di gang sebelah. Di hari Sabtu, ketika para pelanggan ojek –yang sebagian besar pegawai kantoran- libur, ia habiskan setengah hari dengan jadi tenaga lepas memperbaiki anyaman kursi rotan, di kios milik temannya di Pramuka. Hari Minggu, ia menyediakan diri jadi valet untuk mobil-mobil jemaat gereja HKBP.

Pada suatu hari, sehari setelah Lebaran Haji, Pak Zul tak bisa saya hubungi. Keesokannya ia mengirim pesan, meminta maaf karena ia sibuk membantu jadi tukang jagal hewan kurban. Dari tetangga sebelah, yang kebetulan teman mainnya sejak kecil, Pak Zul selalu dipanggil sana sini untuk memotong kurban. “Sayatannya cakep, bersih!” begitu kata temannya.

“Sekolah boleh cuma sedengkul, Bu…. Tapi kite jangan diem aje. Pasang mata, lihat mana yang bisa dipelajarin. Jangan males. Belajar ini dikit, itu dikit, lama-lama otak kite ade isinya juga kan, Bu?” katanya tentang berbagai ketrampilan yang ia miliki. Semua dipelajari lewat menyediakan diri untuk diajari oleh siapa pun yang punya pengetahuan dan keahlian: naik motor, menyetir, jadi tukang jagal, menganyam, melayani pelanggan warung nasi dengan ramah dan sopan…

Dengar-dengar, minggu depan ia mau belajar komputer dari salah satu anggota gereja yang sering menikmati jasa valet-nya. “Jangan sampe kalah kite ame anak sekarang, Bu,” katanya pagi tadi, ketika kami berhenti di sebuah lampu merah menuju Menteng.

Setuju: karena belajar tak harus di sekolah dan tak kenal batas waktu.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s