Langganan Ojek (bagian 2)


Saya mengenal Pak Yitno lewat Bik Yam, pembantu rumah tangga kami, yang tinggal di pinggir kali Kampung Poncol. Mereka bertetangga. Kalau Bibik mau ke rumah, pasti Pak Yitno yang mengantar. Ketika saya terus mengeluhkan kelakuan tukang ojek yang suka melanggar aturan lalu lintas, Bik Yam mengusulkan Pak Yitno. Yakin betul ia bahwa kami berdua akan cocok karena Pak Yitno selalu berhati-hati kalau mengendarai motor.

Dan Bik Yam memang tidak salah.

Pak Yitno adalah pengendara yang taat pada garis, urutan antri, kecepatan rendah, berhenti ketika lampu lalu lintas sampai di warna kuning, membuntuti bajaj dan bis kota dengan tekun. Di jalan yang padat, ketika motor-motor di sekitar kami berebut celah, Pak Yitno menyilakan mereka lewat, mendahului kami. “Ndak usah kesusu, ya Bu. Nanti malah celaka,” katanya kalau saya mulai berdecak-decak tak sabar. Betul, kita tak boleh terburu-buru karena bisa celaka, tapi bergeraklah sebagaimana mestinya. Kalau nggak, kita kapan sampai, Paaaaak? Buat perbandingan saja, berangkat jam 7 pagi bersama Pak Yitno, bisa tiba di kantor jam 7.50. Sementara dengan Pak Zul, pasti lebih cepat 20 sampai 30 menit☺.

Sebetulnya menjadi tukang ojek itu pekerjaan sampingan Pak Yitno. Kesibukan utamanya: mereparasi peralatan elektronik para tetangga: dari kipas angin, tape recorder, Walkman, setrika, lampu duduk maupun berdiri, televisi, radio, sampai pompa air. Tapi belakangan ini ia mengaku langganannya sudah jauh berkurang. Apa sebab? “Barang-barang sekarang itu aneh-aneh, Bu. Buat buka saja saya ndak tahu dari sebelah mana. Apalagi mereparasi? Ndak nyandak otak saya, Bu,” katanya.

Di rumah kurus bertingkat dengan tangga amat curam, Pak Yitno tinggal bersama istri dan seorang anaknya, laki-laki, tamat STM dua tahun lalu, sudah bekerja di perusahaan otomotif ternama di dekat Pramuka. Sebetulnya anak Pak Yitno dua orang. Cuma yang satu lagi, perempuan, tinggal di Gunung Sahari. Sudah menikah, punya anak usia tiga tahun, dan sehari-hari bekerja di toko komputer. Sedangkan yang laki-laki, anak Pak Yitno dengan istri terdahulu yang sudah tutup usia. begitu cerita Bik Yam pada suatu hari.

Pak Yitno, suka bercerita juga. Tapi topiknya tak pernah ganti: Anto, putranya yang bekerja di bengkel mobil Jepang yang terkenal itu. Ditanya tak ditanya, setiap kali saya bersiap memakai helm, mengancingkan jaket, Pak Yitno pasti menyampaikan cerita terkini tentang Anto. Tak ada yang lebih hebat dari Anto: pintar, gesit, banyak teman, nurut sama orang tua, badannya tinggi, kulitnya bersih, matanya….

Pada suatu hari Senin, sekitar jam 5, Pak Yitno menelepon. Ia mengabari tak bisa mengantar saya ke kantor karena Anto, kecelakaan. Anto masuk rumah sakit, dan Pak Yitno memutuskan untuk menungguinya. Sepanjang hari, sepanjang malam. Sampai kapan? “Ya, sampai sembuh dan sehat lagi, Bu,” jawab Pak Yitno. Kira-kira berapa lama ya, Pak? Untuk pertanyaan yang satu ini, Pak Yitno menjawab dengan suara yang lebih keras, “Ya nggak tahu dong, Bu. Lha ini hidungnya patah. Beset-besetnya sebadan. Giginya pada rontok!” Baiklah, baiklah.

Mendengar keterangan Pak Yitno tentang kondisi anaknya dan tekatnya menunggui hingga sembuh total, saya bayangkan baru bisa bertemu dengannya sekitar tiga minggu atau sebulan lagi. Ternyata kurang dari seminggu, Pak Yitno sudah mengirimkan pesan pendek. Menanyakan apakah saya perlu diantar ke kantor.

Keesokan harinya, ia sudah ada di depan rumah. Lalu ceritanya tentang kecelakaan yang menimpa Anto, mengalir. Menurut Pak Yitno, anaknya ini pulang kumpul-kumpul di tepi Taman Surapati. Waktu mau pulang –naik motor—beberapa teman di depannya saling bertabrakan. Anto yang berada di belakang kelompok itu, menginjak rem mendadak dan bersama motornya berakrobat. Mungkin melihat dahi saya berkerut, Pak Yitno merasa perlu menjelaskan, “Kancane yang nabrak-nabrak itu, habis mabuk-mabukan, Bu.” Anto?
“Ya ndak mungkin mabuk, Bu. Wong dia itu anaknya taat sama orang tua, lurus!” Pak Yitno menyambar.
“Tapi semua yang jatuh dan nabrak-nabrak itu temannya Anto semua?”
“Ya, Bu. Teman anak saya. Teman jaman STM. Tapi anak saya ndak mabuk-mabukan.”
“Atau ngebut, barangkali?”
“Ndak mungkin, Bu. Anak saya ndak bakal ngebut. Dia tahu kok motor itu harganya mahal. Dia tahu juga saya ngutak sana sini buat beli motor itu. Masak mau dipakai ngebut? Ndak mungkin,” suaranya semakin keras. Entah karena jengkel oleh pertanyaan saya, atau sekedar melawan derum motornya.

Dua hari kemudian, cerita lanjutan datang, lewat Bik Yam.
Kecelakaan itu terjadi jam 3 pagi. Motor Anto yang meluncur dengan kecepatan hampir 100km/jam, terhentak ketika berhenti mendadak, menghindari tabrakan dengan rombongan motor teman-temannya.
Wajah Anto yang ganteng itu rusak parah. Menurut Bik Yam, wajah Anto harus dioperasi. Berkat kartu kesehatan dan kartu keluarga tidak mampu (betul begitukah nama kartu-kartu sakti itu?), Pak Yitno tak perlu mengeluarkan uang untuk perawatan anaknya. Ah, luarbiasa!
Tapi –juga dari Bik Yam- ternyata Anto tak mau keluar dari rumah sakit meski sudah boleh pulang dan kulit yang luka sudah cukup halus. Kenapa? “Dia nggak mau pulang, kalau nggak dioperasi plastik…” cerita Bik Yam. Operasi plastik?
“Ya, Non…. Makanya ini Pak Yitno pusing. Kakak Anto yang di Gunung Sahari itu disuruh pinjam uang dari kantor untuk biaya operasi adiknya.” Oh.
Berapa? “Ya, jutaan, Non!” Oh, oh.

Dua minggu lewat, saya tak sabar ingin menanyakan hasil perasi plastik di wajah anaknya itu.
Tanpa diminta Pak Yitno mengeluarkan telepon genggamnya, di layar tampak wajah seorang anak muda yang tampan. Hidungnya mancung, bibirnya tipis, matanya besar.
“Ini Anto?”
“Ya, Bu. Ganteng kan?”
“Ganteng banget!”
“Sebelum kecelakaan, hidungnya ya ndak seperti itu. Rada pesek sithik. Matanya juga ndak sebesar itu….”
“Oh! Bibirnya?”
“Ya, sekalian ditipisin dikit, Bu.”
“Kok bisa begitu, Pak?”
“Ya, mau anaknya begitu, Bu…”
“Habis berapa, Pak?”
“Ya lumayan, Bu…. Hampir dua puluh juta,” katanya lalu buru-buru dilanjutkan, “Buat anak ya masak ndak dituruti, Bu? Lha kita ini kan hidup buat anak. Cari rejeki buat anak. Ya, kan Bu?”

Motor kami bergerak menyusuri jalan Pemuda.
Mendadak saya batuk-batuk.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Langganan Ojek (bagian 2)

  1. Olive B says:

    baru menemukan bacaan ini dan … suka 😉
    aku juga punya langganan ojek yang suka cerita panjang lebar tapi senang aja ngobrol sama mereka

    tfs mbak Reda

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s