DE-CLUTTER


Tahun 2015 baru berjalan 12 hari, resolusi saya untuk bisa mengatur waktu lebih baik, ternyata harus diganti dengan yang lebih kekinian, yang lebih tepat guna dan amat sangat tinggi tingkat urgensinya: beberes rumah!

Ini dilakukan dengan alasan amat sangat tepat. Dan tak terbantahkan.
Penyebabnya: saya tak bisa menemukan celana andalan yang sudah saya rencanakan sejak minggu lalu. Entah bagaimana ceritanya, celana itu mendadak raib setelah dicuci sekitar tiga minggu lalu. Waktu dijemur, kelihatan. Tapi setelah kering, kok tak tampak lagi. Sudah dicari ke sana ke mari, dan terakhir dicari sampai pakai emosi kemarin malam, berlanjut ke pagi harinya. Soalnya penasaran banget: Kok bisa celana yang tidak kecil itu bisa terselip dengan sangat sempurna?

Gara-gara ngotot menemukan celana panjang hitam dengan detil ritsleting di saku kiri kanannya pagi tadi, saya jadi terlambat. Soalnya setelah menerima keadaan bahwa celana tak bisa ditemukan, saya putuskan pakai kain. Artinya, lepas dari melewati jadwal berangkat yang seharusnya, saya masih menambahkan lagi sedikit untuk menyeterika kain agar tampak lebih licin. Entah sudah berapa batang rokok dihabiskan Pak Zul yang sudah parkir di depan rumah dengan motornya sejak jam 6.45. Kami berangkat jam 7.15. Bukan main deh!

Ini problem saya. Dan sering menimpa.
Hari ini celana panjang. Kesempatan lain, blus andalan yang berhari-hari tergantung manis di lemari, ketika mau dipakai mendadak hilang dari pandangan. Saya bisa pastikan ini bukan ulah makhluk gaib yang iseng memindahkan. Pasti bukan. Penyebabnya cuma satu: saya sendiri.

Pertama, saya ini sering lupa-lupa ingat. Satu barang saya pindahkan ke satu tempat, dan tak ingat lagi. Sementara barang-barang begitu banyak di rumah, sehingga setelah berpindah ke satu sudut, blus andalan pun tertumpuk entah di mana.

Kedua: kebanyakan barang.
Itu kunci yang amat penting. Saya harus akui, terima dan atasi segera.

mu00172_l

Barang terbanyak di rumah apa? Haduh, segala-segala banyak! Kalau diurutkan dari sisi jumlah, maka yang menempati urutan pertama adalah BUKU.

Kami ini sudah pindah rumah sampai 13 kali. Dan setiap kali pindah rumah, selalu ada buku-buku yang harus terima nasib untuk dihibahkan. Tetapi oh tetapi, jumlah buku kami rasanya tak kunjung berkurang. Malah semakin bertambah saja kelihatannya.

Di rumah kami ada buku saya, buku suami, buku anak saya, buku adik-adik saya yang dititipkan di rumah kami, buku warisan Mak dan Pak saya. Jumlah mereka melebihi rak buku yang ada. Padahal rak buku sudah menjulang dari lantai sampai ke langit-langit. Kalau mau ambil buku sampai perlu tangga khusus.

Karena pembelian buku baru tak pernah berhenti sementara buku lama tetap dipelihara, maka tempat untuk memasang rak buku pun sudah taka da lagi. Sehinggaaaaaa…. Buku pun akhirnya tersebar di berbagai tempat yang jelas-jelas bukan tempat buku: meja makan, meja tamu, kolong meja makan, kolong meja tamu, di kursi, di kolong kursi dan di piano. Saking banyaknya buku nangkring di piano, sampai pianonya nggak bisa dibuka! Kalau mau main piano, buku harus dipindah ke…. TEMPAT TIDUR! Sungguh, kalau buku itu makhluk hidup, kami pasti sudah lama habis dimakan buku! Ampun deh.

Barang berikut yang memenuhi rumah adalah barang pernak-pernik, baik yang kami peroleh dari berbagai penjuru angin maupun buatan sendiri. Ada juga bertumpuk-tumpuk kain lawas, kain jaman sekarang, kertas aneka rupa dan motif, kertas bikinan sendiri, gambar yang dibeli, hadiah dari orang, gambar bikinan sendiri….
Ampun! Ampun! Ampun!

Semua itu masih ditambah dengan suami yang sangat hobi membuat meja. Jadi rumah kami itu punya meja lebih dari 10, dengan kursi yang sangat minimalis (itu pun masih sering dipenuhi tas, buku, majalah….).

Barang lain yang juga banyak adalah perlengkapan masak punya Mak. Dulu dibeli oleh Mak karena dia memang punya banyak waktu untuk masak, coba resep dan selalu berhasil. Dari penggorengan dengan diameter 15 cm sampai yang bisa muat seekor anak kambing, kami punya. Panci tunggal yang kecil mungil buat merebus sebutir telur ada. Tapi kukusan tumpuk tiga buat bikin bakpao untuk orang satu RT, ada! Plus loyang ukuran besar kecil, lebar dan panjang, komplit. Ketika Mak tutup usia, beberapa ada yang dihibahkan. Tetapi lebih banyak yang tersimpan di rumah, menyelip di rak ini dan itu, tersebar dari dapur sampai ruang cuci dan gosok baju. Saya pelihara karena berharap satu hari nanti bisa bikin bakpao buat satu RT juga.

Pertanyaannya: apa pernah diberesin?
Pernah! Berkali-kali! Tapi rapi cuma bertahan dua minggu, lalu kembali berantakan. Kok bisa begitu? Jawabannya satu: Kebanyakan barang, sampai rumah gak pernah bisa rapi. Jadi kalau mau rapi, jumlah barang harus dikurangi. Itu juga sudah kami lakukan, tapi kayaknya yang kami lakukan masih salah arah. Nggak bener.

Saya harus mencari tahu cara yang benar. Dan niat saya itu pun ternyata mendapat sambutan dari alam semesta. Sambil menjalani rutinitas pagi, saya iseng membuka majalah-majalah lama yang terlipat di samping jamban. Ya ampun, ternyata edisi lama O Magazine dan Real Simple dengan panjang lebar membahas soal declutter alias beberes ini! Duh, kok bisa nggak kelihatan dari kemarin-kemarin siiiiiiih? Kaget, tersinggung, tapi harus mengakui apa yang tertulis di situ benar adanya. Dan sekarang saya bagikan buat teman-teman di sini (jangan-jangan ada yang ikut kaget, setuju –bagian tersinggungnya boleh dilupakan).

1. Everything in your home should reflect your vision the life you want.
Kalau mau rapi, menyenangkan: maka seperti itulah tampilan rumah kita. Rumah saya, sangat huru-hara, sementara saya ingin yang rapi dan menyenangkan. Jadi saya harus beberes agar yang saya inginkan itu tercapai.

2. That ugly sweater your mother gave you is not your mother
Langsung ingat barang-barang milik Mak dan yang ia belikan, dalam kondisi sudah kelunturan, bolong-bolong, menyusut karena salah cara cucinya: tak pernah saya pergikan. Karena merasa ‘ada Mak’ di sana. Kalimat yang ditulis Peter Walsh bikin saya jengkel karena dia benar. Kenangan itu mestinya indah, bisa dipakai hingga teringat selalu. Ini? Ditengok saja tidak! Berarti saya hanya mengumpulkan barang rongsokan.

3. Flat surfaces are not storage areas.
Tempat datar itu bukan tempat penyimpanan, bukan meja, bukan lemari. Penutup piano memang datar tapi itu bukan meja. Tempat tidur bukan meja. Kursi, bukan meja. Sofa bukan meja! Aaaaaaaah!

4. You only have the space you have
Tempat yang tersedia ya yang kelihatan, yang ada. Jadi, kalau rak buku sudah sampai langit-langit, ya cuma segitulah tempat yang ada.

5. When you put things into a file to deal with ‘LATER’, you have lost the battle.
Setiap kali kita menyisihkan barang untuk diatur/dibereskan kemudian, kita sudah kalah dalam peperangan beberes rumah. Nah, ini yang selalu terjadi setiap kali beberes buku. Dimulai dengan semangat setinggi langit mengeluarkan buku dari rak, dilepas dilantai, satu-satu diperiksa, dilanjutkan dengan melirik, membalik halaman satu dua buku. Berikutnya, buku yang tadi dilirik-lirik, ternyata dibaca. Tak cuma sehalaman, tapi satu bab, dua bab. Ketika mendadak ingat pada niat semula, ternyata sudah malam. Buku-buku yang terserak, dikumpulkan, dikembalikan ke tempat semula. I lost the battle. For too many times already. 

Tahun ini, resolusi saya adalah beberes rumah. De-clutter. Sudah berkali-kali dilakukan, tapi selalu rontok di jalan. Sungguh saya berharap resolusi tahun ini bisa dijalankan sebaik-baiknya berbekal semangat dan empat mantra dari Peter Walsh tadi. Pasti tidak mudah, tapi bukan berarti tak bisa dilakukan.

Yang pasti saya perlu bantuan suami dan anak dalam menjalankannya: mengingatkan kebiasaan saya yang suka tumpuk barang, buku sana sini. Dan mengingatkan mereka untuk mau membereskan barang, buku sendiri yang juga tersebar di sana sini.

Doakan ya.
May the force be with us.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to DE-CLUTTER

  1. Dian Rustya says:

    omong2 soal tumpukan buku, jadi inget kamar sendiri 😆

    Gampang banget nemu buku yang digeletakin di berbagai tempat di dalam kamar, hihiihihihi

    Like

    • rgaudiamo says:

      Aku senang ada yang sekelakuan, hihihi….
      Senang ada yang sangaaaaaat memahami ‘tumpukan’ buku itu.
      Semoga ya, kebiasaan ini segera ditamatkan, bisa lebih rapi dan teratur.
      Semoga, semoga, semoga!
      Mari saling mendoakan, Dian!
      r

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s