Alex


67330_443549642983_5345599_n

“Lex, aku dengar kau sakit, di Semarang. Cepat sembuh. Cepat sehat.Ada hal yang mau kubahas begitu kita bertemu.”

Pesan pendek itu saya kirimkan di satu siang, tak lama setelah mendengar kabar dari Yogi D. Sumule kalau kau sakit, Lex. Tak sampai sejam kemudian, aku mendapat kiriman gambar wajahmu yang tertutup masker oksigen. Tanganmu menggenggam erat teman-teman yang berdiri di samping tempat tidurmu. Kau sangat kurus. Tipis, bahkan. Kau sakit amat sangat parah.

Dan beberapa jam kemudian, aku menerima pesan susulan dari Yogi. Kau sudah tiada. God, how come? Lex, kau terlalu cepat pergi.

Tergesa-gesa pergi.

Malam ini, di Bulungan, banyak teman berkumpul, berdoa untukmu.
Tujuh hari sudah kau pergi.

Rasanya baru kemarin kita mengobrol panjang lebar soal kegiatan nonton film di kampung-kampung, di kampus, di sekolah.
Baru beberapa waktu lalu, aku menangkap teriakanmu, minta dinyanyikan Try To Remember.
Masih aku ingat waktu hari-hari pertemuan kita lebih sering berisi tertawa dan omong kosong, dan kegelian melihat orang yang melihatmu lewat dan panik minta foto bersama.
“Begini nih kalau jadi bintang film, Da…. Dikejar orang untuk difoto-foto. Agak repot sih, tapi menyenangkan, lho Da!” aku masih ingat caramu bicara, seolah-olah serius, tapi sebetulnya kau meledek diri sendiri.

Mungkin –sampai hari ini- kau adalah bintang film yang dengan enteng menertawakan ketenaran yang menempel padamu. Buatmu –mungkin lagi—keterkenalan ini membuatmu agak canggung. Seperti caramu berjalan itu, yang kadang-kadang sangat tidak ‘bintang film’. Karena kau bukan model begitu, rasanya (ngomong-ngomong, soal caramu berjalan dan bicaramu itu pernah juga kita bahas, dan kau bilang kau memang sering salah tingkah dengan tubuh yang amat sangat tinggi dan kurus itu).

Kau memang bukan bintang film pada umumnya.
Coba ingat-ingat, siapa yang memasang poster, fotomu di kamar, di pintu lemari, di buku, di tas? Apa ada yang menghiasi perkakas belajarnya dengan gambar wajahmu yang selalu murung, dahi berkerut, jenggotan dan rambut acak-acakan? Siapa? Aku tidak. Teman-temanku juga tidak. Kau bukan film ster (meminjam istilah bintang film dalam Bahasa Belanda, yang sering dipakai bapakku). Kau aktor, pemain film. Terlalu serius mungkin untuk dijadikan idola. Tapi amat luarbiasa sebagai seorang pekerja seni.

Pemain film asal Jepara, bernama asli Saifin Nuha.
Kau ditemukan oleh Ags. Arya Dipayana, Mas Aji, ketika ia mencari pemain untuk peran Alex, di serial Kiki & Komplotannya. Ia sudah lama memperhatikanmu yang terus-terusan nongkrong di Bulungan. Iseng ia memanggil, “Lex!” Tiba-tiba kau menoleh. Dan jadilah kau Alex, tokoh penting di serial itu. Sejak itu juga namamu jadi Alex Komang. Kau lantas main di Teater Tetas, Pak Teguh Karya sempat menonton, lalu mengajakmu masuk Teater Populer. Sejak itu, kau jadi Alex Komang anak Teater Populer, tinggal di Tangsi Kebon Pala. Di sana kita sering bertemu. Pacarku, yang kemudian jadi suami, tinggal juga di sana. Kalian berteman. Mengobrol dengan pacar di sana, berarti mengobrol juga denganmu.  Cuma kalian sering ngobrol seru berdua, pakai bahasa Jawa. Aku planga-plongo saja.

Bagaimana kita bertemu?
Mas Aji yang mengenalkan. Ketika itu kau baru saja selesai shooting Secangkir Kopi Pahit, dan sedang bersiap memasuki peran di Dua Tanda Mata. Kau mampir ke kampus kami, Fakultas Sastra, duduk di sebatang pohon kayu yang tumbang, di depan BonBin. Aku tidak merasa berkenalan dengan seorang bintang film. Ya, karena kau pemain film. Kita mengobrol soal film-film tua. Soal baju yang kau kenakan, celana warna khaki, kemeja putih lengan panjang yang digulung sesiku.

Kedatanganmu hari itu, untuk melihat Teater Sastra. Rencananya kau akan main dalam Mega-Mega, yang disutradari oleh Mas Aji. Mau sekalian latihan juga. Apa daya, Senat atau apalah namanya saat itu, mendadak angot. Pemain luar dilarang ikut serta. Maka batal kami menyaksikan permainanmu di Teater Sastra.

Tiba-tiba kau jadi amat sangat terkenal berkat Piala Citra. Tapi meski begitu, kau tetap bukan bintang film pada umumnya, Lex. Kau tetap tinggal di Kebon Pala, di kamar pojok dekat kamar mandi. Tetap dimarahi Bik Un, pembantu rumah tangga di rumah Pak Teguh kalau kau bangun siang dan langsung baca koran. Mungkin kau satu-satunya bintang film yang begitu menang piala Citra langsung beli mini compo. Bukannya DP Rumah.

Orang menyebutmu bintang film. Tapi koran dan majalah tak merasa perlu memberitakan siapa yang jadi pacarmu. Bahkan ketika kau mampir ke kampus bersama seorang teman yang juga penyanyi, tak muncul beritanya di koran. Ketika kau dekat lagi dengan seorang bintang lain, sepotong pun tak muncul kisahnya. Bahkan di tabloid gossip sekali pun. Tak laku.

Lex…
Kau memang bukan bintang film biasa.
Kau pemain film yang baik dan sahabat luarbiasa.
Tak sedikit pun aku pernah melihatmu sombong, pongah. Padahal kau boleh sombong dan pongah, Lex. Wong kamu itu pemain film yang berhasil dapat piala Citra, permainanmu bagus. Kau ganteng pun! Tapi kau tak begitu.

Malam ini, kami berdoa untukmu.
Tujuh hari sudah kau pergi.
Suaramu yang khas itu, masih terdengar di telinga.
Cara jalanmu, masih jelas di mata.
Tapi lebih dari itu, akan kuingat selalu pertemanan kita.

Kau sungguh teristimewa.
Baik-baiklah di negerimu yang baru.
Sampai jumpa lagi.

Ah, ya…
Lex, terima kasih untuk suatu hari, pada dua puluh empat tahun lalu, ketika kau mengantar kami berangkat menikah. Dan kau menjadi saksi kami di hari itu.
Terima kasih.
Sangat.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Alex

  1. Farah says:

    Apik mbak tulisanmu.. Selalu. May he rest in peace.

    Like

  2. Alex Komang, sosok yang selalu membuatku berkaca-kaca bangga. Walau sangat jauh dan tak pernah bertatap muka, tapi jiwanya bisa menyapa dunia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s