Pak :)


dad

 

 

 

 

 

 

 

 

Bila Mak adalah main air hujan di pancuran samping dapur, menyimak lagu-lagu di radio, memasak, menjahit, membetulkan rumah, berhitung, 
maka Pak adalah jalan-jalan naik vespa ke pelabuhan, tumpukan buku cerita dengan berbagai bahasa, musik klasik, film dan bintangnya, teknologi dan dunia dalam berita.

Kalau ada pekerjaan rumah –terutama berhitung—saya akan menemui Mak. Tapi kalau menyangkut pelajaran bahasa Inggris, saya terpaksa merapat ke Pak. Sebetulnya, dengan segala upaya, saya usahakan untuk tidak usah bertanya pada Pak. Kalau bisa semua diselesaikan sendiri, atau bersama Mak, tak perlulah tanya-tanya Pak.
Kami memang tidak dekat.

Super hero saya adalah Mak. Dia bisa dan tahu segala.
Pak? Jaman kecil dulu, saya tak terlalu memperhatikan kehebatan yang dimiliki Pak. Bahkan –saat itu—menurut saya, tidak ada yang hebat dari Pak.

Mungkin karena di jaman itu saya memang tak punya banyak waktu bersama Pak. Tak ada kesempatan mengamati dan bermain dengan Pak. Di masa itu, pekerjaan membuat Pak selalu pergi ke tempat yang jauh. Sebagai pelaut ia hanya bisa pulang seminggu-dua minggu, lalu pergi lagi berbulan-bulan. Setelah ia pindah kerja di kantor, kami juga jarang bertemu, karena ia berangkat sangat pagi dan pulang larut malam. Kalau pulang cepat, pasti ada teman-temannya yang datang ke rumah. Kongkow-kongkow sampai malam sekali.

Kami jarang bicara.
Jarang sekali.

Tetapi pada suatu hari –saya masih ingat betul: pas kelas 1 SMP– tiba-tiba Pak mengajak saya nonton film di bioskop Mega, dekat rumah. Bioskop itu terkenal murah karcisnya. Filmnya pun tak jelas datang dari mana. Tapi buat kami, bioskop itu luarbiasa. Awesome. Di Mega ini, saya sering diajak Mak nonton film-filmnya Heintje –penyanyi asal Belanda yang suaranya cemengkling, juga Melody Fair. Dengan Pak, hari itu, saya ingat film yang kami tonton: The Secret of Africa. Sebuah film dokumenter tentang berbagai suku di Afrika yang dibuat tahun 1969. Pulang dari nonton, kami mengobrol banyak sekali tentang kebiasaan dan adat istiadat suku-suku Afrika yang ada di film. Percakapan panjang pertama saya dan Pak.

Setelah itu, kami jadi sering nonton film berdua. Saya ingat kami nonton satu film untuk 17 tahun ke atas. Lipstick judulnya dengan pemeran utama Margaux Hemingway. Di perjalanan pulang ke rumah yang tak terlalu jauh dari bioskop, Pak mencoba menjelaskan apa yang menimpa Margaux dan adiknya, Muriel Hemingway di film tadi: tentang laki-laki, perempuan, dan hubungan seks yang tak diinginkan oleh salah satu pihak.

Selain nonton, Pak juga sering mengajak saya nonton film. Atau mendadak membawa saya ke Studio 5 RRI, menonton pertunjukkan musik klasik The Marriage of Figaro. Berdua saja. Saya suka semua.

Pernah suatu hari, sebagai hadiah ulang tahun, ia mengajak saya berkunjung ke kantor redaksi Tempo, yang saat itu ada di Senen Raya. Ia memanfaatkan pertemanannya dengan salah satu pimpinan perusahaan majalah ini. Di sana kami membeli bundel majalah Tempo edisi awal, yang dimulai dengan cover Minarni, sang jagoan bulutangkis jaman itu. Bukan main! Hanya Pak yang memikirkan itu sebagai hadiah ulang tahun.

Bersama Mak, saya bisa cerita apa saja. Tentang teman dan diri sendiri. Tentang pelajaran dan cita-cita, taksir-menaksir. Dengan Pak, percakapan kami lebih pada pandangan masing-masing tentang buku, film, musik, sejarah, teka teki silang, ide-ide baru, siapa yang akan dapat Oscar. Tak sekali pun kami membahas tentang diri masing-masing. Ia tak pernah menyampaikan apa yang ia inginkan dari saya. Sebaliknya saya pun tak pernah berbagi soal masa depan. Kami selalu membahas orang lain. Kalau Pak punya pesan penting yang harus disampaikan kepada saya, kalau tak lewat buku yang tiba-tiba muncul di meja makan, maka bisa dipastikan Mak jadi penyambung lidah. Mak –hampir selalu- memulai dengan kalimat ini, “Pak merasa kamu harusnya…..”
Dan saya merasa itu bukan masalah.

Sampai pada suatu hari, Mak tak ada lagi di sisi kami. Kami berdua kehilangan penghubung, pembawa pesan.

Mendadak saya merasa canggung dengan kondisi ini. Saya selalu bicara dengan Mak tentang segala hal yang menyangkut keluarga, tentang kami semua. Termasuk urusan adik-adik., juga tentang kekhawatiran Mak atas Pak. Begitu ia tak ada, dengan siapa saya harus membahas semua itu? Akankah Pak bisa jadi teman bicara seperti Mak? Bulan-bulan pertama kepergian Mak, kami tak banyak bicara. Rasanya tak ada yang bisa dan perlu dibahas. Apalagi saat itu saya sudah tak tinggal serumah dengan Pak.

Ketika adik perempuan saya menikah dan langsung berangkat ke Jerman, Pak yang tinggal bersama kedua adik kembar saya, yang keduanya laki-laki, merasa harus ada perempuan di rumah besar. Ia meminta ijin pada suami saya, agar kami bertiga pindah ke rumah besar, menemaninya. Dan sejak itu kami tinggal seatap hingga ia tutup usia di usia 85 tahun.

Saat tinggal bersama itulah, saya lebih mengenal Pak. Suami saya bilang, Pak memang tak seperti bapak-bapak pada umumnya. Ia punya cara berpikir dan bertindak sendiri, yang kadang tak dimengerti orang lain.

Pak adalah pekerja yang sangat mencintai pekerjaannya. Bila hatinya tak lagi sepakat dengan kondisi kantor, ia akan mencari jalan untuk melakukan perubahan. Bila tak berhasil, tanpa laporan atau diskusi dengan Mak, ia berhenti dari pekerjaan. Begitu saja, tanpa rasa berat.

Dan setelah cukup lama tinggal bersamanya, saya sepakat dengan pendapat suami. Keputusannya memilih rumah, pekerjaan, barang, semua dilakukan dengan pertimbangan yang kadang mengherankan kami. But somehow it worked for us.

Pak –menurut rasa saya—memposisikan saya lebih sebagai teman diskusi, rekan kerja ketimbang anak ☺. Buat Pak, saya adalah perempuan dewasa yang dia kenal  dan bisa diajak bicara segala hal yang memenuhi kepala dan hatinya. Ia tak peduli bahwa perkara yang ia sampaikan sering ‘agak’ mengejutkan dan tak lazim dibahas seorang bapak dengan anak perempuannya.
Apa pun itu, saya senang ia bersedia berbagi.

Terus terang saya menyesal mengapa kami tidak dekat dan akrab sejak dulu. Entah apa yang akan ia sampaikan bila kami sempat berdiskusi tentang keinginan saya jadi pilot, atau cowok yang pernah saya taksir atau menaksir, tentang pilihan kuliah, pekerjaan…. Pasti berbeda dengan hasil omongan saya dengan Mak.

Seandainya bisa, saya ingin duduk di sebelahnya dan menceritakan semua itu. Kami bisa bersahabat sangat baik sejak awal.

Saya yakin.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Pak :)

  1. Emakmbolang says:

    Baca ini, pikiran saya melayang sama almarhumah Ayah. Suka Ngajakin nonton film Bollywood. Beliau selalu membebaskan pilihan kami dengan penuh tanggung jawab, nggak pernah menghakimi. Miss Him so much

    Like

  2. Gita says:

    Saya senang membaca tulisan Ibu tentang Mak dan Pak, dan kerap kali pikiran saya melayang pada buku Nawilla… 🙂 kebetulan saya juga tidak dekat dengan Papa saya, bahkan sampai sekarang… tapi angan-angan mengenai kedekatan seorang Bapak dan anak perempuannya tetap saya pelihara hingga kini… 🙂

    Oh ya… dulu waktu kecil saya juga pernah bercita-cita jadi pilot, meskipun hingga kini tak pernah saya ungkapkan.

    Liked by 1 person

  3. rgaudiamo says:

    Hai, Gita…
    Terima kasih.
    Ya, NaWilla memang sangat terinspirasi dari cerita masa kesil saya bersama Mak dan Pak. 🙂

    Gita,
    Kedekatan dengan ayah mungkin memang tidak bisa dipaksakan.
    Tetapi saya yakin bahwa keinginan untuk bisa dekat ada juga di pihak sana. Papa juga pasti ingin dekat, tapi tak tahu bagaimana caranya.
    Pasti ada cara untuk itu. Dan Gita akan menemukannya.

    Wah, mau jadi pilot juga?
    Ya ampuuuun….
    Seandainya terlaksana, mungkin kita bisa jadi rekan di cockpit ya?
    r

    Like

  4. Mbak, aku malah lebih dekat dengan ayahku. Tapi juga tidak begitu dekat sampai bahas pacar. Pastinya bergurau atau jalan2 berdua sering sekali. Ketika aku mulai tinggal diluar negeri lah yang membuat ayahku sedikit2 menjauh.

    Liked by 1 person

    • rgaudiamo says:

      Mungkin jarak yang membuat bapak mendadak sulit berkomunikasi, karena tadinya bisa ngobrol lepas, jalan bareng…. mendadak sekarang ada jarak, waktu yang harus dipertimbangkan. Bahkan hanya untuk menyapa apa kabar.
      Mungkin….

      Liked by 1 person

  5. Dear Reda….Bagus sekali ceritanya.. Aku jadi ingat kembali Mama & Papa Reda. Waktu aku & teman-teman masih suka main ke rumah Reda, latihan nyanyi sampai sore… Mereka sangat baik dan sering memberi support.. Kangen juga dengan masa-masa itu ya..

    Liked by 1 person

    • rgaudiamo says:

      Hai Happy!
      Iya, jaman itu jaman kita ketawa-ketawa dan nyanyi-nyanyi, juga jalan-jalan ke mana-mana. Masa yang indah. Nggak bakalan lupa pada petualangan kita bertiga ke ngeri orang itu. #kangenHappynEmma

      Liked by 1 person

  6. Tersentuh sekaligus ngiri saat baca tulisan ini, juga tulisan Mbak Reda tentang Mak dan Pak yang udah lama itu (saya sempat membacanya). Hihihi, ngiri karena masa kecil Mbak Reda asyik sekali, dan kaya dengan orang tua yang superkeren. Orang tua saya juga superkeren, ding.

    Nice writing, very nice, indeed, Mbak. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s