Pepeng – Catatan dari 34 tahun lalu


Telepon genggam saya berdering pagi tadi. Tak sempat diangkat.. Ternyata dari Mak Eva.
Belum sempat membalas, Shanti Radianti –teman di kantor– datang tergopoh-gopoh. Wajahnya muram. Lalu bibirnya bergerak, “Pepeng.”

Tanpa banyak keterangan, saya tahu.
Telepon Mak Eva pasti menyampaikan hal yang sama.
Pepeng pergi.

Hal yang dikhawatirkan, yang diperkirakan, yang dihitung banyak orang berkali-kali, berbulan, dan bahkan bertahun-tahun itu, terjadi. Semua orang seakan bersiap dia akan pergi pada suatu ketika. Bahkan Pepeng sendiri berkali-kali mengisyaratkan bahwa akan tiba waktunya untuk berangkat, mengepakkan sayap untuk terbang tinggi ke awan. Toh, ketika saat itu tiba, semua terhenyak. Tak mengira. Tak terima juga.

Mengapa sekarang? Kalau pertanyaan itu didengar oleh Pepeng, saya yakin ia akan menjawab, “Mengapa tidak?”

*

Tinggi, Besar, Kribo
Saya pertama kali ‘tahu’ Pepeng, ketika ikut OSPEK angkatan ’81, di Fakultas Sastra (sekarang FIB) UI Saya ingat, Mak bilang OSPEK itu kegiatan main-main. Cuma pura-pura. Drama. Tapi begitu Pepeng masuk Teater Sastra, saya meragukan omongan Mak. Ini serius. Bukan drama.

Pepeng tinggi besar, kribonya. Yang membuat saya agak mules adalah suaranya yang menggelegar. Sudah keras, pake microphone pula. Dan matanya yang gampang sekali membelalak.

Ternyata itu cuma tampilan. Bahkan bisa dibilang, saya selalu berharap Pepeng terus ada di Teater dan memberi instruksi ini itu, yang menggelikan. Setiap kali ia melempar omongan, urat tawa langsung bergetar hebat.

Tugas yang ia berikan cukup menggemaskan. Salah satunya, kami ditugaskan membawa kotak korek api bergambar 3 duren. Cari ke mana-mana juga tak akan ada karena buatan pabrik cuma bergambar 2 duren. Untung ada teman satu grup yang penuh akal –Ichan- menggambari satu-satu kotak korek api kami dengan duren ketiga. Kami jadi regu paling oke untuk tugas ini. Yeaaay! Senang bisa menjawab tantangan Pepeng.

Di malam penutupan OSPEK, Pepeng membuat pesta raya, bekerja sama dengan Kasino, Dono dan Indro. Ceritanya ada malam pesta “perkawinan Lady Di dan Pangeran Charles” versi OSPEK 1981 (saat itu perkawinan akbar di Inggris baru saja berlangsung). Pangeran Charles-nya datang dari FISIP, sedangkan Lady Di dari FIB. Berbondong-bondong kami, semua mahasiswi pakai longdress (!) dan mahasiswa pakai jas dengan bawahan sarung, bergerak dari Teater Sastra menuju FISIP, mengiringi gerobak sampah yang sudah disulap jadi ‘kereta’ buat Lady Di of FIB (saat itu Fakultas Sastra). Nah, agar kelihatan kalau kami ini rombongan pengarak pengantin putri, semua mahasiswi baru harus membawa biji pepaya dan lem UHU. Sebelum arak-arakan dimulai, semua mahasiswi harus menempelkan biji pepaya itu di sudut kiri atas bibir, menjadi tahi lalat, sesuai dengan letak tahi lalat pemerah Lady Di – Wiwien dari Sastra Prancis. Semalaman biji pepaya itu nangkring di pojok wajah, menemani kami tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan ulah Pepeng dan Warkop di halaman FISIP.

Selebriti Itu Manajer AriReda
Seusai OSPEK, saya baru tahu kalau Pepeng itu juara lawak tingkat mahasiswa. Saya juga baru tahu kalau ia punya grup lawak bersama juara-juara yang lain: Bang Nana Krip, Krisna, Najib dan Bang Taufik. Info ini saya dapat dari teman-teman seangkatan di Sastra Prancis: Indah, Ineng, Cynthia, dan Chitra yang lebih dahulu rajin ngobrol dengan Pepeng. Saya? Saat itu saya tak merasa perlu kenal Pepeng lebih dekat. Cukuplah tahu kalau dia itu selebriti.

Tapi pada suatu ketika, giliran saya tiba untuk bisa lebih dekat dengan Pepeng. Dan berteman. Dan yang membuat saya nyanyi di panggung. Nyanyi? Ya. Kalau bukan karena Pepeng, saya tak akan pernah nyanyi-nyanyi sampai sekarang. Tidak akan berduet dengan Ari Malibu. Tidak akan bikin album… Semua itu, Pepeng penyebabnya. Ia yang mempertemukan saya dan Ari Malibu. Memaksa kami duet.

Kalau dipikir-pikir, kok ya kami menuruti perintah Pepeng. Dua hari setelah kenalan, Ari dan saya menyanyi untuk acara ulang tahun Ikatan Kekerabatan Antropologi yang ke-dua puluh lima.

Setelah acara 25 tahun Ikatan Kekerabatan Antropologi, Ari dan saya tampil di acara Dies Natalis 1983. Tadinya, untuk acara besar UI ini, Pepeng ingin membentuk trio: Ari, saya dan Kik Maria(putri bintang film Susana yang saat itu mahasiswi baru jurusan Sejarah). Sayang, Kiki Maria tak kunjung datang ke ruang senat yang ramai dan heboh dan penuh asap rokok itu hingga hari H tiba. Maka jadilah Ari dan saya saja yang menyanyi. Ketika harus disebutkan di buku acara Dies Natalis, Pepeng bilang nama grup ini Ari Reda. Tanpa tanda “&”. “Gitu aja. Gampang diinget.,” katanya.

Sejak Dies Natalis, kami jadi sering menyanyi. Pemberi ordernya? PEPENG. Diaturnya kami ngobrol di radio, main di berbagai kampus, manggung di Ratu Plasa, JCC yang dulu dikenal dengan nama Balai Sidang. Sang selebritis jadi manajer kami.

Teman Mak, Penakluk Pak
Pepeng membuat grup GMSelo –Gerak Musik Seloroh bersama Yando, Donny Metri (alm), Konar, dan banyak teman asal Antrop lainnya. Kegiatan utama GM Selo: mengisi panggung di Pasar Seni, Ancol. Ari Reda ikut jadi pengisi acara. Saya –terlanjur suka nyanyi- mau saja. Tapi Mak kurang sepakat. Saya lapor ke Pepeng, dan ia datang ke rumah, berkenalan dengan Mak. Katanya biar Mak tahu ke mana anaknya ini pergi setiap akhir pekan, dan melakukan apa. Tadinya saya takut ia akan membuat Mak semakin tak memberi ijin. Oh, saya salah besar. Mak dan Peng malah cocok. Berjam-jam bereka mengobrol. Cakeplah.

Ketika main di Pasar Seni dan tempat lain semakin kerap, giliran Pak yang kurang gembira. Kembali Peng datang menyelamatkan. Secara khusus ia main ke rumah kami, menemui Pak. Bukannya bicara soal nyanyi di Pasar Seni, PEng dan Pak malah terlibat diskusi serius tentang masalah sosial, film, musik. Segala rupa. Setelah Sabtu itu, kegiatan nyanyi di mana pun tak masalah. Bahkan jam pulang nyanyi yang sudah lewat tanggal pun tak dibahas. Canggih, kau Peng.

Sejak awal terbentuk, Pepeng terus mengusulkan agar Ari Reda punya lagu sendiri. Bikin lagu sendiri. Tapi entah kenapa kami tak kunjung menurut.

ariredaIMG_2876

Ketika kami akhirnya sibuk dengan musikalisasi puisi, ia senang sekali.. Kami baru bisa pamer padanya utuh isi album kami itu tanggal 5 Oktober lalu dengan menyanyi di depan tempat tidurnya. Lalu kami ulang lagi sebulan kemudian. Kali ini bersama banyak teman yang datang. Mini konser di tepi tempat tidur Pepeng. Luarbiasa kau, Peng.

Niat hati ingin mengulang lagi, tapi terus tertunda.
Beberapa hari lalu, sempat terpikir ingin datang menemuinya, bercerita soal rencana pembuatan album baru AriReda.
Tapi terlanjur datang berita itu.

*

Peng,
Entah apa yang kau temui di perjalanan menuju negeri Malaikat, yang pasti nyanyian kami menyertaimu.
Untuk semua yang sudah kau mulai dan tumbuhkan serta menguat: terima kasih kami tak putus.

#pelukPeng

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pepeng – Catatan dari 34 tahun lalu

  1. Tjitjil says:

    sampe mbrebes mili bacanya Reda…aku kenal Mas Peng sejak Mas Peng msh tinggal di Rawamangung, aku bersahabat dengan adiknya, Pree.
    Selamat jalan Mas Peng…Sang Khalik sudah rindu bertemu dengan Mas Peng.

    Like

    • rgaudiamo says:

      Hai Tjijil,
      Terima kasih komentarnya.
      Sang Khalik punya rencana yang mungkin sulit kita terima.
      Tetapi saya yakin, pasti yang terbaik untuk semua. Juga buat Peng dan keluarga tercinta.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s