Pepeng & Cinta Bernama Tami


Ketika berkenalan dengan Pepeng, saya tak tahu apakah ia punya pacar atau tidak. Teman-teman sesama Sastra Prancis sih bilang pernah ada seseorang dari fakultas di seberang Taman Sastra yang dekat dengan Pepeng. Bisa dekat kembali, atau dalam proses menjauh buat selamanya, saya tak tahu. Nama dan orangnya yang mana, saya tak tahu juga. Tepatnya saya tak berminat mencari tahu. Yang jelas, di kepala ini, saya bayangkan kalau Pepeng punya pacar, pasti sama tingginya. Mungkin sama galak dan kerasnya. Sama-sama suka buku, suka musik, suka pertunjukkan… Suka semua yang disuka Pepeng. Mungkin lho.

Tiba-tiba pada suatu hari, Pepeng mengajak saya menemaninya. Kemana? “Ada lah. Slipi.” Heh? Slipi? Ngapain ya ke sana? “Gue mau nemuin orang. Elo musti ikut. Soalnya ada hubungannya sama elo.” Siapa? Hubungan apa? Herannya –aduh!- saya manut saja. Berangkatlah kami naik bis kota. Di sepanjang jalan, Pepeng tak banyak bicara. Sekarang, saya mengartikannya sebagai grogi. Tapi dulu, saya melihatnya dia sedang konsentrasi untuk sebuah pertemuan penting dengan entah siapa itu. Bahkan saya menduga itu pertemuan bisnis, yang terkait dengan kegiatan GMSelo, atau pertunjukkan lain.

Di Slipi, kami jalan sedikit –atau naik bajaj, ya? Lupa—menuju sebuah alamat yang dicatat di kertas kecil. Tak lama kami tiba di sebuah rumah besar di, Anggrek Nelimurni, kami mengetuk sebuah pintu. “Rumah siapa, Peng?” Dan jeng-jeeeeeeng: ternyata itu rumahnya Utami Sutoto alias Tami, adik kelas saya, Prancis angkatan 82. Ya ampuuuuuuun, jadi ceritanya saya menemani dia melakukan kunjungan pertama ke rumah calon pacar. Meski agak kikuk di bagian awal, percakapan kami: Pepeng, Tami, saya, dan kadang ditimpali ibu dan ayahnya, berjalan cukup lancar. Dalam perjalanan pulang, Pepeng pengtampak sangat rileks. “Jadi dia?” saya bertanya. “Asyik, nggak orangnya?” Peng balik bertanya. Ya. Tepatnya asyik banget!

Sejak masuk Sastra, Tami memang menjadi pusat perhatian. Pertama karena dia cantik. Kedua sangat modis. Gaya Tami mengingatkan saya pada halaman-halaman mode Marie Claire dan Elle Prancis yang sering jadi bahan bacaan anak Sastra Prancis saat itu. Saya masih ingat, pada suatu hari Tami ke kampus dengan kacamata lebar, jumpsuit hijau dan bibir merah. Keren!

Saya perhatikan gaya Tami kalau lewat di koridor Fakultas Sastra. Ia tak merasa perlu untuk menoleh pada mereka yang iseng melempar komentar atau bersiul. Kepalanya tetap tegak. Kalau pun sampai menoleh, karena merasa kenal dengan suara yang memanggil, itu dilakukan dengan dagu sedikit terangkat. Tapi itu hanya sesaat karena ia akan kembali meneruskan jalan kalau yang ditengok bukan orang yang dikenal. Mungkin buat orang tertentu gerak tubuhnya terasa agak angkuh, tapi buat saya, gaya banget! Seperti model saja. Awesome. Dan This Awesome Girl yang selain gaya, bahasa Prancis, Inggris dan Belandanya mengalir seperti air inilah yang ditaksir habis-habisan oleh Pepeng. Meski Tami tak tinggi besar, tapi ia pasangan yang begitu pas dengan Pepeng. Bacaannya bukan main. Pengetahuannya luas nian. Cocok banget.

Tami dan Pepeng tak perlu banyak waktu untuk dekat. Dalam sekejap mereka tampak begitu pas. Cocok. Lalu mereka menikah.

Di bulan-bulan awal perkawinan mereka, kami –GM Selo- dan anak-anak Antrop lain, juga Arkeo, tak pernah absen main ke rumah mereka yang kecil mungil di Rawamangun Muka. Tepatnya rumah petak yang memanjang ke belakang dengan satu ruang tamu, kamar, tempat masak dan WC/kamar mandi.

Selain kunjungan teman-teman, rumah ini juga sering kedatangan tamunya Tami. Mereka adalah klien fashionnya. Di ruang tamu yang tak luas itu, Tami menyusun display kain-kain. Saat itu, memang Tami sedang sibuk-sibuknya dengan bisnisnya yang satu ini. Jadi, terbayang betapa padatnya rumah itu. Ada yang menumpang bikin tugas dengan mesin ketik yang ketak-ketik, ada yang konsultasi soal fotografi, ada yang memaksa diri membaca buku, ada yang diskusi soal seminar skripsi, dan ada yang mengukur badan, mengambil jahitan, atau mengacak-acak tumpukan kain. Luarbiasa heboh! Dan itu berlangsung setiap hari. Juga malam. Dan bersambung sampai keesokan harinya.

Ya, kami menginap di rumah kecil itu bersama-sama. Bermalam-malam pula! Rajin berkunjung, rajin ngobrol, akhirnya kemalaman, dan berujung pada menginap. Bergerombol. Mak saya sampai bingung melihat anaknya ini jadi sering menginap di rumah Pepeng dan Tami. Belakangan Mak malah jadi rajin mengirim makanan dan sebuah rice cooker mini buat pengantin baru dan para tamu yang nggak tahu diri ini. Yando, Donny Metri, Ace, Ari, Amalia, Konar, Tito, Ria, Toha, saya, adalah beberapa manusia yang jadi penginap setia di rumah mereka. Pernah suatu kali ada dua puluh manusia mengisi rumah pengantin baru ini. Gerombolan ini ngobrol tak tamat-tamat, diseling dengar lagu yang kemudian dibahas panjang lebar, diskusi buku wajib kuliah sampai novel antah berantah, pertunjukkan. Semua enggan tidur duluan.

Tentang bisnis fashion Tami, saya pernah mendapat kehormatan mengenakan baju rancangannya ketika kami manggung di Balai Sidang eh, Jakarta Convention Hall. Saat itu ada pertunjukkan besar, saya dan Ari menyanyi. Tami membuatkan satu gaun putih ber-pettycoat di atas lutut berlengan ¾. Gaya banget. Satu lagi, berwarna merah, longdress yang dipakai ketika nyanyi dalam grup vocal besutan Pepeng dan Yando: Citranita, bersama Chitra Dwiyanti, Emma Nababan, Happy A. Anggraeni, dan Ellis Karlina. Longdress paling keren yang pernah saya punya dan pakai.

Kalau diingat-ingat lagi, kami ini memang kelewatan banget pada Pepeng dan Tami. Bukannya membiarkan sepasang kekasih ini menata hidup baru sebagai suami istri, eeeeeeh malah direcoki siang malam di rumah kecil itu. Untungnya kebiasaan nginep bergerombol itu akhirnya hilang juga. Semua mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Yang lulus mulai bekerja, yang penelitian tak muncul selama berbulan-bulan. Kontrakan habis, Pepeng dan Tami pun pindah ke rumah yang lebih besar, masih di Rawamangun, di Jalan Nilam. Di sini anggota keluarga bertambah jadi tiga: Mamas, putra pertama mereka, lahir. Tak lama kemudian, karena urusan pekerjaan dan mungkin untuk memudahkan Tami pulang balik kampus, mereka pindah ke Depok.

Beberapa tahun kemudian, saya menikah dan mengekor tinggal di Depok, bahkan tak jauh dari mereka. Di sini, hampir setiap malam, saya dan suami berjalan kaki ke rumah Pepeng dan Tami. Kembali lagi kami ngobrol ke sana ke mari, berjam-jam tak ada habisnya. Ketika saya hamil, Tami menghibahkan satu tas besar berisi perlengkapan bayi: seprei, bed cover, bantal dan sarungnya, dan penutup pinggiran box bayi. Lungsuran Lalo. Warnanya pink muda. “Kali aja anak kalian perempuan, jadi pas dengan warna perlengkapan ini,” kata Tami yang membeli semua perlengkapan itu karena mengira akan punya anak perempuan. Ternyata dapat anak laki-laki, sementara tebakannya untuk anak kami, tepat. Kami punya anak perempuan. Ketika Tami hamil lagi setahun kemudian, saya bersiap untuk mengembalikan semua itu kepadanya. Tami bilang, boleh kalau yang datang ini anak perempuan. Ternyata dapat putra lagi: Izra. Perangkat bayi warna pink muda itu tetap di rumah kami.

Waktu seperti berlari.
Kami dilibat oleh urusan masing-masing. Pekerjaan membuat waktu bertemu tak bisa sesering dulu. Tetapi sesibuk apa pun, seperti ada jadwalnya, kami pasti bertemu. berkegiatan bersama lagi. Tanpa disengaja, tanpa diatur, selalu ada saja alasan dan kesempatan untuk membuat sesuatu, bersama. Dan setiap pertemuan begitu berharga. Terutama ketika mereka sudah tinggal jauh di Cinere. Tetapi di setiap pertemuan pada 10 tahun terakhir ini, terlihat jelas persatuan Pepeng dan Tami sungguh luarbiasa. Kekuatan keduanya bersatu, melewati hari demi hari yang penuh warna tanpa kenal lelah. Teman yang saya kunjungi rumahnya di Anggrek Nelimurni berpuluh tahun itu telah menjadi seorang perempuan yang begitu mengagumkan.

Saat ini Pepeng telah terbang tinggi ke negeri awan. Tapi saya berharap kesempatan untuk bertemu dan berbuat sesuatu bersama Tami dan putra-putranya akan datang dan datang lagi. Seperti ketika Pepeng masih berada bersama kami.

Semoga.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Pepeng & Cinta Bernama Tami

  1. Longdress merah dengan hiasan pita warna emas itu sungguh keren ya Reda….thanks to Tami, dan pengalaman manggung pertama di JCH benar-benar tak terlupakan

    Like

    • rgaudiamo says:

      Betul, Happy.
      Rasanya itu pengalaman pertama kita dengan fashion yang sesungguhnya. Longdress merah itu, keren banget dan entah kenapa kita santai-santai dan enak saja mengenakannya. Padahal waktu diusulkan pertama kali oleh Tami untuk pakai longdress, hati sudah cemas. Bawaannya mau menolak saja. Ternyata, oh ternyata…. Tami memang jagoan.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s