The One – part 1


 

berduaIMG_3936

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beberapa malam lalu, menjelang pagi, telepon genggam saya bergetar. Sebuah pesan pendek masuk dari seorang teman. Kami bekerja sama di tiga perusahaan, melewati masa ia pacaran, menikah, punya anak, dan berpisah.

Pesannya pendek saja.
“How can I tell that he’s the one?”

Saya tahu, ia mengirimkan pesan itu di tengah kepenuhan hatinya. Dan saya pun mengerti ia tak meminta saya menjawab saat itu juga. Tetapi pertanyaannya membuat saya langsung duduk tegak, dan dua ibu jari sibuk menekan huruf-huruf di layar telepon genggam.

Ini yang saya tuliskan malam itu…..
1. He makes you his #1 priority, not his mom. 🙂
2. He supports you without asking you to support him first.
3. He makes you LAUGH
4. He doesn’t mind you have plenty of activities that most of them don’t include him
5. He’s happy for you.
6. You feel safe when you’re with him.
7. He makes YOU a better person.
8. He adores you, no matter what you think of the shape of your nose or your frizzy hair.

Teman saya yang berada di ujung sana, diam sesaat. Lalu, layar memunculkan teksnya: How about his look? Does it matter?

Tampangnya: ganteng atau tidak ganteng, pentingkah?
Pertanyaan sederhana tapi mendadak sulit dijawab.
Setelah diam sesaat, ini jawaban saya untuk teman di ujung sana….
What matters most: you see him as a gorgeous man. Handsome.

Adalah Mas DS Wardana yang dengan begitu tepat menjabarkan tentang kegantengan seorang pria di mata kekasihnya. Menurut Mas Dhana, ia dicintai bukan karena keren tapi ia keren karena dicintai. Di mata istri yang mencintai dengan segenap jiwa, dia adalah pria paling keren sedunia. Cinta yang bersemi di hati sang belahan jiwa, membuat Mas Dana sangat luarbiasa.

Sekali lagi: di mata kita, si pilihan hati ini tampak ganteng.

Tapi tidakkah wajah yang tampan menjadi jalan menuju naksir dan jatuh cinta?
Bisa jadi. Dan memang itulah yang terjadi berjuta milyar kali. Tetapi bukankah selalu juga yang kita anggap ganteng habis-habisan dinilai biasa banget, atau bahkan jauh dari keren oleh teman dan keluarga kita? Mengapa bisa begitu? Karena mereka tak mencintai pilihan kita ini. Kita mati-matian suka dan memuja, karena rasa kita padanya berbeda. Cinta membuat mata jadi amat sangat subyektif.

Bisa jadi juga, ketika pertama bertemu, mata memberi penilaian pria ini biasa saja. Tetapi setelah tahu perilakunya yang keren, mendadak ia jadi super super tampan di mata kita. Dan sehari tak memandangnya, sakaw lah kita. Oh.

Jadi, perilaku keren membuat orang ganteng dan rasa di dada membuat seseorang tampak begitu mempesona di mata kita?
Saya jawab: Ya.
Lama tak muncul teks baru, saya mulai meluruskan badan. Siap meneruskan tidur. Ternyata ia bertanya lagi:
The one you’re with, is he the one? Have you ever doubt your choice?

Saya letakkan telepon genggam di pangkuan.
Saya perlu waktu untuk menjawab pertanyaannya.
Saya perlu memandang dia, pilihan yang saya tetapkan tanpa ragu di Desember tahun 1985.

–bersambung 🙂

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to The One – part 1

  1. Tuty says:

    He accepts you with all of your imperfections and never puts you down to make him feel superior.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s