Tahun Ini….


8iEoxAkBT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk kesekian kalinya, Lebaran adalah hari-hari sepi di ibu kota.
Tak ada alasan untuk menjadikannya berbeda.

“Tiket kendaraan apa pun sampai hari Lebaran sudah habis terjual.”
“Siapa yang mau pergi?”
“Kita.”
“Ke mana?”
“Pulang.”
“Pulang ke mana?”
“Ke rumah Ibu.”
“Repot-repot amat.”
“Jadi nggak pulang?”
“Kenapa harus pulang? Tidak penting. Buang uang, buang waktu, buang energi. Capek, emosi…. Buat apa?”
“Tanya saja….”
“Ya, jawabannya itu: tidak ada acara pulang. Mudik. Kita jadi cowok-cewek metropolitan….”
“Tapi sepinya bukan main.”
“Itu enaknya!”
“Sebetulnya…. Mungkin saja ada perlunya kita pulang.”
“Apa?”
“Menengok Ibu.”
“Buat apa menengok orang yang tak ingin melihat kita? Kalau kau mau, pergilah sendiri. Aku tidak.”
“Tapi dia kan ibumu. Nggak lucu kalau aku yang datang dan kau tidak ikut….”
“Dia ibuku, tapi aku tak merasa perlu bertemu dengannya. Usul berlebaran ke sana, usulmu. Bukan usulku.”

***

Sudah lima kali Lebaran Nan tak pulang. Ini tahun ke-enam.
Pada tahun pertama, kedua, keputusannya untuk tidak berlebaran di Solo kudukung penuh. Oh, aku punya hak untuk setuju. Bahkan aku sangat berkepentingan dengan keputusan itu.

Nan sudah bertunangan dengan seorang dokter, anak sahabat ibunya. Dan tiba-tiba kami berkenalan –lewat kelompok teman yang saling kenal—pada sebuah pertunjukkan musik idola kami berdua. Sejak itu kami sering bicara, bertukar cerita, tertawa, menonton pertunjukkan musik berkali-kali…. Semua berjalan begitu saja, sampai pada suatu hari, Nan bilang ia tak bisa meneruskan pertemanan kami lagi.

“Kenapa?”
“Karena tunanganku bilang ini sudah tidak sehat lagi.”
“Karena?”
“Karena ketika bersamanya, aku lebih sering cerita tentang kita, ketimbang kami.”
“Oh.”
“Dan aku terus mengundurkan tanggal perkawinan kami.”
“Oh.”
“Ada dua pilihan: kita tak berteman lagi, atau aku memutuskan pertunangan kami.”

Aku tak ingin pertemanan dengan Nan terhenti. Tapi aku juga tak mau pertunangannya putus. Lalu Nan tiba-tiba menghilang dua minggu sebelum menikah: ketika undangan telah disebar, baju pengantin telah tergantung di kamarnya. Semua orang mencari. Ibunya menemuiku, dan meminta aku bertanggung jawab atas kepergian Nan. Sekeras apa pun usahaku menjelaskan bahwa aku tak mengajak, apalagi menyembunyikan Nan, ibunya tak percaya. Kalau bukan karena bujukan Pakliknya, aku pasti sudah masuk penjara, terkena kasus menghilangkan orang. Bukan main!

Sebulan berlalu, Nan mendadak muncul di studio, di depanku. Tak ada cerita apa-apa, kecuali memintaku menemaninya pulang, bertemu ibunya. Aku menolak.

“Pulanglah sendiri. Kalau aku mengantarmu, tuduhan ibumu akan terbukti benar.”
“Tapi kejadiannya tidak begitu. Ibu harus tahu itu. Aku pergi sendiri, dan sekarang aku pulang.”
“Tidak bisa. Ibumu yakin aku yang membawamu pergi. Dan sekarang, setelah perkawinanmu resmi dibatalkan, aku datang mengantarmu. Dugaannya terbukti benar. Aku memang laki-laki yang tidak bisa dipercaya!”

Tapi siapa yang bisa menolak Nan?
Akhirnya aku datang ke rumah kecil di sudut Pasar Triwindu bersamanya. Dan –tentu saja—yang kukhawatirkan terjadi. Ibu marah amat sangat. Nan tak kurang menyalanya. Dua perempuan itu ribut besar. Suara keras beterbangan, memekakkan telinga. Kutinggalkan keduanya. Tak sampai sejam kemudian, Nan sudah ada di sampingku. Matanya bengkak. Kami kembali ke Jakarta.

Aku mencintai Nan. Api yang ada di matanya, kecerdasannya, membuatku menyala lebih terang. Aku perlu Nan. Dan Nan bilang perlu aku untuk menjaga emosinya tetap di kadar normal. Kami menikah sebulan kemudian. Bulan Puasa datang dua bulan berikutnya. Nan menelepon ke rumah. Ibu tak hendak bicara dengannya. Lewat pamannya Nan menitip salam, bertanya tentang suasana hati ibu. Tapi jawaban yang kami terima tak menyenangkan. Ibu tak ingin nama Nan disebut di rumah Solo. Paklik bilang, keputusan Nan menikah denganku membuat Ibu malu pada calon besan, ibunya si dokter itu. Belum lagi urusan menarik undangan dan memberi penjelasan mengapa pernikahan batal. Paklik mengabari foto-foto Nan sudah turun dari semua dinding dan bufet. Selanjutnya, ia minta Nan tak usah menelepon ke rumah, jangan kirim apa-apa ke Solo karena hanya membuat tekanan darah Ibu naik. Untuk pertama kalinya, Nan melewatkan Lebaran di Jakarta. Bersamaku.

Lebaran kedua datang. Pesan dari Paklik tetap sama: jangan telepon rumah. Jangan datang. Jangan kirim apa-apa. Semua itu hanya bikin tegang. Kasihan Ibu. Aku –saat itu—lega dan senang pada berita yang disampaikan Paklik. Tak terbayang seperti apa repotnya bila Nan memaksa pulang. Tapi sekarang, aku yakin kami –seharusnya—pulang. Setiap memasuki bulan Ramadhan, Nan selalu penuh emosi. Ia begitu cepat naik darah bila percakapan kami menyinggung pulang kampung, Solo. Bulan yang harusnya membawa keteduhan justru membuat kepala panas. Dan Lebaran berlangsung datar. Aku yakin, segala sesuatunya akan berubah bila perseteruan Nan dan Ibu diselesaikan.

“Kau harus pulang.”
“Aku? Buat apa?”
“Karena itu akan membuatmu kembali waras.”
“Kau yang tidak waras.”
“Kau, kita harus pulang. Bertemu Ibu.”
“Kenapa?”
“Karena kau cinta padanya, Nan. Kau rindu dia. Tapi kemarahan, ego yang kau rasakan membuatmu memilih tinggal di sini. Dan itu menyiksamu.”
“Teori yang sangat hebat.”
“Akui saja, kau memikirkan Ibu. Emosi yang tak jelas naik turunnya setiap kita masuk bulan Ramadhan adalah buktinya. Setiap aku menyinggung Ibu di bulan Ramadhan, kau meledak. Padahal aku tahu kau sering diam-diam memandangi fotonya yang kau selipkan di antara kartu kredit, di dompetmu. Kau rindu Ibu. Ayo pulang. Kita cari cara untuk sampai ke Solo. Pasti bisa.”
“Aku…. Bagaimana kalau….”
“Kau takut kecewa. Khawatir ibu akan meledak lagi. Kalau ya, terus kenapa? Yang penting kau bertemu Ibu. Hapus rindumu itu supaya kau kembali jadi Nan yang kukenal.”
“Kau ikut menemani?”
“Tentu.”

Aku berharap sangat kami pulang, tahun ini. Tapi Nan tak menunjukkan gejala-gejala untuk mengambil cuti atau mencari tiket. Tak juga mencoba menelepon ke Solo, bertanya pada Paklik suasana di sana. Waktu berlari, bulan puasa semakin sedikit harinya. Aku mencoba mencari tahu suasana di Solo dari Paklik. Pesan pendek yang ia kirimkan membuat aku kembali ragu. Mungkin Nan benar, sebaiknya kami tetap di Jakarta. Lebaran tahun ini, Ibu dan anak perempuannya masih belum bisa bertemu.

Tiga malam lagi, takbiran.
Seminggu ini aku di rumah, hutang pekerjaan di studio rekaman sudah habis. Hari-hari sepi di Jakarta siap menyambut kami.
Tiba-tiba kudengar suara isakan.
Nan: kutemukan ia duduk di sudut kamar kami. Tangannya menggenggam fotonya bersama Ibu. Kupeluk ia erat.

“Aku rindu Ibu.”
“Ya, kita memang harus pulang.”
“Tapi aku takut dia masih marah…..”
“Tidak akan. Kalau pun ya, tidak apa-apa. Setidaknya kita sudah mencoba menemuinya.”
“Tapi kau bilang tiket semua kendaraan sudah habis.”
“Kita cari, pasti ada. Jangan pikirkan itu sekarang.”
Nan berhenti menangis. Kami tertidur di sofa.

Aku terbangun oleh pukulan tongkat besi di tiang listrik. Waktunya sahur. Tapi selain itu, kudengar pintu pagar kami dihentak-hentak. Nan ikut terbangun.
Tangannya menyambar kunci dan lari ke pintu. Aku mencoba menahannya, tapi ia sudah melesat ke depan. Lalu kudengar teriakannya.

Dari pintu yang terbuka, kulihat Nan panik membuka pagar. Di depannya berdiri sosok yang sangat kukenal. Matanya masih tajam seperti yang terakhir kali kutemui: Ibu.

Lebaran adalah hari-hari sepi di ibu kota.
Tahun ini, juga.
Tapi tahun ini, rumah kami sangatlah meriah.
Kami punya alasan untuk menjadikannya berbeda.

 

*)Cerpen ini telah dimuat di Nova Edisi Lebaran 2015

 

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s