The One – Part 2


The one you’re with…  Is he the one for you, Mbak?

Malam itu, ketika teman saya menanyakan lagi pertanyaan tadi, saya menoleh ke sisi kanan dan menemukan dia –pria berusia 62 tahun, dengan rambut kelabu yang terurai di bantal, bulu matanya bergerak-gerak mengikuti mimpi, sementara dengkur halus keluar dari bibirnya yang agak terbuka. Is he the one for me?

Untuk tiba pada pria yang alisnya menyambung jadi satu, berkulit gelap, bersuara rendah ini, saya perlu menengok jauh ke belakang. Pada percakapan saya dengan Ibu tentang pacar.

Sejak saya tergila-gila pada cerpen-cerpen cinta Majalah Gadis, Ibu sudah mulai memasukkan idenya tentang pacar. Menurut Ibu, pacar saya haruslah seperti Bapak.
• Pandai seperti Bapak.
• Pecinta seni, seperti Bapak.
• Cepat tanggap seperti Bapak.
• Tidak gengsian, seperti Bapak.
• Berani, seperti Bapak.
• Panjang sabar, seperti Bapak.

Ide itu tak pernah berhenti dihembuskan. Cara dan formulanya boleh berbeda, tapi intinya sama saja: cari pacar seperti Bapak.

Betul, saya mau punya pacar yang pandai. Tapi tidak seperti Bapak.
Sepakat pacar saya harus suka seni. Tapi tidak seperti Bapak.
Harus cepat tanggap. Tapi tidak seperti bapak.
Tidak gengsian. Tapi tidak seperti Bapak.
Berani. Tapi tidak seperti Bapak.
Panjang sabar… Ibu menganggap ini poin terpenting. “Satu-satunya doaku yang sampai saat ini belum dikabulkan oleh Yang Di Atas sana, adalah memberimu kesabaran. Karena sampai hari ini kamu masih belum bisa sabar juga, berarti permintaan itu hanya bisa dicapai lewat orang lain, pasangan hidupmu.”
Oh well…. If you said so, Mom.

Pada suatu hari saya berkenalan, berteman, dan akhirnya menjadi dekat dengan pria yang satu ini, yang saat ini berada di samping saya, tertidur lelap.

Dia –menurut saya—tidak seperti Bapak.
Menurut Ibu juga begitu.

Kulit Bapak, putih. Kulitnya jauh lebih gel. Kalau kami duduk bersisian, tampak benar bedanya.
Tidak seperti Bapak yang berambut lurus dan kaku. Rambutnya hitam tebal, mengkilat, berombak. Apalagi ketika dibiarkan tumbuh panjang, bagus sekali.
Ketika bicara, suaranya rendah. Ia jarang tertawa, tapi sudut bibirnya yang selalu naik itu siap tersenyum kapan saja. Suaranya rendah ketika berbicara.
Kalau Bapak berjalan dengan irama cepat, dia selalu berjalan dengan tenang. Sampai hari ini, saya amat suka melihatnya berjalan.

Tidak seperti Bapak yang bisa main gitar dan piano dengan lancar, pria pilihan ini selalu salah tempo. Bahkan untuk memukul gong yang cuma sekali pukul pun, ia meleset.
Tidak seperti Bapak yang pandai berdansa, tarian yang kami hasilkan adalah saling injak kaki.
Tidak seperti Bapak yang suka menyanyi, suara lelaki pilihan ini sering berbelok ke nada tak dikenal ketika saya mencoba menemaninya berduet.
Tidak seperti Bapak yang selalu berjalan cepat bahkan di pasar yang padat dan ramai, pria ini justru semakin melambatkan langkah, memberi perhatian pada hal-hal kecil, membuat saya harus menunggu atau menjemputnya.
Tidak seperti Bapak yang sangat ekspresif, dia sangat sulit memperlihatkan rasa sayang di depan umum. Pegangan tangan terjadi karena diperlukan saat menyeberang jalan. Kalau ada yang melihat kami bergandengan bukan saat menyeberang jalan, itu karena saya memaksa menggandeng tangannya.

Dia memang bukan Bapak.
Tetapi dia sama dengan Bapak: membuat saya bisa banyak hal, menyerap berbagai pengetahuan dan ilmu darinya. Dari desain grafis sampai puisi.
Ia membuat saya berani mencoba, melakukan, mewujudkan gagasan yang ramai berkeliaran di kepala.

“Kenapa tidak?”
Itu yang selalu ia lontarkan setiap kali saya mengajukan sesuatu.
Termasuk keinginan menggambari tembok dan lantai rumah kami dengan corat-coret sesuka hati.

Dia memang bukan Bapak.
Tetapi dia persis Bapak: sabar.
Satu, dua, belasan, puluhan, ratusan peristiwa datang dan pergi sejak kami mulai dekat. Setiap kali teratasi –hampir 99% berkat kesabaran orang yang tidak mirip Bapak ini –saya seperti diingatkan lagi dan lagi: kami memang sebaiknya terus bersama. Entah seperti apa jadinya kalau ia tak punya kesabaran seluas samudra. Saya tak berani membayangkan.

Ibu, doamu dikabulkan

Kesabarannya, kepandaiannya, dukungannya yang gila-gilaan atas apa pun yang saya kerjakan, adalah sebagian kecil dari hal-hal hebat yang ia miliki, yang ia tumpahkan di setiap jengkal perjalanan kami sejak sebermula itu. Saya tahu: satu, dua, sebelas perkara bisa saja datang di hari-hari mendatang. Tapi saya juga tahu, bersamanya satu, dua, sebelas perkara itu akan terselesaikan dengan baik.

Yes, he’s the one.
God gave to me.

Soal tidak bisa nyanyi, suaranya dan gitar saling berkejaran, meleset saat memukul gong, kurang romantis, menginjak kaki saat berdansa… Apa yang salah dengan itu?

His imperfections make him perfect and special for me and for our daughter. 

the one

 

 

 

PS. By the way, have I mention how handsome he is?

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to The One – Part 2

  1. imada says:

    Lovely!
    One question: Did you need to convince him that you are “The One” for him?
    Thank you, Mbak Reda!

    Like

    • rgaudiamo says:

      I asked him. Many times.
      There were times -he said- when he questioned himself.
      Knowing me (my behaviour, attitudes,…), being together for years, he has the right to stay or give up on me.

      Liked by 1 person

  2. tutyvoa says:

    I don’t think he will ever give up on you. I have not met mas Eddie personally but somehow I feel that he’ll stick with you no matter how “challenging” you can be (in a very good way… since I can’t keep up with you). Hugs from your sister across the ocean.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s