Kartu Pos


Bapak suka kartu pos.
Di rumah, ada berbagai-bagai kartu pos.
Yang paling banyak, bergambar kapal besar warna biru tua dan biru muda: Maersk Line. Tempat ia bekerja dulu. Mungkin dari situlah ia jadi suka kartu pos.

Kartu pos pilihan utama Pak adalah tentang keindahan Indonesia.
Biasanya, Bapak membeli sekitar 10 kartu untuk setiap gambar. Buat apa? Biasanya –lagi- dikirimkan kepada teman-temannya yang ada di seberang lautan, di berbagai negara.

Kartu pos berfungsi sebagai kartu ucapan Natal, Tahun Baru, ulang tahun…. Bisa juga sekadar untuk menanyakan kabar. Pernah suatu ketika, Bapak membuat foto kami sekeluarga, dan mencetaknya dalam format kartu pos. Wah, gaya betul.

Tapi selain kartu pos bergambar kehebatan Ibu Kota, Bali, Borobudur, fragmen tari Ramayana, Danau Kelimutu, Rumah Gadang, Bapak juga mengumpulkan kartu pos bergambar/ilustrasi dan wajah orang-orang yang tak kami kenal. Seperti foto yang ada di halaman ini.MEMORYplain

Siapa pasangan pria wanita yang ada di tiga foto ini, kami tak tahu. Tak ada nama, keterangan di balik gambar mereka. Yakin, mereka bukan bintang film ternama saat itu. Foto-fotonya juga tidak terlalu istimewa. Adegannya? Ah sudahlah. Tapi kartu pos dengan gambar seperti ini, ada di rumah. Mak sampai terheran-heran, buat apa mengumpulkan begitu banyak kartu pos bergambar wajah tak dikenal itu. Bapak bilang, temannya yang punya toko di Proyek Senen, ingin membuang kartu pos itu karena taka da yang mau beli. Daripada mubazir, Bapak menawarkan diri untuk membawanya pulang. Di rumah, kartu pos itu dipakai untuk mencatat macam-macam. Bahkan Ibu yang semula menganggapnya tidak berguna, memanfaatkannya sebagai kartu resep yang praktis.

Kartu pos
Buat saya tak terlalu istimewa, dan tak merasa ada gunanya. Apa yang bisa kita lakukan pada kertas yang tak luas itu? Bagian gambarnya tak bisa diganggu-gugat. Bagian beritanya, harus berbagi dengan sisi alamat. Di tempat sesempit itu, mau cerita apa? Tapi pada suatu hari, hubungan saya dengan kartu pos, berubah. Jadi lebih dekat.

Begini,
Pada suatu ketika, di jaman kuliah, saya mendapat kesempatan berangkat ke Jepang (gratis) karena terp jadiilih anggota sebuah grup kesenian. Perjalanan pertama ke luar negeri itu berlangsung selama 14 hari dan berpindah-pindah ke beberapa kota di Jepang. Saya gembira luarbiasa. Dan rasa itu ingin saya bagikan kepada semua yang ada di rumah. Begitu masuk hotel dan menemukan kartu pos di laci mejanya: langsung saya tulisi dan kirim ke Jakarta. Masuk kota baru, beli kartu pos, cerita, kirim. Ganti hotel, kirim kartu pos lagi.

Setahun berikutnya, bersama Emma Nababan, Happy Arie Anggraini, dan Riani Murti, saya berangkat ke Prancis selama dua bulan. Kembali kartu pos beterbangan, mungkin sampai puluhan karena selama hampir empat minggu saya tidur di kereta api, bangun di kota yang berbeda. Dari setiap kota, saya mengirim kabar lewat kartu pos.

Gerombolan kartu pos itu semua tiba di kantor Bapak dengan selamat, meski sering sangat terlambat –karena pakai prangko secukupnya, bukan kilat. Begitu terlambatnya sampai-sampai tiba setelah saya sudah berada di rumah.

Bapak dan saya, hampir selalu melewatkan sore dengan berdiskusi soal film, musik, komik, majalah, lukisan…. Tapi tidak tentang kami. Anehnya, ketika berada jauh di negeri orang, di atas sepotong kertas berukuran 15 cm X 10 cm, dengan bagian berita yang sangat tidak memadai itu, saya bisa bercerita macam-macam kepada Bapak. Dengan huruf super kecil, rapat, saya sampaikan apa yang ada di pikiran. Mulai dari yang menyenangkan, mengkhawatirkan… apa saja yang tak pernah bisa saya bahas ketika kami duduk di meja makan atau di beranda.

Kalau bisa mengulang sebagian dari hari kemarin, maka menulis di kartu pos adalah salah satu hal yang ingin saya lakukan lagi. Beratus kartu pos akan saya kirimkan kepada Bapak. Terserah apa gambar yang ada di depannya, yang penting di bagian beritanya akan saya isi berbagai hal terkait urusan hati dan pikiran. Atau duduk di sebelahnya dan menikmati koleksi kartu pos Bapak sambil membahas apa saja yang ada ingin kami mau, di luar film-musik-lukisan-majalah-buku-komik-ballet….

Saya yakin, Bapak pasti mau.

Kalau saja bisa.

 

 

Mengenang Bapak di hari ulang tahunnya,
25 Juli.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s