Satu Foto Biasa


berduaIMG_4678lowKalau bukan karena paspor yang habis masa berlakunya, bisa jadi saya lupa pernah membuat foto yang ada di pojok kiri bawah itu.

Foto ini dibuat menjelang persiapan pernikahan kami. Masih ingat saat membuatnya. Kami pergi ke sebuah studio foto di jalan Sabang, kalau tak salah, Jakarta namanya. Logonya berwarna merah, disablon di amplop coklat bergaris.

Hari itu, kami baru membeli cincin kawin di Pasar Tanah Abang. Sambil mengarah pulang, mampir ke Studio Jakarta membuat foto ini. Begitu masuk, kami langsung bilang mau buat pasfoto. Oleh pegawai studio langsung disambut dengan pertanyaan, “Buat catatan sipil ya?” Kok bisa tahu, sih? Apa wajah kami begitu jelas menunjukkan padu padan rasa saat itu: senang, gugup, bingung, semangat dalam rangka menyambut hari besar yang akan berlangsung dalam waktu dekat?

Waktu kami iyakan pertanyaannya, dia langsung menunjukkan jalan menuju studio. Sudah tersedia dua bangku bulat yang dirapatkan. Kami duduk, lalu Mas Juru Foto menyusul dan masuk ke dalam kain yang membungkus kamera. Ini proses pemotretan gaya kuno banget dengan kamera besar. Terdengar aba-abanya,
“Tunduk sedikit, Mbak!”
“Jangan terlalu tunduk.”
“Mas, tegak lagi duduknya.”
“Kepala agak ke kiri, Mas.”
“Mbak, kepala agak ke kanan. Jangan terlalu kanan. Sedikit lagi. Terlalu banyak. Kanan lagi.”
“Mundur sedikit, Mbak. Terlalu mundur. Bahunya yang kanan naik sedikit…. Sedikiiiiiiiit lagi!”
“Ya cukup. Cukup. Bagus!”

Kami menunggu bunyi ‘cekrek’ terdengar. Satu, dua, sepuluh, tiga puluh detik, bunyi yang dinanti tidak kunjung terdengar. Lalu kepala Mas Juru Foto menyembul dari balik kain, memandang kami berdua bergantian. Kepalanya masuk lagi. Kami saling berpandangan. Ada yang salah?
Bahu agak pegal karena posisi yang diberikan agak kurang nyaman, tapi tidak berani bergerak takut nanti malah membuat penantian cekrek akan berlangsung lebih lama lagi.

Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh lima detik kemudian, bunyi cekrek juga belum datang. Mas Juru Foto kembali memunculkan kepalanya. Menggelengkan kepala beberapa kali.
Ada apa sih?

Saya, yang mulai tidak sabar, bangun dari kursi bulat, menghampiri Mas Juru Foto, “Mas, ayo dong fotonya! Lama amat sih?”
Mas Juru Foto buru-buru menyingkap kain hitam yang mengkrukupi kepalanya itu, dan mukanya tampak begitu putus asa.
“Kameranya rusak?”
“Nggak, Mbak…. Ini saya bingung.”
“Soal?”
“Ini lho, Mbak…Saya bingung mau focus ke mana. Kalau pilih Mbak, Kalau saya Mas jadi gelap banget. Tapi kalau ke Mas, Mbak jadi putih banget.”
Saya menoleh ke Mas Eddie yang masih duduk tenang di bangku bulat.
“Jadi harus pilih, focus ke kulit yang mana, Mas?” Akhirnya Mas Eddie bersuara.
“Betul, Mas,” kata Mas Juru Foto.
“Ya sudah, focus ke Mbak saja,” kata Mas Eddie, “Memang dari sananya sudah gelap,” sambungnya sambil tertawa kecil.
Tapi saya tak bisa membayangkan kalau wajah Mas Eddie jadi gelap banget. Maka saya usul sebaliknya, “Fokus ke Mas saja, tidak apa-apa saya jadi putih. Seberapa jauh sih putihnya?”
Bolak-balik ganti fokus ini akhirnya disepakati juga: yang jadi patokan Mas Eddie. Kami kembali mengatur posisi duduk yang maju dikit, mundur dikit, kiri dikit, kanan dikit, tegak dikit, tunduk dikit itu….Dan dalam hitungan beberapa detik, bunyi cekrek yang dinanti-nanti itu pun terdengar.

Foto jadi beberapa hari kemudian.
Ketika diterima, kami tak lihat dengan teliti, langsung bawa ke Kantor Kecamatan yang merangkap Catatan Sipil untuk didaftarkan supaya cepat beres. Dan setelah itu, tak pernah ditengok dengan teliti sumber diskusi kami dengan Mas Juru Foto di Studio Jakarta, jalan Sabang itu. Sampai kemarin, ketika harus menyertakan fotokopi Surat Nikah. Begitu hasil fotokopi keluar dari mesin, saya langsung teringat diskusi kami 24 tahun lalu dengan Mas Juru Foto. Kekhawatiran Si Mas itu memang beralasan. Wajah Mas Eddie tampak jelas. Begitu jelas dan bagusnya, sampai Mbak yang menerima berkas saya sempat berkomentar, “Wah alis suaminya tebal sekali, ya Bu.”

Alisnya tebal. Semua garis wajah terlihat jelas. Keren dan ganteng banget. Silakan lihat sendiri. Saya? Di foto hitam putih itu, saya yang ada di sebelahnya jadi berkulit super putih. Begitu putihnya sampai kehilangan alis, hidung yang tak seberapa mancung tinggal garis dan bibir nyaris tak tampak, hahaha!

Ah, foto biasa itu mengingatkan pada hari luarbiasa. Dan mendadak hidung samar, bibir dan alis nyaris tak tampak jadi tak penting. Sama sekali.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Satu Foto Biasa

  1. Olive B says:

    hihihiii … aku baca ini sambil nongkrong di tempat aku dikagetin sama si mbak dan mas yang ada di foto di atas
    selamat ultah ya mbak RD

    Like

    • rgaudiamo says:

      Terima kasih, Olyve.
      Jadi itu tempat kesayanganmu, ya?
      Mungkin Rabu atau Kamis atau Jumat kita bisa nongkrong di situ, mungkin. Atau Sabtu?

      Salam dari Mas yang ada di foto dan yang aku ajak mengagetkanmu tempo hari 🙂
      r

      Like

      • Olive B says:

        kesayangan sih nggak juga, hanya saja 2 minggu ini memanfaatkan koneksi cepatnya saat sepi untuk mengerjakan kesukaan 😉

        Rabu boleh, Kamis agak padat, Jumat sering kejebak macet. Sabtu aku sepertinya ada janji tapi nanti aku berkirim kabar, siapa tahu yg ngajak ngobrol bisa sekalian di situ.

        salam balik buat Masnya ya mbak Reda

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s