Tentang Perjalanan Ini …. (bagian 1)


Kami baru pulang dari Frankfurt. Juga Leiden. Pun Konstanz.
Dan ini cerita perjalanan kami ☺

PERJALANAN

Semua ini berawal dari percakapan tentang Frankfurt Book Fair antara saya dan Pak John McGlynn dari Yayasan Lontar, 2013. Ceritanya, ia ingin memproduksi CD musikalisasi puisi dalam bahasa Inggris dan Jerman untuk bisa ditampilkan di pameran tahun 2015 ini. Percakapan itu sempat berlangsung seru selama sebulan, tapi setelah itu tak lagi tersambung. Saya pun tak juga ingat untuk menindak-lanjuti. Setahun terlewat begitu saja.

Januari 2015, via email Candra Widanarko mengucapkan Selamat Tahun Baru sambil bercerita tentang GrooveBox Studio. Dia bercerita bisa merekam musik di mana saja. Wah, menarik! Lalu saya terpikir untuk mendokumentasi lagu-lagu puisi yang pernah kami nyanyikan. Takut lupa, hilang tak tercatat. Meski sudah halo-halo di bulan Januari, rencana rekaman baru mengerucut di bulan Mei.

Proses rekaman sendiri baru benar-benar bergerak di akhir Mei. Ketika lagu selesai direkam, saya baru teringat pada Pak John. Ternyata beliau masih berminat dan mengundang kami menyanyi di rumahnya. Tepatnya diaudisi di hadapan beberapa tamu dari Jerman.

Selesai menyanyi, menjelang pulang, ia langsung memberi kabar: AriReda berangkat ke FBF. Wow!

Ketika itu hampir bulan Puasa. Album belum mixing. Apalagi mastering. Kami harus gerak cepat kalau mau bawa CD ke Jerman. Tiba-tiba waktu jadi terasa begitu pendek.

CD: mixing, mastering, desain cover
Untuk yang terakhir ini, ampun maha ampun….kami punya puluhan desain dan dibuat oleh beberapa teman. Dari daun sampai pohon, dari burung origami sampai burung beneran, dari batang kayu sampai rumah, dari kertas sampai buku…. Sebutlah apa saja. Ada! Tetapi, hampir tak ada cover yang mendapat suara lebih dari satu. Bahkan banyak yang langsung rontok pada pandangan pertama. Ari mencoba menghibur dengan bilang, “Udah nggak apa-apa pakai yang sudah ada saja. Kalau nggak nemu juga, apes-apesnya pakai yang itu deh,” ia mengacu pada satu cover yang sempat ia pilih. Tapi saya nggak mau pilih cover apes-apesnya. Nggak keren, ah.

Di tengah mati gaya itu, kembali saya buka file foto dan ilustrasi yang ada di laptop. Ada satu foto yang saya ambil di Kantor Pos Kota Tua, foto patung Drupadi karya Ibu Astari Rasjid. Di folder lain, saya temukan gambar daun-daun. Dipadukan: jadi satu desain yang saya suka. Malam itu juga kirim kepada Felix Dass, Ari Malibu, Candra Widanarko, CANGA anton, Eva dan Hendro Joewono. Dalam hitungan detik, serentak semua sepakat: pilih cover kiriman terakhir. Yeaaaay! (Ya, Linda Thio itu saya, hehehe…).

Cover beres, CD sudah mastering, ternyata urusan belum selesai. Surat-surat Ari perlu diurus. Setelah ditunggu lumayan lama, belum selesai juga. Duh, gemes banget. Dengkul dingin, khawatir kami bakal batal berangkat. Tapi di saat seperti itu, mendadak satu nama melintas di kepala, dan saya yakin dia bisa membantu kami: Eva Hardjosoekarto Joewono. Ketika terhubung dengan Eva, sebetulya jadwal memasukkan dokumen sudah lewat tiga hari. Deg-degan sampai ujung rambut terasa sepanjang hari. Eva tidak banyak ribut, dia hanya mengabari akan mengupayakan paspor selesai paling lambat hari Senin –minggu depannya. Good enough, karena saya berhasil menawar tanggal penyerahan hingga hari Selasa.

Sunyi sehari.
Jumat, Eva mengirim pesan pendek via WA: Ari sudah berangkat ke Cengkareng untuk tanda tangan dan foto. Luarbiasa! Jumat sore, paspor difoto, dikirim via WA, lalu saya kirimkan ke panitia via email. Fiuh! Eva, you’re my Angel!

Sebetulnya, kalau dihitung-hitung, waktu di tangan cukup banyak. Tetapi karena kegiatan kami yang mendadak padat, waktu jadi terasa begitu mengejar. Tanggal 1 dan 2 Oktober, kami diikutkan dalam konser LCLR + Yockie Suryo Prayogo. Sebelum show, ada sehari latihan, sehari GR. Di tengah itu, ada acara peluncuran buku Mbak Eileen. Sementara itu korespondensi dengan Paris dan Leiden sedang heboh-hebohnya. Ditambah ngantor pada hari-hari itu.

Konser LCLR berlangsung lancar. Meski pada hari kedua, Ari sempat kehilangan suara hingga jam 7 malam sementara konser dimulai jam 8 malam. Kalau bukan Eva yang sigap membawanya ke dokter dan disuntik, mungkin malam itu lagu Kidung tak berkumandang sebagaimana mestinya. Eva…. Muchas gracias!

Di tengah kebahagiaan yang meledak-ledak –bisa nyanyi di antara para bintang idola kami—datang kabar bahwa kami tak bisa nyanyi di Paris karena akan ada acara tambahan di tanggal-tanggal kosong. Ooops! Terpaksa jadwal yang sudah pasti dan kami mimpikan di Paris, dihapus. Kami masih punya dua hari sisa, di akhir minggu, tapi Paris bilang mereka tak bisa mengatur perubahan jadwal sesegera itu. Baiklah, lupakan Paris. Hmmm, sisa dua hari di akhir perjalanan itu harus diisi sesuatu. Dibantu Aulia Akualani, saya menghubungi Nazar Udin di Leiden. Mereka tertarik sekali. Tapiiiiii tanggalnya? Harinya? Saya mules sebetulnya, karena jadwal yang mereka sediakan adalah jadwal Ex-Paris. Kalau panitia betulan memberi acara, Leiden pun tak bisa dijalani. Bahaya….

Tepat seminggu sebelum berangkat ke Frankfurt, kami dapat kabar kalau jadwal main kami tak berubah. Tetap dua kali saja: tanggal 14 dan 17 Oktober. Kami disarankan untuk segera menghubungi Paris, siapa tahu mereka masih mau menerima kami. Saya ragu, tapi Paris tetap saya hubungi juga. Dan betul, mereka tidak bisa “menghidupkan kembali” jadwal yang sudah “mati” itu. Tapi dengan demikian, saya bisa memastikan kami main di Leiden pada hari yang diminta teman-teman di sana. Horeeeee!

Sekarang tinggal persiapannya.
Sekali lagi, waktu yang tersisa untuk siap-siap, justru kami isi dengan kegiatan lagi. Kali ini, gangguan ditujukan kepada Yogi D. Sumule untuk mengijinkan kami membuat konser kecil sebelum berangkat: A Warm Up Concert, tanggal 10 Oktober. Lusanya kami berangkat ke Frankfurt.

Kepala saya seperti terbelah rasanya. Mana yang harus dibereskan duluan?
Ketika kami bertemu untuk latihan, dan saya ribut soal berangkat, soal booklet untuk iTunes, cover baru Gadis Kecil dan Becoming Dew…. Ari langsung bilang, “Tenang. Konsentrasi saja buat tanggal 10. Urutan lagunya kita siapkan sekarang. Urusan berikutnya, masih ada tanggal 11.” Kalimatnya itu membantu saya fokus dan memilah-milah mana yang bisa dikebut, mana yang pantas dilupakan.

Sabtu malam kami menyanyi di CoffeeWar, dari jam 20.00 sampai 23.00, dengan memakai gitar dari Jubing yang diantar langsung oleh pemiliknya. Seru, ramai, senang! Banyak teman lama datang. Bahagia! Yogi: terima kasih.

Tanggal 11, hari Minggu, bangun siang dengan panik: koper belum diatur! Padahal yang dibawa segudang: buku NaWilla, terjemahannya, CD AriReda, Becoming Dew, Gadis Kecil, kartu pos (yang dibuat dengan panik, di tanggal 9 malam bersama Felix Dass), jengkol titipan Felix, baju tebal, coat, sepatu boots…. Aduh: tiada tamatnya.

Persiapan baru terasa beres setelah lewat tengah malam.
Tidur tak nyenyak: penyakit lama setiap kali mau pergi jauh.
Dalam beberapa jam lagi kami berangkat.

 

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Tentang Perjalanan Ini …. (bagian 1)

  1. Olive B says:

    mbak Reda seru sekali, merasakan pergerakannya dan … duduk manis menanti cerita lanjutannya

    bravo #AriReda

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s