Terbang! (Perjalanan AriReda Bg. 2)


PERJALANAN AR2

 

 

 

Sebelum berangkat pada tanggal 12 Oktober, inilah kegiatan kami….

  • Tanggal 28 September latihan untuk LCLR
  • Tanggal 29 September menyanyi di acara peluncuran buku Warga Dunia @Kedai Kopi Kemang 89
  • Tanggal 30 September gladi bersih LCLR
  • Tanggal 1 dan 2 Oktober kami ikut dalam gelora konser LCLR di Balai Kartini
  • Tanggal 4 – 7, Ari menjadi juri untuk Lomba Musikalisasi Puisi tingkat Jakarta
  • Tanggal 6, saya ngobrol soal NaWilla dengan anak-anak di SD Bina Gita Gemilang dan malamnya menyelesaikan press release untuk dikirim ke segala penjuru dan mengirimkan CD ke Tjikini.
  • Tanggal 9 Oktober, latihan untuk konser pemanasan di CoffeeWar. Pulangnya mampir ke Benhil, mencetak kartu pos, menjilid NaWilla dalam bahasa Inggris, membereskan booklet versi iTunes.
  • Tanggal 10 Oktober, rekaman untuk MAIn di CoffeeWar dilanjutkan dengan konser hingga selesai lepas tengah malam. Jubing datang membawa gitar. Tanggal 11 Oktober, Ari menuju rumah Mbak Dima, pinjam kotak gitar yang tahan banting. Sementara saya menjemput jengkol di Tjikini.

Setiap malam tidur lewat tengah malam. Sementara waktu bangun pagi tidak bisa bergeser dari jam 5.30 karena saya mengantor seperti biasa. Itu pun masih ditambah mengurus iTunes album AriReda yang susunannya mendadak bisa berarakan …. Kok bisa siiiih? Tapi panik dilarang muncul, geram harus ditanam dalam-dalam. Yang boleh datang adalah ketenangan, kesabaran menjalani satu-satu. Biyung, beratnyaaaaa!

Ketika A Warm Up Concert  di CoffeeWar selesai menjelang tengah malam, rasa lega mulai menjalar ke sekujur badan. Mendadak malam itu bisa tidur sangat enak. Paginya, bangun kesiangan, tapi badan masih belum kesetrum panik. Menjelang sore, ketika membawa jengkol pulang, barulah rasa huru-hara itu muncul.

Sepatu: bawa yang mana? Baju perlu berapa? Coat yang panjang atau pendek atau keduanya? Buku catatan nyanyian yang tiga jilid tak boleh ketinggalan! Titipan jengkol dibungkus seperti apa: kupas atau tak dikupas, berapa lapis dan berapa banyak kopi harus dikerahkan…. Tiba-tiba koper yang besar terasa sempit,  penuh dan beratnya minta ampun.

Esok harinya, saya sengaja berangkat agak cepat, supaya bisa mampir sebentar ke Sinshe di Muara Karang, ambil vitamin dan obat batuk, sebelum lanjut ke Bandara. Saya tiba jam satu siang, masih terlalu awal untuk berangkat jam 17.00. Tapi hampir semua peserta sudah ada di tempat yang dijanjikan: di depan gamelan. Pak Ahmad Tohari, Ibu NH Dini, Mas Djokolelono, AS Laksana, Budiman Maryamto, Pak Sapardi Djoko Damono, Pak Budi Dharma, Renny Yaniar, Iksaka Banu, Arif Zulkifli, Golagong, …. dan tentu saja Ari. Lebih dari 75 penulis, sore itu siap berangkat.

Proses check in cukup panjang dan terjadi salah paham antara jumlah koper dan berat. Wah, saya gemas bukan main (tepatnya naik pitam). Kalau tahu terkena aturan yang beda, koper bisa saya bereskan sejak tiba tadi, nggak perlu mendadak bongkar di lantai check-in counter. Beberapa barang saya berpindah ke koper Ari dan kotak gitar. Juga CD dan buku-buku. Ampun! Kata Ari, saat itu saya ngeselin banget. Bisa jadi mengerikan. Saya tak membantah, karena memang lagi kesel banget. Aduh Ri, kamu sabar sekali saat itu, sekejap pun kamu nggak marah. Bahkan mengerutkan dahi pun tidak. Dengan tenang dan sabar dan telaten  barang-barang saya kau atur rapi sehingga berat koper bisa berkurang jauh sekali. Merci, Mon Ami!

Urusan koper beres, kami ke ruang tunggu. Saat itulah saya sadar: ini perjalanan panjang AriReda yang pertama. Untuk pertama kali kami akan berhari-hari bersama. Pengalaman mengajari saya bahwa perjalanan panjang dan melelahkan akan mengeluarkan segala sisi buruk seseorang. Mendadak saya khawatir, bagaimana kalau di jalan nanti Ari rewel, ngambekan, cepat emosi, tidak tepat waktu…. Tiba-tiba saya seperti diingatkan bahwa sepanjang waktu 33 tahun menyanyi bersama, betapa sedikit hal yang saya tahu tentang Ari. Sementara itu saya juga khawatir Ari bakal jengkel, patah hati menghadapi saya yang sangat sumbu pendek ini. Setidaknya tadi sudah ada contoh nyata: mendadak meletus di bandara. Duh, maaf Ri!

Terbang 16 jam di udaraberlangsung aman. Waktu habis untuk tidur dan nonton film ketimbang ngobrol. Ketika transit, Ari mengurung diri di ruang rokok, sementara saya duduk-duduk bersama Pak Sapardi dan putrinya di ruang tunggu, buka email, cek FB.

Tepat jam 7 pagi, 13 Oktober, kami tiba di Frankfurt. Pengumuman crew pesawat mengatakan suhu udara hari itu, 3 derajat Celcius saja. Dingin tak menghalangi partner nyanyi saya ini mencari pojokan untuk merokok. Sementara saya sibuk berfoto-foto dengan penulis-penulis idola saya. Bukan main rasanya! Ketika berfoto dengan Ibu NH Dini, ia minta dipeluk. Ya ampun, hati mau lepas rasanya. Oh, Ibu, kaulah inspirasiku. Tahukah engkau bahwa seri Padang Ilalang-mu itu yang mendorong saya menulis NaWilla….

Entah berapa lama kami berfoto-foto sambil menunggu bis dan berbagi kelompok sesuai hotel tempat tinggal, hingga akhirnya kami berangkat juga. Naik bis menuju tengah kota. Lihat-lihat sebelum makan siang. Sekitar jam 10 pagi, kami tiba di Romerberg yang menyajikan gereja tua, air mancur, deretan café, anak-anak yang menyanyi dan bermain musik, rombongan turis, dan patung manusia. Indah, tapi dinginnya bukan main! Secangkir cappuccino yang sangat panas bisa dingin begitu cepat dan saya habiskan dalam sekali tenggak. Kaos tangan tak bisa dilepas, mata mulai berair, hidung gatal dan akhirnya bersin-bersin. Mau beku rasanya. Tapi di saat yang bersamaan, kehangatan terasa menyusup: kami mendapat banyak teman baru. Ari dengan cepat bersahabat dengan anggota rombongan. Ah, senang!

Lalu kami mampir di area pameran yang luasnya bukan main itu. Ada 11 hall dan semua besar! Seperti sebuah kota saja arena ini. Dari sana –setelah foto-foto ☺ – kami makan di restoran cepat saji, Asia. Dan kemudian segera ke hotel. Beberes, istirahat, mandi, berangkat menuju acara pembukaan pameran.

Pembukaan pameran berlangsung di hall utama. Catatan saya tentang acara pembukaan ini:
1. sederhana, tapi anggun. Tidak ada hiasan. Semua difokuskan ke panggung dengan layar lebar yang menampilkan gambar serta teks yang diambil dari kalimat para pengarang Indonesia.
2. Penampilan Mbak Endah Laras sangat memukau. Ia nembang dengan latar seorang anak bermain ayunan. Magis.
3. Pidato paling keren disampaikan oleh Mas Goenawan Mohamad, yang dibuka dengan mengisahkan riwayat Malang Sumirang yang dilantunkan Endah Laras. Pidatonya terus terngiang sampai sekarang.

Kalimat Mas Goen ini yang terus menempel di kepala:

“Yang saya harapkan ialah bahwa kita semua bersedia mengingat kembali apa yang dilakukan Malang Sumirang: kita menulis untuk menegaskan keseteraan manusia. Kita menulis untuk menghidupkan percakapannya. Dan dengan demikian kita menulis juga untuk menumbuhkan kemerdekaannya.”

Setelah itu, semua berangkat ke ruang pamer utama: Pavillion Indonesia. Tapi menuju tempat itu, kami bertemu dengan banyak teman lagi. Termasuk Chitra dan Jay Soebijakto, Mas Tony Prabowo, Mbak Lily Yulianti, Cok Sawitri…

Dan tibalah yang dinanti: Berkeliling arena pameran yang ditata sangat artistik. Di sana buku-buku di letakkan di bawah lampion lampu yang tinggi menjulang, lampu-lampu hias berbentuk buku yang menyala ketika dibuka dan mati ketika ditutup, ada arena tempat para penampil kesenian beratraksi, sementara makanan dan minuman Indonesia lalu lalang (saya kebagian semangkuk nasi panas dan sepotong rendang). Ditambah sedikit wine, keriaan meluap. Tiba-tiba malam terasa begitu cepat lewat.

Dalam bis, di malam yang dingin, kami menuju hotel.
Tak banyak yang bicara. Semua lelah.
Rindu pada kamar yang hangat…

Still tomorrow is gonna be another working day. And I’m trying to get some rest. That’s all I am trying to get some rest…” –Paul Simon

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Terbang! (Perjalanan AriReda Bg. 2)

  1. Lucia says:

    Selalu senang baca blog mu maaak serasa ikut dlm perjalanan2 mu… Duh senangnya ketemu NH Dini…

    Like

  2. Wow ! Perjalanan yg seru ya Reda.. Selamat & semoga AriReda tambah sukses. Jadi kangen masa-masa dulu, nyanyi bareng…Citranita.. Frankfurt..salah naik kereta ke Leiden…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s