Tentang Unyil dan Penciptanya


 

SUYADI

Jam kebaktian pertama pk. 06.30, selesai pk. 8.00
Jam kebaktian kedua pk. 8.30, selesai pk. 11.00
Jam kebaktian ketiga pk. 17.00, seleasi pk. 18.30

Jadwal ideal buat kami adalah kebaktian jam kedua, pas untuk hari Minggu. Tak terlalu pagi, tak terlalu siang. Tetapi pada suatu ketika, dengan serta merta, saya memilih untuk hadir di kebaktian pertama. Tanpa keluh, tanpa rewel. Penyebabnya: acara baru di TVRI -Unyil, dengan teman-temannya Ucrit, Cuplis, Pak Raden….

Mak sampai heran, bagaimana saya yang selalu punya alasan untuk berangkat ke gereja jadwal siang, mendadak bisa bangun pagi dan semangat, hanya karena serial boneka tangan yang geraknya kaku itu. Tapi begitulah adanya. Saya benar-benar tak rela melewatkan hari Minggu tanpa nonton Unyil. Kecintaan pada Unyil ini kemudian menjalar ke seisi rumah. Mak yang sering memilih kebaktian siang, jadi memilih berangkat pagi supaya bisa nonton Unyil bersama saya dan adik-adik.

Apa pun yang dilakukan Unyil dan teman-temannya, bisa menempel di kepala selama seminggu ke depan. Kadang-kadang kelakuan Pak Raden bisa jadi bahasan menarik di meja makan. Ah, luarbiasa! Ini terus berlangsung hingga pada suatu hari saya merasa terlalu ‘dewasa’ untuk menonton Unyil. Pada waktu yang bersamaan, saya juga merasa Unyil mulai “menua”. Omongannya terdengar seperti pamflet, propaganda program pemerintah… Saya rela tak lagi menontonnya.

Tapi siapa yang bisa melupakan Unyil?
Lalu ketika kita menyebut Unyil, maka nama Drs. Suyadi –sang pencipta- pun muncul. Nama yang menempel di kepala sejak jaman SD, dan menjadi idola saya sejak pertama kali membaca buku-bukunya: Timun Mas, Pedagang Peci Kecurian, Siapa Punya Kuali Panjang, ditambah buku-buku pelajaran jaman SD.

Gambar, sketsa Drs. Suyadi sangat khas. Luwes selalu mengandung gerak, emosi dan ekspresi selalu tampak jelas. Tapi yang paling jelas, menurut saya, gambarnya terasa begitu effortless. Membayangkannya menggoreskan pensil dengan begitu ringan, tanpa beban, dan sepertinya dilakukan dengan hati riang.

Dia idola saya.
Dan saya benar-benar terkejut ketika pada suatu hari –saat sedang tugas di kampung orang– menerima pesan dari beliau. Begitu sampai Jakarta, saya segera berangkat ke Petamburan, menemuinya.

Rumahnya –yang orang bilang berantakan itu—buat saya terasa begitu hangat. Gambar-gambar yang bertebaran, boneka bersandar di tembok, kucing yang lalu lalang, sketsa yang setengah selesai, semua meneriakkan semangat kreatif yang amat lantang. Saya diberi tahu bahwa saat itu ia sedang kurang sehat. Tetapi ketika mendengarnya bercerita tentang Paris, proyek-proyek yang sudah lewat dan mendatang, serta kesibukannya sehari-hari, membuat sakitnya tak berjejak. Dari pertemuan itu, saya mendapatkan buku berisi gambar-gambarnya, lalu muncul rencana untuk bekerja sama. Apa daya, rencana itu tak terwujud. Sayang.

Drs. Suyadi.
Orang mengenalnya sebagai Pak Raden, bapaknya Unyil.
Tapi buat saya, ia adalah seorang seniman seni rupa yang luarbiasa.
Gambar-gambarnya, goresannya, lukisannya: semua indah.
Setiap kali melihat karyanya, selalu ada rasa riang menyelinap.

Itu yang akan saya rindukan.

Selamat menuju negeri Malaikat, Pak Suyadi.
Doa kami untukmu.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s