3 Konser Pertama (Perjalanan AriReda Bagian 3)


 

3gigs

Hari-hari padat datang bergegas.
Tak menyisakan waktu untuk merasakan lelah.
Frankfurt – Arnhem – Leiden – Denhaag- Frankfurt dijalani dalam 48 jam (termasuk makan malam di Arnhem, konser dan temu kangen di Leiden, sarapan di Den Haag, makan siang di Frankfurt).

Jadi…
Sekitar tiga minggu sebelum berangkat, kami dikirimi agenda acara yang hampir pasti. Dari daftar itu kelihatan jelas kami hanya tampil dua kali: tanggal 14 Oktober malam, di Zentraal Bibliothek, dan satu lagi tanggal 17 Oktober malam di Orange Peel Café. Selebihnya kosong. Saya menghitung hari: tanggal 15-16, kosong. Tanggal 18- 20 kosong. Sayang betul kalau dibiarkan kosong, tanpa kegiatan. Sudah sampai sana, masak cuma lihat-lihat?

Sebetulnya, satu setengah bulan sebelumnya, kami terima contekan agenda acara. Saya sebut contekan karena datang dari teman di panitia yang minta serah terima daftar acara ini dirahasiakan dari yang lain. Berdasarkan daftar itu, saya menghubungi Kelompok Pasar Malam, di Paris, menawarkan AriReda menyanyi di pertemuan bulanan mereka. Mereka menyambut dengan sigap, kami dapat jadwal. Ongkos berangkat dan tempat tinggal sudah disiapkan. Sempurna: Tinggal berangkat!

Selain Paris, saya juga menghubungi beberapa perkumpulan di kota/negara lain. Apa daya, waktunya terlalu sempit sehingga semua menolak. Ya, ya, saya mengerti…. Mengatur pertunjukkan di sana tidaklah mudah.. Apalagi menyiapkannya dari nol dan dalam waktu yang super singkat pula. Ditambah orang sudah punya jadwal jauh-jauh hari Jadilah cuma Paris yang kami tuju.

Paris: Off!
Tiba-tiba sepuluh hari sebelum berangkat, kami mendapat kabar akan ada jadwal tambahan pada tanggal-tanggal kosong itu. Aduh! Artinya bertandang ke Paris harus dibatalkan. Kecewa, pasti. Tapi kami tak punya pilihan kecuali menurut dan segera menghubungi Paris, menyatakan kami batal tampil di sana. Tanggapan dari Paris bisa diduga, mereka kesal, kecewa dan agak marah. Nuwun sewu sanget, Madame, sekali ini kami taat pada aturan dari pengundang.

Tetapi ada hiburan lain: kami dapat tawaran main di Rotlint Café di Frankfurt, milik Mas Arief pada tanggal 18 Oktober malam, setelah pameran buku selesai. Asyik!

Beberapa hari sebelum berangkat, kami menjalani minggu yang sibuk: LCLR dua malam, Peluncuran Buku Warga Dunia, Talk Show, Jadi Juri…. Mendadak, di tengah kesibukan itu, kami dikabari kalau jadwal tambahan FBF, batal. Silakan menghubungi Paris kembali, begitu isi pesan dari panitia. Tanpa buang waktu saya menghubungi Paris, meski dalam hati ragu kesempatan itu masih ada. Dan… Paris menolak. Tak mudah mengatur pertunjukkan di waktu yang sempit. Tempat yang tersedia tempo hari, kini sudah terisi acara lain. Tahun depan saja, kata mereka. Baiklah. Mengerti sepenuhnya. Tapi hati gemas bukan main. Mau diapakan hari yang kosong ini? Sementara waktu untuk bersiap sangat jauh dari cukup….

Saya mencari jalur, salah satunya via Aulia Akualani yang punya beberapa teman di Leiden. Dalam hitungan jam, Nazar Udin, dari Leiden, menjawab. Bersama teman-temannya, ia siap menerima AriReda di Leiden. Tanggal masih berganti-ganti, tapi ia tak gentar. Begitu juga dengan waktu. Bring it on, they said.
Niat hati, untuk acara Leiden, mau mengajak pak Sapardi juga. Apa daya, jadwal beliau sudah padat di tanggal 15 dan 16 Oktober.

Konser #1
Tanggal 14 siang, setelah menjenguk Paviliun Indonesia dan memastikan NaWilla ter-display dengan baik, saya dan Ari lari ke Frankfurt Main Hauptbahnhof – Stasiun Utama, untuk beli tiket menuju Leiden. Wah, stasiun itu luasnya bukan main. Kami pasti tersesat kalau tak dibantu oleh Ms. Iyer –penulis asal India– yang mengantar kami langsung ke loket tiket kereta antar kota/negara.

Setelah tiket di tangan, kami segera kembali ke hotel dan mendapati Pak Sapardi sedang siap-siap. “Mau ke mana, Pak?”
“Ini lho ada acara di Gereja. Diskusi buku,” katanya.
“Jam berapa?”
“Acaranya jam 5…. Tapi tidak ada jemputan.” Lhoooo….
Pak Sapardi dengan senyum-senyum kecut menyampaikan kalau ia tak tahu tempat dan seperti apa acaranya nanti. Aduh!
“Bagaimana kalau kalian temani saya saja? Kan jam 7 malam kita muncul bersama, kan?” kata beliau. Tanpa banyak pikir kami langsung sepakat. Dibantu dua sahabat Bawuk –putri bungsu Pak Sapardi—kami naik kereta. Ternyata gereja yang dituju tak jauh dari lokasi pertama kali kami tiba di Frankfurt: Romerberg.

Di sana, kami –sebetulnya- hanya mau duduk di belakang saja. Ternyata salah satu pembicara tak hadir, sehingga Prof Berthold Damshauser mengusulkan kami menyanyi dua tiga lagu. Ari tak keberatan sama sekali, padahal tak ada soundsystem apa pun buat nyanyi-nyanyi kami ini. Mic hanya disiapkan untuk pembicara.

Bangku segera di atur di altar.
Kami duduk di sana, menunggu tanda yang di berikan Pak Berthold.

Setelah beberapa puisi dibacakan, dan ulasan diberikan, Ari melarikan jari-jarinya pada senar dan …. Astaga suara gitar sangat bening, jelas, menakjubkan! Luarbiasa akustik gereja ini. Tanpa mic, suara paling halus pun terdengar. Hebatnya lagi, setelah kami menyanyikan satu lagi, seorang ibu Jerman, meminta Pak Berthold untuk bicara tanpa mic saja karena suara yang dihasilkan sangat jauh dari jelas.

Selesai menyanyi, kami dihampiri oleh Jens Christian Balondo, yang menanyakan kalau ada CD, dia mau beli! Yeaaay! The first sale abroad. Jens juga yang hari itu menentukan harga CD kami. “Kalau di sini, jual segini saja…. Jangan terlalu murah,” katanya. Siap, Jens!

Di depan gereja ada yang jual nasi goreng dan sate ayam. Tapi waktu yang tak banyak itu kami manfaatkan untuk mengobrol bersama Jens Balondo dan Pendeta Junita Erna Lasut. Dari ngobrol-ngobrol itu, Jens menawari kami kembali menyanyi di gereja, pada hari Minggu. Setelah kebaktian. Saya serahkan keputusan pada Ari, yang ternyata tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. Bahkan ketika diminta menyanyi di tengah kebaktian pun, ia bersedia. Bukan main: di gig pertama ini, kami langsung dapat tawaran main lagi. Super happy: that’ll be our 4th gig, right after Leiden!

Lalu waktu untuk bergerak ke tempat acara berikutnya tiba. Pak Berthold yang juga jadi pemandu acara, mengajak kami berjalan kaki. Lokasi perpustakaan ternyata memang dekat saja.

Konser #2
Patricia, yang sudah saya kenal via email, menyambut kami dengan hangat. Tetapi ia juga buru-buru minta maaf karena sound system yang ia miliki sangat terbatas. Di ruangan yang sudah ditata dengan deretan kursi, tampak tiga meja bulat berjajar. Di masing-masing meja, ada mic untuk pidato, lengkap dengan stand yang tingginya tak lebih dari 20 senti. Satu-satunya mic yang pakai tiang, ada di sudut ruang, di balik mimbar. Krik-krik-krik….

Sejak awal, Patricia memang sudah menyampaikan bahwa microphone hanya disediakan untuk pembicara. Tapi mengingat ukuran ruang perpustakaan yang dikirimkan via email, saya jadi ngotot kami harus dapat mic, karena khawatir suara tak sampai ke telinga pengunjung.

Melihat deretan mic, saya deg-degan. Aduh, jangan sampai kondisi sound yang sangat minimalis ini membuat Ari berubah mood, dan memutuskan nggak nyanyi. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Ari malah tersenyum lebar dan tanpa membuang waktu langsung mengatur letak mic di meja, menarik tiang mic yang ada di mimbar agar bisa menyampaikan suara gitar. Tidak sampai 5 menit kami sudah bisa cek sound. Beres.

Acara dimulai tepat waktu. Seperti juga di gereja, pengunjung di Zentraal Bibliothek ini sebagian besar warga Jerman. Arif Zulkifly dan Ratih Wulandari yang sudah hadir di gereja, juga duduk di bangku penonton. Setengah main, Mas Goenawan Mohamad, Dewi Noviami, Meike Indra Malaon, dan teman-teman lain, hadir juga. Kami menyanyikan sekitar 6 lagu di sini. Oya, sound-nya: keren! Banget! Jualan CD? Tentu! Lokasi display CD sempat berpindah-pindah beberapa kali, karena Patricia ingin memberi tempat terbaik: gampang dilihat, menggoda orang untuk membeli.

Terima kasih, Patricia.

Malam itu, kami pulang diantar mobil panitia. Sampai di hotel sudah hampir lewat tengah malam. Kami tak sempat makan malam, tapi perut tak terasa lapar. Mungkin karena terlalu gembira dengan sambutan penonton di dua pertunjukkan tadi, sound yang asyik, dan juga hasil penjualan CD malam itu yang lumayan banget. Horeee!

Begitu tiba di hotel, Renny Yaniar –teman sekamar saya—sudah hampir lelap. Tapi saya tak bisa segera tidur, karena harusa merapikan bawaan untuk besok: menuju Arnhem dan Leiden: baju secukupnya, CD sebanyak yang bisa diangkut, dan buku nyanyian. Belanda: kami datang!

Konser #3
Sesaat sebelum berangkat ke Frankfurt, saya menghubungi Dede Permadi, mengabari kalau akan ke Jerman. Wah, dia langsung semangat dan minta kami menginap di rumahnya di Arnhem yang jauh di desa (katanya). Tawarannya terus menari di kepala. Terutama sejak tawaran main di Leiden disepakati. Saya merasa ini kesempatan mengunjungi Dede, sekaligus napas sebentar sebelum main di Leiden. Rencana ini saya ajukan ke Ari, dan ia setuju-setuju saja. Maka, karcis pun dibeli.

Pagi hari, tanggal 15 Oktober, jam 6 pagi, Ari mengirim pesan: sudah di lobby, siap berangkat. Di bawah, saya temui ia sedang merokok (what else). Tanpa buang waktu kami bergegas ke stasiun yang cuma 100 meter jauhnya dari hotel, menuju stasiun utama Frankfurt Main Hauptbahnhof. Langit masih gelap. Sesampai di stasiun, kami masih bisa ngopi sebentar, sambil menikmati huru-hara pagi di stasiun, sebelum melompat naik kereta.

Kereta cukup penuh, tapi tidak berisik. Berkali-kali kami tertidur. Perjalanan makan waktu sekitar 3 jam. Tiba di Arnhem tepat waktu, pk. 10.27, lalu naik bis ke rumah Dede. Ah, pemandangan di jendela bis dipenuhi padang rumput, tanah pertanian yang luas, rumah-rumah kayu. Seperti memanggil, mengajak kaki berlari, menyeberangi padang, memasuki lumbung….

Dede –yang hafal jadwal bis—bersama Ananda, sudah menunggu di halte. Kangen seketika terhapus. Sepanjang jalan menuju rumahnya, melewati sungai dengan bebek-bebek berenang ke sana ke mari, kami mengobrol.

Semalam kami menginap di rumah Dede. Singkat. Tetapi dalam semalam itu, setidaknya kami sempat membuat konser mini bersama Ananda yang main piano, Ari pada gitar dan saya kebagian tepuk tangan dan nyanyi-nyanyi. Semalam juga sudah membuat kami menikmati masakan istimewa yang khusus disiapkan Dede: Soto Betawi! Hangat-hangat makan soto pake nasi, sementara di luar hujan tak henti: ampun enaknyaaaaa! Semalam yang penuh kehangatan kami nikmati di rumah keluarga Van Raaij yang ramah ini. Langkah menuju Leiden terasa ringan.

Paginya, kami langsung naik kereta pagi. Ari ingin segera bisa tiba di Leiden sebelum siang, supaya bisa tahu kondisi soal sound yang masih belum terlalu jelas statusnya. Satu lagi, itu hari Jumat, jadi harus menghitung jadwal sholat Jumat teman-teman panitia. Sesampai di stasiun, Ghamal Satya Mohammad dan Melita Tarisa sudah menjemput. Kami digiring ke apartemen Eri Yoga Sidharta yang hari itu mengenalkan diri dengan nama Rio (dicari-cari di FB, jebule Eri Yoga disingkat Ri-Yo, tha 😀 ).

Di apartemen Eri Yoga, tersedia sebuah amplifier gitar kecil, merek Roland. Baru sekali ini kami lihat piranti ini. Bukan yang kami butuhkan, tapi kalau tak ada yang kami minta, si Roland ini bolehlah. Suara yang dihasilkan pun bagus. Tiba-tiba datang kabar, kalau Pak John, sahabat teman-teman di Leiden, menemukan mixer. Wah, mari dicoba!

Tapi sebelum itu….
Mari kita makan dulu: di restoran Selera Anda. Terima kasih Melitha!
Lalu ayo putar-putar Leiden: menjenguk rumah Rembrandt, dan jembatan Kota Tua.
Waktu boleh amat-sangat terbatas. Tetapi itu bukan halangan buat Ghamal membawa kami ke tempat-tempat penting dan indah, lengkap dengan cerita, sejarah, latar belakang lengkap  yang terus terkenang sampai hari ini. Bahkan membuat kami ingin segera kembali ke sana. Terima kasih, yaaa!

Persiapan sound benar-benar penuh kejutan.
Buat info saja, mixer yang kami pakai hari itu hasil temuan Pak John di tempat sampah. Ketika diutak-utik masih “nyala”. Ari bilang, “Red, mixer-nya nggak punya tombol Reverb. Adanya Echo. Artinya barang ini produk jaman dulu kala banget!” Pak John yang membawa alat itu, cuma bisa membuatnya “nyala” tanpa tahu bagaimana mengoperasikannya. Ari yang senang melihat mixer, langsung jadi soundman. Dalam sekejap, persiapan mini konser di ruang tari Fakultas Sastra, Universitas Leiden pun beres. Konser terselenggara dengan lancar dan menyenangkan.

Setelah nyanyi, agenda berikutnya: makan lagi. Kali ini di restoran Italia, VIP yang amat sangat ramai dan porsi makanannya super besar!
Tapi sebelum berangkat, terjadi diskusi pelik soal di mana kami berdua akan menginap. Ada begitu banyak teman yang menawarkan tempat. Yang satu punya tempat, taka da kasur. Yang satu punya kasur, taka da tempat. Yang satu punya tempat, kasur, tapi beda kota. Akhirnya kami putuskan untuk melewatkan malam di tempat Yando Zakaria. Makan dendeng balado asli kiriman dari Padang dan nasi hangat. Ya ampun enaknyaaaa! Terima kasih, Yando, Nita!
Habis makan, dan cerita sana sini, ketawa panjang pendek, kami berangkat ke rumah Syahrita Chairaty di Den Haag. Besok pagi-pagi sekali, jam 06.40 kami harus sudah ada di stasiun, naik kereta pulang ke Frankfurt. Saat itu sudah lewat tengah malam.

Paginya: kami terlambat bangun!
Untung Rita panjang akal, mobil dikebut ke Utrecth, tempat perhentian pertama. Rita mengemudikan mobilnya dengan cepat. Kami seakan terbang di gelap pagi. Di perjalanan itu, tiba-tiba Rita mencetuskan ide untuk berkunjung ke Konstanz, tempat adik saya –Grace Ise dan suaminya, Herman- tinggal. Menarik sekali! Tetapi buat saat ini, mari kita konsentrasi pada pengejaran kereta dulu, Rit.

Utrecth dicapai dalam waktu super singkat. Kami tiba sebelum keretanya. Hebat! Sehingga sempat minum kopi secangkir, sekotak kacang, sebelum kembali berkereta.

Itu hari Sabtu, 17 Oktober.
Kereta menuju Frankfurt sangat penuh dan hangat. Kami  tertidur berkali-kali
hingga kereta tiba di Frankfurt. Waktu –sekali lagi- mengejar begitu cepat. Hanya tersisa 2 jam buat istirahat dan menyiapkan diri untuk pertunjukkan berikutnya. Hari itu kami punya dua pertunjukkan: jam 3 sore di arena pameran dan jam 8 malam, di Orange Peel Café. Acara kedua dan terakhir dari panitia.

 

Foto: Arif Zulkifli, Nazar Udin, Junita Erna Lasut/Grover Rondonuwu

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to 3 Konser Pertama (Perjalanan AriReda Bagian 3)

  1. Yando says:

    Hmm, kalo Reda yang begitu bersemangat, itu sudah biasa. Namun, jika itu Ari, yang kali ini selalu oke saja, bahkan nyanyi tanpa sound system, itu baru luar biasa! Bravo buat kalian berdua!

    Like

    • rgaudiamo says:

      Yando yang baik,
      Duet ini bertahan karena upaya, dukungan Yando juga. Kalau nggak disemangati terus, mungkin sudah lama tamat.
      Tumbuh berkembangnya AriReda di pengkolan terakhir ini sungguh di luar dugaan.
      Segala hal yang dulu tak terselesaikan, sekarang kelihatannya sudah beres.
      Semoga begini seterusnya.

      doakan, ya Ndo.
      Terima kasih,
      r

      Like

      • Yando says:

        Amin, Red. Pasti ada sahabat lain yang mungkin lebih bahagia melihat perkembangna ini di ‘alam sana’. RIP, Peng…

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s