Tersesat! -Perjalanan AriReda Bagian 4


 

45gigs

Setelah terbirit-birit mengejar kereta ke Utrecth (karena bangun terlambat), di kereta menuju Frankfurt, Ari tertidur lelap. Kepalanya tersandar pada kotak gitar pinjaman dari Mbak Dima Miranda berisi gitar yang dipinjam dari Jubing Kristianto. Urat-urat tangannya bermunculan. Ketika itu saya tersadar: alangkah panjang dan melelahkannya perjalanan kami ini. Tanpa banyak kompromi dan diskusi, saya menyeret Ari ke sana ke mari, tanpa tahu tangannya melepuh menenteng kotak gitar beserta isinya yang berat sambil setengah berlari dari satu titik ke titik lain. Dan ia mengikuti tanpa keluh.

Konser #4
Setelah mandi, tidur sedikit, makan sedikit, dari Offenbach (tempat kami menginap), kami kembali ke area pameran di Frankfurt. Dua acara sudah menanti kami. Yang pertama, jam 16.00 di arena pameran, di Stand Indonesia, memenuhi permintaan Nova Rasdiana. Berikutnya, jam 8 malam di Orange Peel Café, di Kaiserstrasse Frankfurt.

Untuk acara siang, tak banyak persiapan yang bisa dilakukan. Kami menyanyi di tengah-tengah riuhnya hall pameran. Kami tak banyak berharap suara terdengar dengan jelas dan baik, karena memang pengunjung padat ramai memenuhi stand Indonesia. Ari tak terlalu gembira dengan sound saat itu. Saya ikut gemas melihat Mas Soundman lebih suka mengisi teka-teki silang ketimbang mengutak-atik sound. Tetapi ternyata semua berlangsung baik. Dan kami mendapatkan banyak hadiah menyenangkan hari itu. Kami bertemu dengan Mbak Lita Jonathans dan Jilly Jonathans, idola kami berdua: penyanyi-penyanyi pertama dari kelompok Leo Kristi.

Lalu kami juga berkenalan dengan Ayodya Bhagaskara Setiono putra Mas Andi Setiono Mangoenprasodjo yang sejak lahir sudah dicekoki lagu-lagu kami. Ia datang khusus dari Hamburg untuk bertemu dan menyanyi bersama kami. Semua ini sumber bahagia kami hari itu. Kesal susut, lelah lenyap.

Jebakan Kaiserstrasse
Selesai acara di hall pameran, kami mampir ke booth milik Bang Agust Sitorus. Beliau inilah yang menjadi penghubung sekaligus perencana konser kami di Rotlint Café, milik Mas Arief Imanuwarta di Frankfurt. Bersama Hendiarto Djuwandi, konser ini diatur sejak kami masih di Jakarta, setelah kami menetapkan jadwal pasti untuk Leiden.

Booth Bang Agust Sitorus menjual berbagai barang indah dari Indonesia. Dari ulos sampai tenun ikat, dari anting perak sampai gelang batu, dari tas anyaman sampai patung kayu. Booth-nya yang tak terlalu besar penuh sesak dengan berbagai barang yang seru dan tak pernah absen setiap kali ada Frankfurt Bookfair. Setelah bertukar kabar, memastikan segala sesuatu untuk konser di Rotlint café, kami pulang ke hotel. Ternyata keputusan ini membawa masalah beberapa jam kemudian ☹

Sekitar jam 18.30, kami bersiap menuju Orange Peel di Kaiserstrasse. Alamat kami tanyakan kepada Oom Resepsionis yang ramah. Kami diberi tahu agar segera naik kereta dan turun di halte berikutnya. Wah, dekat nian! Dan memang betul. Setelah turun kereta, kami menemukan jalan Kaiserstrasse.

Tak sampai 100 meter dari tempat kami berdiri tadi, alamat yang dituju, Kaiserstrasse no. 39 sudah di depan mata. Tapi yang ada di situ cuma sekelompok gedung kosong dan gelap. Tak ada gejala-gejala ada kafe, apalagi pertunjukan di sana. Kami bertanya ke sana ke mari, tetap tak ada yang tahu. Lalu lihat di GPS, gambar yang muncul justru mengarah ke sebuah bank. Haduh. Sebelnya lagi, setiap kali telpon masuk dari Pak John McGlynn saya angkat, sambungan langsung terputus. Yo opo sih? Saya panik karena jam terus bergerak, kami pasti terlambat sampai di tujuan. Jengkel, kesal, marah, menggelegak di kepala. Rasanya saya sempat menepis tangan Ari cukup kerass ketika dia mencoba menenangkan saya. Maaf ya, Ri.

Bantuan datang lewat telepon Ayu Laksmi yang menyuruh kami naik taksi. Bodohnya saya hari itu, dompet ditinggal baik-baik di kamar hotel. Jadilah uang di kantong cuma 10 Euro. Ari punya dolar. Tapi mau tukar di mana, kota mulai sunyi dan toko-toko tutup semua. Untung Dewi Noviami menelepon: ia perlu tumpangan dari hotel menuju Orange Peel juga. Jadilah kami naik taksi, menjemput Novi di hotel barulah dari sana ngebut ke tempat tujuan.

Selidik punya selidik, petunjuk yang diberikan kepada kami oleh Oom Resepsionis yang ramah dan murah senyum itu: SALAH. Kaiserstrasse yang ia tunjukkan itu ada di Offenbach. Sementara yang kami tuju adalah Kaiserstrasse yang ada di Frankfurt. Oalaaaaaaah….. Pelajaran hari itu: Kaiserstrasse itu sama seperti Gang Mesjid di Indonesia. Di semua kota, kampung, ada Gang Mesjid. Perlu keterangan kecamatan atau kelurahannya supaya bisa sampai ke tempat tujuan dengan benar. Novi: terima kasih, ya!

Konser #5
Setiba di Orange Peel, acara sudah mulai, sehingga penampilan kami diundur setelah istirahat turun main. Adalah Pak John McGlynn yang mengupayakan kami main di sini. Terus terang, saya deg-degan dengan konser nomor lima ini. Saya tak tahu siapa yang akan menonton, apa harapan mereka akan tampilan kami nanti, mengingat kami akan menyanyikan lagu-lagu bahasa Indonesia saja.

Orange Peel: café di loteng. Dindingnya dicat hitam. Gelap. Luas, tapi…. Gelap. Tetapi di kegelapan itu, kita tahu ada banyak penonton. Penuh! Suasananya mengingatkan pada Seinfeld di adegan stand-up comedian. Yang terang cuma di panggung, sisanya gelap gulita. Cuma kita bisa mendengar tawa, tepuk tangan, dan kilatan blitz kamera. Di panggung, dua pembawa memandu dalam bahasa Jerman. Pasti yang mereka sampaikan lucu-lucu, karena tawa gelak terdengar berkali-kali.

Acara malam itu –menurut katalog acara: A song slam shows a kaleidoscope of modern singer-songwriter-music from folk to rap, from pop to punk, from blues to soul, from chanson to comedy. The audience judges text and music – similar to a poetry slam. Jadi singkatnya ada lomba musik berbagai aliran dengan penonton yang bertugas sebagai juri memberi nilai pada musik serta liriknya. Kami jadi bintang tamu tapi tetap DEG-DEGAN melebihi yang ikut lomba.

Satu demi satu peserta maju. Semua keren. Ada satu peserta yang sangat menarik perhatian: The Anatomy of Frank. Band yang terdiri dari empat orang ini, hanya muncul berdua –Kyle dan Erik– di Orange Peel. Berdua main gitar, mereka tampil amat sangat seru. Penonton diajak menyanyi, berlagu, menghasilkan nomor yang keren. Dari Indonesia, muncul John Waromi dari Papua yang membawakan puisi-puisi tentang tanah kelahirannya.

Ketika angka-angka dikumpulkan dan dihitung, kami muncul sekitar 6 menit. Di sisi kiri panggung telah berderet teman-teman yang sudah menunggu sejak awal. Termasuk Feba Sukmana yang kemarin menjadi MC kami di Leiden dan Anastasia Puspaningtyas yang baru kami kenal siang tadi di stand Indonesia dan malam itu menyediakan diri jadi kasir buat penjualan CD AriReda. Anas, terima kasih, ya.

Begitu naik panggung, kami dikenalkan sebagai Redha Giudamo (Italiano sekaliiiii!) dan Arie Maruli. Sahabat-sahabat langsung tertawa. Tapi saya deg-degan abis-abisan. Saya mengkhawatirkan lagu kami yang hampir semua bertempo lambat. Juga tak satupun pakai bahasa internasional. Waktu yang pendek membuat kami hanya menyanyi tiga lagu. Sahabat-sahabat penyemangat di tepi panggung, mintah tambah. Tapi waktu habis ☹. Eh, ternyata tiga lagu itu AMAN! Penonton suka. Banyak yang datang memberi salam, peluk, foto bareng, dan beli CD. Fiuh!

Rasa senang bertambah ketika Kyle dan Erik dari The Anatomy of Frank datang mendekat, mau beli CD kami. Sementara saya justru ingin membeli CD mereka. Alhasil kami pilih bertukar CD saja, bertukar alamat email juga. Yeaaay: bertambah teman lagi. Senang (kok bisa lupa FOTO, sih?). Oya mereka juga yang jadi juara malam itu!

Selesai acara –selesai juga merokok di teras café- kami makan malam bersama Dewi Noviami dan John Waromi di restoran Italia yang lebih banyak menu India-nya, persis di seberang Orange Peel. Seperti biasa, porsinya besar! Perut langsung sesak terisi. Bonusnya: hati senang.

Kami tiba di hotel sudah lewat tengah malam. Tetapi di halaman masih kami jumpai Cok Sawitri, merokok. Ari dan Novi langsung menemani Cok. Merokok juga, tentu. Saya, pilih langsung ke kamar. Rindu kamar yang hangat.

Besok masih ada dua konser lagi.
Selamat malam Offenbach.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s