Bertabur Berkat (Perjalanan AriReda –bg. 5)


bertabur berkat

 

 

Ini catatan perjalanan kami yang kelima dalam rangka Frankfurt Book Fair 2015. Agak terlambat menyusul empat tulisan lainnya. Mungkin karena kami gagal move on dari peristiwa penting itu. Mungkin juga karena kami begitu ingin semua segera kembali lagi dalam waktu dekat. Apa pun itu, sungguh kami sangat gembira, bangga, bahagia bisa menikmati semua ini.

Kembali ke Alte Nikolai Kirche
Tiba kembali di Frankfurt, tanggal 17 Oktober 2015: artinya tiga hari lagi kami akan kembali ke Jakarta. Tetapi kesibukan tak menyurut. Setelah peristiwa tersesat yang membuat banyak orang panik, esoknya kami punya dua acara penting.

Yang pertama, kami kembali bernyanyi di Alte Nikolai Kirche, atas undangan Jens Christian Balondo. Jadi, pada pertunjukkan pertama di Alte Nikolai, ketika menemani Pak Sapardi dan Pak Berthold membedah buku puisi, kami ngobrol-ngobrol dengan Jens. Saat itulah tawaran untuk main lagi di gereja ini datang, setelah kebaktian. Tentu kami mau. Tetapi kemudian muncul ide untuk menyanyikan puisi di tengah kebaktian. Beberapa puisi terasa pas dinyanyikan dalam kebaktian. Maka sesuai janji yang disepakati, kami dijemput oleh Jens di hotel. Ikut bersama kami, Mas AS Laksana.

Tiba di gereja, sekitar jam 16.00, kebaktian sudah berlangsung. Kami duduk di bangku belakang, menanti Jens memberi aba-aba. Dan setelah pengutusan, kami pun maju, ke altar. Menyanyikan Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta, Aku Ingin, Akulah Si Telaga… Ah, kami kembali menikmati gema yang indah itu, yang kami temukan pada hari Selasa lalu, ketika menyanyi pertama kali di gereja ini. Kami sangat berharap jemaat gereja menikmati nyanyian kami, seperti kami menikmati suasana saat itu.

Setelah menyanyi, kebaktian ditutup, dan kami pun diajak ke kantor gereja. Letaknya sekitar 10 meter dari gereja. Di sini, di ruang yang cukup luas, telah disiapkan 10 meja bundar lengkap dengan kursinya yang ditata melingkar. Dalam sekejap ruangan penuh oleh jemaat. Kami ikut duduk di satu meja, mengobrol tentang apa saja. Setiap habis kebaktian, selalu ada acara duduk bersama ini, melepas kangen, berbagi cerita. Khusus minggu itu, ada yang berulang tahun. Wah, ramai nian.

Dalam keramaian itu, Jens mempromosikan CD kami. Dan langsung terjadi penjualan yang serba cepat, termasuk tanda tangan CD. Bukan main. Dalam pertemuan sore itu, Ari sempat bercakap-cakap seru soal main gitar dengan Pak Siahaan. Sementara saya menikmati cerita pengalaman ibu dan bapak yang sudah sejak tahun 70-an pindah ke Jerman. Rindu tanah air? Tentu. Tetapi tak selalu bisa pulang. Tak selalu menikmati pulang juga. Dan itu sangat bisa dimengerti.

Selepas jam 6 sore, kami berangkat menuju Rotlint Café, diantar Jens, Priska dan Joel, naik kereta. Menuju stasiun, kami melewati banyak tempat menarik: museum, galeri yang memamerkan poster film kuno, café yang berbingkai bambu buatan Joko Avianto (tengok videonya di sini: https://youtu.be/C14v1PjVvnI). Aduh, ingin rasanya mampir sebentaaaaaar saja! Tapi nggak bisa banget. Waktu sudah terlalu sempit. Satu hari nanti, kami harus kembali.

Dikelilingi Sahabat
Acara di Rotlint Café digagas oleh Hendiarto Djuwandi, Bang Agust Sitorus dan Mas Arief Imanuwarta, sang pemilik café. Dirancang sejak kami masih di Jakarta, dengan waktu yang terus bergeser karena jadwal main kami di acara pameran masih belum ajeg.

Akhirnya setelah diatur dan melewati percakapan panjang sekali di WA grup, kami putuskan untuk main di tanggal 18 Oktober malam. Poster mini sudah saya kirimkan desainnya ke Bang Agust, juga undangan disebar via FB.

Sesampai di sana bersama Jens, Priska dan Joel, kami disambut Mas Arief dengan hangat. Sebuah sudut sudah disiapkan untuk kami, lengkap dengan dua kursi tanpa lengan. Tanpa sound system. Mas Arief rupanya menangkap raut muka penuh pertanyaan ini. Ia lantas menjelaskan bahwa akustik di café ini cukup bagus dan kami bukan grup pertama yang main di sana tanpa sound system. Berangkat dari pengalaman nyanyi di gereja tanpa sound system, kami langsung menata gitar. Tak ada stand book? Oh, ada kaki tiga penjepit kanvas, bisa dipakai.

Sementara itu, teman-teman mulai berdatangan. Arif Zulkifly dan Ratih Wulandari tiba. Bahkan Mbak Jilly & Mbak Lita Jonathans dan Mas Triawan ternyata sudah sejak sore mengisi pojok yang berseberangan dengan tempat kami menyanyi. Di tanah yang jauh dari kampung, kami merasa seperti berada di rumah sendiri. Hangat. Berlimpah rasa sayang dari semua teman-teman yang datang dari jauh, menemani kami di sini.

Tepat jam 20.00 –setelah minum teh hangat, makan nasi rames yang sangat mengingatkan rumah itu dan Ari selesai merokok sebatang dua —kami pun mulai. Lagu puisi mengalir satu demi satu. Semua berbahasa Indonesia. Terus terang kami –kembali—ragu, adakah lagu-lagu yang kami nyanyikan ini disukai, atau minimal bisa dinikmati. Rasa ragu itu akhirnya membuat kami memutuskan menyanyikan beberapa cover songs: Simon & Garfunkel, Bob Dylan, Beatles… Tak terasa dua jam berlalu. Kami ijin istirahat sebentar, menyapa teman-teman. Saat itu dimanfaatkan beberapa tamu untuk datang mendekat, menanyakan CD.

Beberapa di antara mereka bertanya apakah lagu kami ini berbahasa Inggris atau Indonesia. Wah, kalau minta lagu bahasa Inggris, selesai deh! Ternyata mereka justru mau lagu puisi! Yiiihaaa! Malah salah seorang pembeli CD kami bilang, “Kalau isinya lagu-lagu cover tadi, saya tidak mau beli.” Wah, berarti sudah tepat jalur. Asyik!

Taburan Kasih Sayang
Kami selesai menyanyi sekitar jam 11 malam. Jens, Priska dan Joel pulang. Begitu juga Arif dan Ratih, yang besok akan menuju negara lain. Prancis, kalau tak salah.
Tinggal Syahrita yang akan mengantar kami pulang ke hotel, Mbak Wid Sardjiman dan suaminya, Mas Kurt Gotz Huehn. Oleh Mas Arief kami dijamu dengan anggur merah, yang bukan main rasanya. Saya yang semula cuma mau minum seteguk, malah menghabiskan segelas penuh, hahahaha!

Sambil mengobrol, Ari memainkan satu dua lagu.
Mas Arief bergeser ke ruang belakang. “Sebentar saya ambil gitar dulu…” katanya. Lalu kembalilah ia dengan sebuah gitar string folk yang begitu gagah. Body-nya dari rosewood. Bunyinya jriiiiiiiiiing! Kami terdiam. Sungguh luarbiasa gitar ini.

“Sudah lama saya tidak mainkan gitar ini. Buat Ari saja. Bawa pulang,” kata Mas Arief di tengah-tengah denting senar yang dimainkan Ari. Wow! Ari mendadak berhenti bermain. Saya hampir tersedak ketika meneguk anggur. Sebentar, sebentar, jangan-jangan telinga kami salah dengar, nih. Gitar yang ganteng dan gagah dan kokoh ini diserah-terimakan kepada Ari? Pasti bukan itu maksudnya. Saya mencoba meyakinkan diri dengan bertanya kepada Mas Arief, yang dijawab langsung dengan tegas, “Ya, bawa pulang saja. Di sini nggak ada yang main. Sayang, nanti malah rusak.” Astaga!

Mas Kurt  bilang, “Finally the guitar found the right hand.” Ari terus memainkan Watson –begitu merek gitar ini. Rita, Mbak Wid sibuk merekam. Saya dan Pak Kurt menikmati semua ini. Mas Arief? Dia menghilang lagi. Tiba-tiba ia muncul dengan jas abu-abu.
“Coba, Ri,” katanya. Ari mencoba. Dan pas. Keren pula! “Itu dibawa saja.” Wah! Lalu, Mas Arief masuk ke ruang rahasianya lagi. Muncul membawa topi, dipasang di kepala Ari. Menghilang lagi, muncul dengan dasi. Pasang di leher Ari. “Ari pakai kacamata?” tanya Mas Arief lagi.
“Ya Mas, +1. Saya punya hilang, jatuh di kereta kemarin. Ini baru beli di Hema,” kata Ari, memperlihatkan kacamata yang kami beli di Leiden sebelum manggung di depan teman-teman PPI Leiden dua hari sebelumnya. Mas Arief pergi masuk lorong ajaibnya lagi. Dan ia muncul dengan kacamata Jean Paul Gaultier berbingkai emas dengan lensa ganda: hitam untuk hari panas dan bening untuk membaca. Ukurannya? Plus 1. Bukan main. Partner duet saya itu langsung gaya banget. Tampilannya sangat pas untuk main dan tinggal terus di Eropa. Eh!

Lagu satu-satu terus bergulir. Makin lama, saya makin sulit menyanyi. Tenggorokan tercekat. Diteruskan bisa berurai air mata. Mengenang hari kemarin, bagaimana perjalanan ini berlangsung -penuh turun naik dan kelok tajam– maka berada di Rotlint Cafe, dalam kehangatan kasih, sungguh luarbiasa. Berkat mengalir lewat Mas Arief yang begitu menyayangi kami, Mbak Wid dan Mas Kurt yang terus menyemangati serta Syahrita, yang sengaja bermobil dari Den Haag bersama putrinya untuk menemani kami. Apa namanya semua ini kalau bukan kasih, cinta, perhatian, dukungan semangat. Bertaburan tak henti.

Lewat tengah malam, Rita membawa kami pulang ke Offenbach. Kami tinggalkan Rotlint Café, Mas Arief, Mbak Wid dan Mas Kurt di Frankfurt. Betapa mereka telah membuat hati kami hangat, bahagia.

God bless you, all.

 

Catatan: Pohon Besar, karya Joko Avianto di Romerberg,  Frankfurt, bisa dinikmati sampai tanggal 10 Januari 2016.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Bertabur Berkat (Perjalanan AriReda –bg. 5)

  1. ini bagian yg mas Ari dapat banyak hadiah ya mbak Re? seru iih 😍

    Like

    • rgaudiamo says:

      Betul sekali, Olyve.
      Ketika berangkat, modal kami pinjaman gitar dari Jubing dan kotaknya yang kokoh dari Mbak Dima Miranda. Di jalan, Ari sempat bilang mau punya gitar string. Dan gitar itu tiba di tangannya. Disayang habis-habisan….

      Like

  2. Yando says:

    Tuhan menyayangi kalian berdua…

    Liked by 1 person

    • rgaudiamo says:

      Perlu sekian puluh tahun untuk kami melihat bahwa Tuhan menyayangi kami, Yando.
      Having all the ups and downs, the hellos and good byes, the long wish list… I never expect we will go this far. And now it’s getting better and better.
      Terima kasih sudah percaya bahwa kami akan terus dan berjalan maju, Do.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s