#AriReda Menyanyikan Puisi: An Album That Almost Didn’t Make It


Album: Menyanyikan Puisi Musikus: AriReda Label: demajors Tak ada yang menyuguhkan musikalisasi puisi seindah Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Ari dan Reda membuat puisi yang mereka nyanyikan begitu personal, seolah-olah kata-kata yang dinyanyikan bukanlah puisi orang lain, melainkan lirik yang sengaja mereka buat. Sederhana adalah kata kunci dalam album Menyanyikan Puisi, album kedua sepanjang 33 tahun mereka bersama. TEMPO, 17 Januari 2016

Album: Menyanyikan Puisi
Musikus: AriReda
Label: demajors
Tak ada yang menyuguhkan musikalisasi puisi seindah Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Ari dan Reda membuat puisi yang mereka nyanyikan begitu personal, seolah-olah kata-kata yang dinyanyikan bukanlah puisi orang lain, melainkan lirik yang sengaja mereka buat. Sederhana adalah kata kunci dalam album Menyanyikan Puisi, album kedua sepanjang 33 tahun mereka bersama. TEMPO, 17 Januari 2016

Bila mengikuti jalur aslinya, album AriReda Menyanyikan Puisi mungkin tak akan lahir. Jalan-jalanke Frankfurt, menjadi satu dari 9 album pilihan TEMPO (bersama Silampukau, Barasuara, Kelompok Penerbang Roket…), dan dirayakan kelahirannya dalam konser di akhir bulan lalu.

Album ini, muncul sebagai usul yang disampaikan oleh Pak John McGlynn ketika proyek Frankfurt Bookfair mulai disebut-sebut pada akhir 2013. Beliau berniat menampilkan musikalisasi puisi beberapa karya penyair Indonesia di Frankfurt Bookfair. Isinya pun sudah ia sampaikan: beberapa lagu dari puisi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jermannya. CD dicetak secukupnya, sesuai keperluan pameran di sana. Saya semangat sekaligus ragu, karena Pak John minta AriReda menyanyikan versi bahasa Jermannya, dan lagu jangan berubah jauh dari aslinya.

Wah, bagaimana ya?
Selisih suku kata bahasa sini dan sana kan bisa lebih dari dua baris. Bila dipaksakan memakai lagu asli, maka lagu yang baru dari puisi yang sama bisa kekurangan lirik. Jadi mari kita buat baru! Ide yang bagus. Tapi sulit dinyatakan. Karena itu sama saja dengan membuat materi baru total. Dan pasti makan waktu yang tak sedikit. Akhirnya saya berkonsultasi pada Pak Sapardi. Beliau dengan cepat memberi solusi: Nyanyikan saja aslinya. Lalu di layar tayangkan terjemahannya. Atau dibacakan. Selesai. Wah, ide brilyan! Maturnuwun, Pak. Dan Pak John setuju juga.

Langkah berikut: menyusun lagu-lagu yang harus dinyanyikan. Ternyata banyak. Tetapi seperti biasa: menentukan lagu tak pernah mudah buat kami. Saya pilih ini, Ari tak sepakat. Ari mau lagu itu, saya nggak sreg. Pilah-pilih lagu ini akhirnya membuat proses album terhenti begitu saja. Lama. Setahun lebih, bahkan. Dan kami tidak merasa ada yang salah dengan itu.

Di samping urusan susunan lagu, yang membuat lama adalah urusan perduitan: siapa yang mau bayari? Semula ini akan dibiayai oleh panitia yang mengurus pameran buku. Belakangan datang kabar kalau urusan memproduksi album musikalisasi puisi sudah tak kedengaran lagi. Bahkan tak dikenal. #eh

Dengan demikian, kami pun sepakat proyek yang sebaiknya dilupakan saja. Dibuat nanti-nanti saja, kalau ada rejeki lebih. Sampai pada suatu malam, di CoffeeWar-nya Yogi D. Sumule, sehabis menyanyi untuk acara ulang tahun Bonita & The Husband –BNTHB, Mas David Karto menghampiri kami, dan bilang tertarik memasarkan album kami. What? Are you sure, Mas? He’s damn sure, apparently.

Tawaran berlanjut pada pertemuan di markas deMajors. Ngobrol lengkap dengan duo David: Tarigan dan Karto, menghasilkan keputusan buat album baru. Rencana mengudara, tangan-tangan sahabat menyambut. Candra Widanarko dan CANGA anton dari Groovebox Studio menawarkan bekerja sama, merekam seluruh album di sana. Agenda dibuka, tanggal ditentukan, rekaman. Herannya, ketika mulai rekaman itu, pilihan lagu langsung beres. Argumen atos yang membuatnya tertunda lebih dari setahun, lenyap begitu saja. Tak berbekas.

Dari Mei sampai Juni akhir semua proses berlangsung. Sempat menyentuh bulan puasa, sebelum akhirnya masuk sesi mixing di Lebaran hari kedua.

Selesai?
Belum.

Kami perlu bantuan beberapa teman untuk menentukan lagu mana yang pas buat album kedua ini. Yogi D. Sumule, David Tarigan, David Karto, Felix Dass, Ibu Eileen Rachman, Candra Widanarko, Dharmawan Handonowarih dan Eddie Prabu termasuk pemberi komentar. Dari 12 lagu, akhirnya terpilih 9 saja. Tiga lagi, kami simpan dulu.

Selesai?
Ternyata belum.

Penyebabnya: CANGA tidak berhenti mengutak-atik, sehingga ada versi mixing sampai nomor 6! Menjelang tengah malam, masuk pesannya di TG saya: Reda cek email ya… Ah, saya sudah tahu ini pasti ada versi mixing-an baru. Lalu menyusul mastering, sampai ada 4 versi. Membuat pusing kepala, karena nggak tahu harus pilih yang mana. Setelah ditimbang-timbang, didengar bolak-balik, akhirnya ada satu versi yang disepakati bersama. Master berangkat ke deMajors.

Beres?
Belum juga!

Karena ada hal lain yang membuat proses tak maju-maju: desain cover. Desainernya: Enrico Halim, Obin DeMajors, Judakrist, Ra Silke Tara, dan saya (ikut-ikutan banget, sih?). Desain sampul ini dikirimkan kepada grup panel yang terdiri dari: David Tarigan, David Karto, Candra Widanarko, Canga Anton, Hendro Joewono, Ari Malibu, Felix Dass, dan saya sendiri. Yang saya suka, Ari nggak sreg, tapi Hendro bilang oke, sementara Felix bilang kuno ajah. Begitu terus silih berganti. Tidak kunjung selesai. Dari 32 desain cover yang dibuat, tidak ada yang dipilih lebih dari 2 orang panelis. Saya mulai sakit kepala: jengkel karena tak ada desain yang berhasil ditemukan, panik karena waktu yang tersisa tidak banyak.

Selagi perasaan tak karuan, saya buka semua file foto yang saya punya dan menemukan gambar kesayangan: foto patung Drupadi (yang saya ambil dari belakang), karya Ibu Sri Astari Rasjid. Iseng saya padukan dengan ilustrasi daun dan rumput. Tak sampai 10 menit selesai, langsung dilansir. Tiba-tiba semua sepakat itu harus jadi cover album AriReda. Wuiiiiiiiiiih! Ketika itu, master lagu sudah selesai sekitar 7 hari sebelumnya, duduk manis di kantor deMajors.

Akhirnya, berangkatlah album itu sebagai satu kesatuan untuk diproduksi dengan harapan bisa selesai sebelum kami bertolak ke Frankfurt. Waktu sudah mepet. Banget. Sementara itu, jadwal nyanyi kami mendadak padat. Ada kegiatan nyanyi di Indonesia International Book Fair. Ada LCLR. Ari membuat konser buat ulang tahun Pak Taufik Ismail. Tiba-tiba hari habis, waktu berangkat sudah begitu dekat. Konser peluncuran yang agak besar dan ramai, tak bisa kami lakukan. Tidak cukup waktu untuk menyiapkannya, dan CD-nya pun  masih ngantri di pabrik. Hiks!

Tanggal 3 Oktober, di tengah-tengah konser Imada Hutagalung di CoffeeWar, Yogi Sumule menawarkan untuk membuat konser pemanasan tenggorokan menuju Frankfurt, seminggu dari hari itu: 10 Oktober. Tanpa pikir panjang, langsung sepakat, sementara jari langsung menuliskan pesan ke Mas David Karto: CD harus selesai tanggal 9 Oktober, minimal tg. 10 sore.

Dan akhirnya berita melegakan itu datang juga: CD berhasil diselesaikan tanggal 9 Oktober, diantar pakai Gojek ke rumah. Besoknya, kami menggelar konser pemanasan tenggorokan, eh Warming Up Concert itu di CoffeeWar. Di hadapan teman-teman, kami menyanyikan puisi dari cd baru dan lama. Ikut tampil malam itu: Jubing Kristianto, Bonita Adi dan Petrus Briyanto Adi. Seru sekali. Senang 🙂

Malam itu kami pulang dengan badan sangat lelah, tapi senyum lebar mengembang hingga lama: CD kedua kami telah lahir, dirayakan dengan selamatan sederhana di antara teman. Doa mengiringi agar perjalanannya lancar jaya menuju sahabat lama dan baru, menyusup di telinga, menyentuh hati.

Tak pernah menduga bahwa dua bulan kemudian, album yang nyaris tak jadi dibuat ini masuk dalam deretan 9 Album Terpilih Majalah Berita TEMPO.

Ah, bahagia kembali mendekap hati kami.
Berhari-hari.

Kepada semua yang membantu AriReda membuat, menyelesaikan, meluncurkan album AriReda Menyanyikan Puisi dan memberitakannya kepada khalayak: terima kasih. Sangat.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s