#KonserAriReda (1): Sajian & Tiketnya


Adalah Ari yang sangat ingin menggelar konser yang berukuran agak besar, di tempat yang biasa menyelenggarakan konser, yang pakai beli karcis, yang pakai layar terbuka dan tertutup.

Niat ini saya sepakati sepenuhnya, sehingga setelah konser pemanasan di CoffeeWar menghantar kami ke Frankfurt, rencana membuat pertunjukkan yang lebih besar pun dirancang. Ternyata menemukan tempat yang kosong untuk Desember, tidak mudah. Kami sempat merencanakan main di Gedung Pertunjukkan Bulungan, bahkan sudah sempat membuat kartu pos yang memuat tanggal pertunjukkan. Apa daya: waktu, tenaga, dan hitungannya nggak masuk. Terlalu mepet. Terlalu bengkak angkanya. Saya dan Felix khawatir nanti malah nombok.

Sehabis libur Natal dan Tahun Baru, Felix Dass memutuskan mampir ke Taman Ismail Marzuki, TIM. Ternyata Teater Kecil kosong tanggal 26 dan 27 Januari. Huaaaaa, keren! TIM adalah tempat pertunjukkan kecintaan saya. Di sini, pertama kali menjadi bagian dari konser Musikalisasi Puisi bersama Pak Sapardi di tahun 1996. Jadi mari kita main di sini saja!

“Ambil tanggal 27 saja ya. Kalau tiket habis, baru kita ambil tangga 26. Gimana?” Felix minta persetujuan via WA. Boleh. Saya langsung menghubungi Jubing dan Pak Sapardi yang memang sejak awal sudah direncanakan untuk tampil. Sementara Felix mengontak Tetangga Pak Gesang. Isi WA Jubing –hanya bisa main tanggal 26 Januari – dan kepastian ada yang mau mensponsori, membuat kami berdua memutuskan mengambil tanggal 26-27 sekaligus. Optimis? Sangat. Selagi memikirkan siapa penampil pengganti Jubing di hari kedua, datang lagi berita baik: Ternyata saya bisa main tanggal 26 & 27 –kata Jubing. Aih, pucuk dicinta nasi campur tiba. Horeee!

Apa yang akan disajikan?
Sejak awal, saya dan Felix sepakat, bahwa yang akan disuguhkan adalah musik. Kehadiran Pak Sapardi, terkait dengan puisinya yang menjadi syair nyanyian kami. Kehadiran Jubing Kristianto, karena musiknya. Kehadiran Tetangga Pak Gesang karena nyanyian mereka. Fokus.

Apa yang dijual dari sebuah konser? Musik. Suara. Tampilan di panggung yang membuat dua hal sebelumnya menjadi lebih menarik. Kami berdua memegang prinsip yang sama: segala sesuatu yang berlebihan itu pasti tidak enak. Jadi pertunjukkan ini harus pas. Tidak kurang, tidak lebih.

Terus terang untuk konser ini, banyak hal –kalau tak ingin dibilang semua—dirancang oleh kami berdua: saya dan Felix. Mengambil waktu sepulang kerja, atau akhir pekan, menguasai meja bundar di samping pintu kaca Kedai Tjikini, atau lewat WA yang terus beterbangan sampai hampir pagi.

Sudah diberi nomor. Siap diserah-terimakan kepada pemesan.

Sudah diberi nomor. Siap diserah-terimakan kepada pemesan.

Pesanlah, Tiket Kau Dapat
Ketentuan berikutnya yang sangat penting dan mempengaruhi keamanan keuangan penyelenggaraan konser adalah system penjualan karcis. Berbeda dengan konser lain yang mengajak gerai penjualan karcis ternama dan tiket box di gedung pertunjukkan, Felix mengusulkan penjualan via email. Alasannya, jumlah tiket yang laku terpantau dengan baik. Di samping itu kami jadi punya catatan lengkap dari teman-teman yang memesan tiket. Saya langsung setuju. Apalagi Felix menyediakan diri jadi penjaga gawang lalu lintas tiket ini. Satu-satunya tiket box yang kami buka hanya di Kedai Tjikini, tempat kami rapat sesempatnya.

Materi promo yang memuat alamat pemesanan tiket: http://www.midnight-tote.com/arireda dilansir pertama kali pada tanggal 6 Januari via FB, IG, Twitter, juga Path masing-masing. Dalam waktu kurang dari seminggu kami sudah menjual lebih dari 100 tiket. Menurut hitungan, kalau dua malam itu terjual 80% tiket, ongkos produksi aman.

Setiap hari, saya menerima WA, laporan penjualan tiket yang dikirim Felix menjelang fajar. Hati berdebar melihat lajunya. Letupan datang di akhir pekan menjelang pertunjukkan, ketika Felix mengabarkan tiket pertunjukkan hari pertama: HABIS. Hari kedua, tinggal 20 tiket. Berita itu disiarkan lagi via media social. Dalam hitungan jam, tiket hari kedua pun SOLD OUT.

Tak lama setelah kabar tiket hari kedua pun habis, bertubi-tubi telepon dan pesan WA berdatangan, mau pesan tiket. Nuwun sewu, sampun telas. Seseorang teman AriReda, lupa pesan tiket dan kehabisan. Dia menelepon Felix dengan nada kesal, “Emang sejak kapan konser begini bisa habis tiketnya?” Hm, mungkin sejak hari itu, hahaha…. ☺. Dia heran tiket konser kami habis. Kami pun heran, Teman.

Buat saya, ini pengalaman pertama jualan tiket buat kegiatan sendiri. Sekalinya jualan, pakai system yang tak lazim pula: pesan via email. Tak pesan, tak dapat. Ternyata hasilnya sangat menyenangkan. Kepastian muncul di depan mata.

Begini caranya:
1. pemesanan tiket dilakukan dengan mengklik ke alamat yang disebutkan poster.
2. pesanan dijawab penjual tiket dengan memberi informasi jumlah uang yang harus ditransfer ke rekening tertentu
3. pemesan mengirimkan bukti transfer
4. penjual tiket mengirimkan resi tanda terima yang akan ditukarkan dengan tiket asli pada malam pertunjukkan
5. sehari sebelum hari pertunjukkan, setiap pembeli tiket menerima instruksi terkait jam penukaran tiket, aturan main, dll. → disampaikan beberapa hari lalu oleh Felix di blog-nya http://felixdass.com/2016/01/31/ariredabermaindicikini/ .

Ringkas. Terpantau baik. Menyenangkan. Mungkin teman-teman yang akan menyelenggarakan konser sendiri mau menerapkannya juga?

Silakan.

(…bersambung)

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to #KonserAriReda (1): Sajian & Tiketnya

  1. Olive B says:

    Nunggu lanjutannya #seduhtehjahe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s