#Konser AriReda (2) – Sebuah Kerja Sama


poster catatan1

Dihitung-hitung, dari persiapan sampai hari H1 dan H2, kami cuma punya waktu 3 minggu. Tidak lebih. Sehingga kami harus memanfaatkannya semaksimal mungkin. Meleset: bahaya! Semua deg-degan. Eva Joewono -sahabat kami yang merangkap “ibu asrama” AriReda- sempat bilang dengkulnya dingin, jantung deg-degan. Dan memang pantas deg-degan, mengingat Eva terlanjur memberi DP di Gedung Pertunjukkan Bulungan, dan kami nggak jadi main di sana. Jangan sampai terulang lagi. Bangkrut.

Sebermula…
Di rapat pertama kami di Kedai Tjikini (tak sengaja tempat ini jadi markas kami), Felix Dass, dengan tulisan yang tak mengenal huruf kecil itu, menuliskan satu-satu apa yang harus dikerjakan. Sekaligus menyusun siapa bertugas apa. Dan Felix memasang namanya di hampir semua tugas. Mulai dari mengurus gedung, urus ijin, pajak tiket, promosi, menyusun lagu, penyusunan tim produksi sampai pelaksanaan, diambil semua. Kecuali: sponsor yang diberikan kepada Eva, menghubungi teman wartawan ditambah menulis sedikit di buku program dilimpahkan kepada saya, dan urusan SOUND (paling penting) dipegang Ari.

Karena alokasi tugas yang tepat, semua lancar. Termasuk urusan sponsor, yang dikejar oleh Felix Dass dan Eva Joewono. Angka yang datang dari sponsor dan donator inilah yang membuat kami bisa bergerak lebih leluasa dan berani memberi honor agak lebih bagi mereka yang bekerja di konser ini.

Buat musik, kami harus latihan. Buat suara, kami mau menghadirkan yang kami suka dan tentu saja baik. Untuk itu sejak jauh hari, Ari telah memilih Agus Leonardi sebagai penata suara dua malam itu. Ari sudah lama ingin bekerja sama dengan Agus. Kesempatan itu datang ketika ia menjadi juri lomba musikalisasi puisi tahun lalu. Ari senang dan langsung mengabari kalau untuk konser kami berikut, ia ingin urusan sound kami berada di tangan yang tepat: Agus. Maka ketika jadwal konser sudah pasti, yang pertama kami kunci adalah Agus. Jangan sampai lepas. Bersyukur sekali jadwal Agus kosong di dua hari itu. Yeaaaay!

Berikutnya kami habiskan waktu lebih banyak di urusan non musik. Pertama, soal gedung pertunjukkannya. Peraturan baru Pemerintah DKI memungkinkan kita –siapa pun- untuk bisa menyewa gedung pertunjukkan dengan tarif yang sangat bersahabat. Sekali pakai, tarifnya Rp. 5 juta (semoga tahun ini belum naik). Tarif ini termasuk ongkos sewa gedung, biaya operasional –listrik, AC, air. Selain itu ada ongkos lain-lain: pengurus kebersihan, penjaga keamanan… yang jumlahnya berdasarkan keperluan. Mau berapa SATPAM, petugas kebersihan, petugas Kamar Kecil…. Semua bisa dihitung dengan jelas, tidak ada angka kira-kira. Yang penting mau datang ke TIM dan bertemu dengan pengurus gedung. Felix Dass lebih tahu soal yang satu ini (baca tulisannya di sini http://felixdass.com/2016/01/31/ariredabermaindicikini/.)

Kami –saya dan Felix- tidak punya jadwal pertemuan tetap soal memeriksa daftar pekerjaan. Tapi bisa dipastikan hampir dua hari sekali kami duduk di meja bulat di sudut Tjikini –biasanya setelah saya pulang kerja, berbagi cerita bersama Dharmawan Handonowarih dan Eddie Prabu, yang terbawa rapat karena menjemput istrinya ini di sana.

Setiap kali bertemu pasti ada cerita menarik yang saya dapat dari Felix. Dengan detil ia menceritakan pengalamannya mengejar tempat pertunjukkan. Termasuk bagaimana sang petugas membuka buku besar, ukuran folio, diberi kolom-kolom, mencatat tanggal berapa dan ada acara apa oleh siapa. Setiap entri ditilik dengan cara mengurutkan baris demi baris, dibantu penggaris plastik. Bukan dengan membuka komputer, membuka file  di program Excel, lalu membiarkan cursor berjalan pada row/baris-baris entri.  Bukan. Ketika tanggal kosong ditemukan, dicatatlah acara kami di buku besar itu. Dengan bolpen tentu saja. Bukan dengan jemari pada keyboard komputer.

Pengurusan ijin pertunjukkan: harus dilakukan sendiri. Oleh petugas, disarankan urus sendiri ke Polsek, lalu ke Polda. Tidak bisa titip ke petugas pertunjukkan. Bukannya dulu bisa? Tidak bisa, itu gosip katanya. Berangkatlah, uruslah sendiri. Yang pasti petugas gedung pertunjukkan hanya akan memberi spek gedung, lampu, sound dan sebagainya kalau surat ijin selesai diurus. Felix bilang, idealnya yang mengurus adalah seseorang yang berwajah manis dan bersuara lembut. Tapi ia minta bantuan Ralmond Farly. Surat selesai, meski Ralmond sempat dikira wajib lapor setelah lepas dari masa pembinaan. #eh!

Oya, mengurus surat ijin ini berlangsung tanpa biaya.

Sambil menunggu surat ijin selesai, kami membahas yang lain. Salah satunya tata lampu. Untuk lampu disepakati yang ringkas pembuatannya, tapi punya efek bagus di mata yang menonton, di layar kamera dan nyaman buat yang tampil. Felix memberi beberapa referensi tata lampu untuk format konser macam AriReda. Yang ada di kepala saya dan yang dikumpulkan Felix ternyata klop. Terpilih Mas Azis Indriyanto sebagai perancang dan eksekutornya, yang sudah sering mendandani Teater Kecil buat banyak penampil.

Ijin datang seminggu sebelum acara tiba. Sesuai janji, spek gambar gedung dan semua fasilitas diberikan. Dalam bentuk print out. Bisa minta soft-copy supaya gampang didistribusikan, Mas? Tidak bisa, karena tidak ada. Oh, baiklah. Maka jadilah kami berkumpul, menerima fotokopian. Rasanya seperti sedang menerima fotokopi soal ujian aja nih. . Untung materi aslinya cukup kereng (jelas).

 

Kemudian…
Berikutnya menentukan sang pembawa acara. Di kepala cuma ada satu nama, Dharmawan Handonowarih, bapaknya Kedai Tjikini. Sahabat kami ini kebangetan daya ingatnya, mencatat segala sesuatu sejak jaman kami baru nyanyi di tahun 1982, jejak Ari dan saya di dalam dan luar AriReda, masa penuh tawa, jaman  angin tenggara bertiup yang membuat kami kurang harmonis, sampai proses album baru. Bukti ketajaman pengamatannya tercatat di http://arireda.blogspot.co.id. Di sana, Dharmawan menuliskan “perjalanannya” bersama kami, yang dibuatnya ketika AriReda sok-sokan membuat pertunjukkan sekaligus host tiap bulan di Newseum, tahun 2008/2009. Tulisan yang dibuat 24 Januari 2009 itu saya edit sedikit, dan menjadi tulisan utama di leaflet progam Konser AriReda 26 – 27 Januari kemarin.

Dharmawan –seperti yang sudah kami duga—menolak permintaan ini. Tapi kami tak bosan membujuk, menjelaskan bahwa kami perlu pembawa acara yang bisa memberi informasi yang diperlukan untuk mengenal AriReda. Khususnya teman-teman baru, sahabat muda yang baru sekali ini menonton AriReda. Padat informasi yang diperlukan. Tidak kenes. Tidak pusing dengan teks manis merayu. Tahu mana yang Ari dan mana yang Reda (pernah ada MC yang bolak-balik memanggil saya Mbak Ari, dan memanggil Ari dengan Mas Reda). Dan Dharmawan-lah yang tepat untuk itu. Akhirnya, ia mau. Meski dengan demikian, berarti ia jadi terus deg-degan, sampai pertunjukkan dua malam itu terlewati. #semogatidaktrauma

Sebelum itu….
Jauh sebelum konser ini direncanakan, Pak Sapardi Djoko Damono pernah bilang untuk diajak kalau kami buat keriaan. Jadi, ketika kesempatan itu datang, kami langsung menghubungi beliau. Dan ternyata bisa.
“Nanti aku disuruh apa?” tanya Pak Sapardi. “Terserah Bapak saja. Mau baca puisi, nyanyi, mendongeng, boleh,” jawab saya. “Ada puisi tertentu yang harus dibaca?” tanyanya lagi. Tentu tidak. Karena apa pun pilihan Pak Sapardi pasti tepat. Itu saya tahu pasti.

Kami juga ingin merayakan konser ini bersama Jubing Kristianto, yang membuat kami jadi punya gitar bagus dan sehat untuk main di konser CoffeeWar dan Jerman. Kami ingin ia bisa berkenalan dengan sahabat-sahabat baru AriReda. Dan Tetangga Pak Gesang kami pinang karena keunikan musik yang mereka sajikan. Ringan, muda, manis.

Kesepakatan atas semua ini membuat penyelenggaraan konser menjanjikan “kemudahan” dalam eksekusinya nanti. Senang.

(…bersambung)

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to #Konser AriReda (2) – Sebuah Kerja Sama

  1. Pingback: Catatan di balik Konser AriReda | Kedai Tjikini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s