#KonserAriReda bg. 3: Siap-siap!


Hari-hari berlari begitu laju.
Tanggal 20 Januari, kami diajak menjadi bagian dari Konser Tentang Rasa-nya Frau. Di sana kami menyanyikan 5 lagu. Lalu tiga hari kemudian, manggung di Bandung, ikut dalam proyek keren LCLR+ Yockie Suryoprayogo. Kami menyanyikan Kidung-nya Pahama bersama Raymond Patirane. Satu lagu saja, tapi bahagianya seperti nyanyi berjam-jam. Karena di sana kami bertemu lagi dengan para jawara musik Indonesia. Kekaguman kami sepanjang masa. Konser sendiri menyusul tiga hari kemudian. Saya agak terbirit-birit sebetulnya. Maklum masih jadi pegawai kantor, yang membuat saya berangkat pagi pulang sore dari Senin sampai Jumat. Lumayan…

Daftar Belanjaan
Poster pertunjukkan dibuat tanggal 5 Januari oleh Felix Dass menggunakan Power Point. Mood-nya sudah oke. Tapi gambarnya kurang kena di hati: tangga turun masuk gang sempit, deretan tembok bata yang bikin sakit mata, tumpukan vinyl dan pohon kering di musim gugur…. Akhirnya gambar diganti dengan foto bayangan AriReda di Konstanz. Semua langsung setuju, dan paginya langsung tayang di FB, Twitter, IG. Kilat. Felix juga membuat desain tiket yang memakai foto Olyvia Bendon.

poster catatan-2

Urusan promosi selesai, dilanjutkan dengan materi jualan di TKP. Untuk penonton, kami ingin ada makanan ringan dan agak berat. Siapa yang menyiapkan dan apa makanannya? Tak perlu mencari jauh-jauh: kami ada Dharmawan Handonowarih. Menu pilihan adalah panganan yang bisa menenangkan perut tanpa harus membuat ngantuk: nasi pincuk dengan berbagai variasi rasa –nasi Bogana, nasi Langgi, nasi Pamekasan (enak semua!) dan jajan pasar. Minumannya, teh hangat –kalau tak salah. Semua disiapkan dan berangkat dari Kedai Tjikini. Kasihan Dharmawan: sudah dipaksa pidato, diminta memasak pula. Semoga nggak kapok.

Berikutnya soal memanfaatkan ruang “tamu” Teater Kecil yang luas itu. Selain makanan, digelar juga jualan yang lain. Tapi dari depan, saya tak berminat menggelar bazaar sagala aya, batik, sandal, tas payet-payet, batu akik, magnet berkhasiat dan sejenisnya. Kami ingin fokus pada barang-barang yang berhubungan erat dengan konser dan pengisi acaranya. Jadi pasti CD, t-shirt, kartu pos, poster, dan buku-buku adalah jualan yang kami siapkan diatur dengan baik oleh http://www.midnight-tote.com.

Kelihatannya sudah betul dan menyenangkan. Tapi karena yang mengerjakan cuma dua orang ini, maka setelah memutuskan membuat t-shirt, poster dan kartu pos, baru teringat kalau harus buat desainnya, bukan? Siapa yang buat? Felix sudah dari depan menunjuk dirinya sebagai tukang kejar. Berarti harus ada yang dikejar. Siapa? Hamba sahaya, hahahahaa…. Felix menjalankan tugasnya dengan baik. Sebentar-sebentar menagih via WA, “Jangan lupa email desain poster, kartu pos, t-shirt.” Tentu tak akan lupa email, tapi dibikin dulu yaaaaa! Beginilah kalau banyak maunya. #tanggungrenteng

poster catatan 4

Di luar persiapan tadi, masih ada kegiatan promosi. Salah satunya ngobrol soal konser di RuRuRadio. Lalu buat dokumentasi yang agak lengkap. Dita Nadine, Vany Mitahapsari dan belasan anggota lain dari Qubicle menangani bagian ini. Kegiatan latihan sampai konser selesai, direkam.  Setiap gerak diikuti kamera. Setengah mati saya menahan geli. Tak terbayang kami akan menjalani kegiatan macam begini. #AriRedaConcertDiary 🙂

Cahaya & Swara
Dan hari yang dinanti itu pun tiba. Sesuai rencana, persiapan berjalan sejak jam 8 pagi, ketika ruang pertunjukkan boleh dibuka dan segala macam perlengkapan masuk ke belakang panggung.

Ceritanya, saya mau ngantor setengah hari baru ke Teater Kecil, karena menurut Felix jam ideal hadir di sana setelah lewat jam 14.00. Tapi karena ingin tahu dan melihat persiapan konser sejak awal, saya jadi berangkat lebih awal. Ternyata Ari sudah di sana. Agus Leonardi dan Azis Indriyanto juga sudah sibuk atur ini itu.

Saya melihat betapa sistematis dan canggihnya pasangan yang kami pilih ini. Agus Leonardi bekerja nyaris tanpa suara. Ia mengatur segala sesuatunya lewat iPad. Berkali-kali ia berpindah-pindah tempat, memastikan kualitas suara yang ingin dicapai malam nanti terdengar sama di titik mana pun. Canggih. Beda betul dengan cara yang saya tahu selama ini. Sementara itu Mas Azis mengatur “tirai” lampu dan aturan nyala gelap lampu lainnya berdasarkan play-list/daftar lagu.

Ya, buat konser kali ini, Felix mengharuskan kami punya daftar lagu yang tidak berubah-ubah. “Minimal 20 lagu fix. Selebihnya, terserah,” katanya. Daftar lagu ini diperlukan untuk tata lampu. Lagu mana yang lampunya terang, mana yang redup, mana yang pakai tirai bohlam, mana yang lampu sorot tunggal.

Taat menyanyi sesuai urutan lagu adalah hal yang paling sulit kami lakukan. Makanya meski sudah diminta sejak awal Januari, urutan lagu baru bisa diserahkan tiga hari sebelum konser. Itu pun masih direvisi di siang hari sebelum pertunjukan. Di mana masalahnya? Blame it on our moods. Setiap kali duduk menghadap teman-teman penonton, tiba-tiba kami menemukan lagu yang lebih pas untuk dinyanyikan. Sering sekali daftar yang kami nyanyikan berubah total, sehingga lagu yang sudah pasti dinyanyikan malah tak tersentuh sama sekali. Atau yang direncanakan justru muncul. Dulu, cuma Ari yang suka ganti-ganti lagu. Sekarang, kebiasaan itu saya adopsi juga. Repot.

Lepas jam 2 siang, saya dan Ari sudah bisa cek sound. Aduh, sound-nya…. Bukan main KEREN! Saya tak sabar ingin mendengar komentar dari mereka yang menonton malam nanti. Dua jam kemudian, Jubing siap sound check, disusul oleh Tetangga Pak Gesang yang sebelumnya sempat terlongong melihat permainan gitar Jubing ☺. Sementara Pak Sapardi sudah sejak siang mengabari kalau ia memilih datang menjelang pertunjukan dimulai saja. Tentu boleh, Pak. Santai saja.

Lalu masuk jam siap-siap.
Jam tenang, tapi perut saya malah berisik dan kebelet pipis melulu.
Nggak bener, nih.

Tirai Tersingkap
Dan saat pertunjukkan pun tiba.
Setelah Tetangga Pak Gesang menyanyikan 5 lagu, Dharmawan naik panggung, membacakan pengantar di tepi panggung. Kami duduk dalam gelap. Jantung saya seperti naik ke tenggorokan, dengkul dingin, mulut kering, rambut seperti berdiri. Tiba-tiba lampu menyorot ke arah kami. Ari mulai memainkan gitar. Dan… tiba-tiba saya lupa nada pertama lagu pembuka konser kami.

(…bersambung)

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s