Catatan Dharmawan Handonowarih @KonserAriReda


Nada pertama mendadak hilang dari kepala saya ketika harus menyanyikan lagu pembuka. Itu terjadi pada malam pertama. Saya pikir, itu karena grogi memang sering menyerang di awal pertunjukkan. Besok amanlah. Ternyata, nada awal kembali tak teraba meski tak separah malam pertama.

Apa penyebabnya?
Grogi, pasti.
Tapi setelah diingat-ingat, saya tahu biang keladinya: penghantar yang disampaikan Dharmawan Handonowarih. Menyimak apa yang ia sampaikan membuat saya lupa sedang melakukan apa di panggung. Bahaya.

Bacalah apa yang ia sampaikan di malam (kedua) pertunjukan…

Foto: Bunga Yuridespita

Foto: Bunga Yuridespita

“Menyanyikan puisi bukanlah pilihan yang umum. Tapi AriReda telah memulainya, sekitar 30 tahun lalu. Di dalam proses yang panjang itu, dua pribadi ini seakan menemukan cara bernyanyi begitu rupa, sehingga seakan-akan puisi-puisi itu, dan para penyairnya, hadir, tampak, di dalam bayangan kita.

Banyak orang mengatakan, lagu yang dibawakan AriReda menarik karena kesederhanaannya. Apakah sederhana, karena hanya diiringi oleh gitar? Sederhana karena musik mereka jauh dari panggung yang meriah? Sederhana karena kita semua seakan terpahat oleh lirik Sapardi Djoko Damono yang terkenal, yang mereka nyanyikan berkali-kali itu: “aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu”? Bagi saya, kesederhanaan AriReda adalah pada pilihan mereka, bahwa ketika bernyanyi, mereka mengembalikan pada hal mendasar, seakan-akan tiada lagi yang jauh lebih mendasar, yakni suara dan penghayatan yang begitu dalamnya. Justru di tengah-tengah kekaburan akan hal itu dewasa ini, mereka seakan kokoh berada di sana.

Tapi pertunjukan malam ini tentu saja bukan nostalgia bagi yang telah mengenal duet ini timbul tenggelam sejak dulu. Pertunjukan ini juga ditonton sebagian besar teman-teman yang berusia muda, yang bukan dari angkatan penyanyinya. Yang, terpana, dan kaget, ketika pertama mendengar, sebulan dua bulan lalu sembari bergumam: mengapa saya baru dengar sekarang duet yang oleh sebuah majalah disebut sebagai veteran music folk ini. Para pendengar yang baru ini seakan membuktikan bahwa pilihan AriReda ternyata mendapat sambutan yang luas, tidak hanya dari kalangan dekatnya. Bahwa dalam beberapa pekan saja, penjualan tiket dua malam terjual tanpa sisa, bisa menjadi bukti yang lain. Sebagian penonton muda itu, semalam, dengan sedikit malu, menangis merasakan getaran puisi yang dinyanyikan AriReda. Sebagian tertolong oleh ruangan yang gelap.

Setahu saya, perjalanan duet ini tidak selalu mudah. Ada kesulitan, kegamangan, tidak sedikit pertentangan, cekcok. Terkadang pilihan untuk bernyanyi dikesampingkan. Kapok. Tapi kemudian mereka dipertemukan kembali, mungkin dengan perasaan malu-malu. Mungkin karena mereka memang ada di sana: dalam kesatuan hati dan suara.

Seakan-akan, tidak ada yang lebih indah daripada suara yang lain, bagi Ari, selain memadukan suaranya dengan Reda. Dan seakan-akan tidak ada yang lebih dari yang paling sesuai untuk Reda, selain bernyanyi bersama Ari.

Duet ini mengingatkan perjalanan kita juga, Sering lupa pada pilihan awal. Tetapi kemudian kembali dan menekuni, pilihan itu, sembari mensyukuri, seperti malam ini.

Teman-teman, AriReda.”

Dharmawan, terima kasih.
Sangat.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Catatan Dharmawan Handonowarih @KonserAriReda

  1. Endah says:

    Lah saya yang hanya membaca kata sambutan Mas Dharmawan saja jadi berkaca-kaca dan tersekat leher rasanya, bagaimana yang duduk mendengar langsung dan harus nyanyi setelahnya? Benar, bahaya luar biasa!

    Like

  2. dharmawan handonowarih says:

    Waduh…

    Like

  3. Grace says:

    Wadoooh terharu baca kata sambutannya. Pas banget dan memang banget….. salam kangen buat duet AriReda.

    Like

  4. Grace says:

    Disebelah mana kak? Di Swiss? atawa Belanda? Kapan? #semogabisatercapai

    Like

  5. Fifi Juliana Jelita says:

    Padat dan hangat. Seperti biasa. Sambutan Pade yahud, seyahud penampilan Mbak Reda, Mas Ari, dan penampil pendukung malam itu. Senang bisa jadi bagian yang snagat menikmati momen malam hari itu.. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s