#StillCrazyAfterAllTheseYearsTOUR – Day 1 & 2


foto bg 1Tur Konser AriReda berlangsung dan telah selesai Kamis malam, di Makassar, 19 Mei 2016. Tepat seminggu setelah dimulai pada tanggal 13 Mei, 2016 di coffeewar, Jakarta.

Rencananya saya ingin membuat catatan setelah habis main di setiap titik. Mumpung semua peristiwa masih tergambar jelas, apa daya setiap kali habis main, sudah terlanjur lapar dan lelah dan mengantuk. Sehingga menulis jadi terlewatkan. Akhirnya, setelah kembali pada jam kerja pegawai, waktu untuk menulis datang juga. Mari kita mulai dari kota pertama.

Jakarta: coffeewar
Jumat itu, langit bersih seperti hari sebelumnya. Sekolah di depan rumah saya tak ada keramaian. Suara Pak Kepala Sekolah lewat TOA di upacara pagi yang biasa mengingatkan saya untuk segera berangkat, tak terdengar. Sepi. Tapi hati saya gemuruh sejak entah kapan. Penyebabnya cuma satu: #StillCrazyAfterAllTheseYears dimulai malam ini, di coffeewar, Kemang Timur. Tempatnya Yogi D. Sumule.

Mengapa coffeewar? Begini, sekitar delapan sembilan tahun lalu, seorang teman – Dik Ewink– minta saya menemui sahabatnya. Hari dan jam ditentukan, Ewink malah tak bisa hadir. Maka saya sendiri menemui temannya: Yogi D. Sumule. Ia bercerita banyak tentang kopi, tentang lagu puisi, dan berakhir dengan mengajak AriReda bermain di coffeewar. Tawarannya tak serta merta disambut, karena satu dan lain hal yang belum beres pada kami berdua. Baru setelah lewat tiga tahun, AriReda main di sana. Dan di tempat ini pula kami mulai berkenalan dengan teman-teman baru, muda yang begitu antusias pada lagu-lagu kami. Energi dan kehangatan yang terus dipancarkan coffeewar membuat kami mulai berpikir untuk lebih sering bermain.

Kembali urusan tur, Ari sudah bersiap sejak jam 3 siang di coffeewar. Sementara saya baru sampai sekitar jam 5 sore, setelah naik ojek dari kantor (tak ingin kehabisan hari cuti, saya putuskan mengantor full hari itu). Setiba di coffeewar, sudah ada Agus Leonardi yang membantu mengatur sound. Felix menguasai meja terbesar, memenuhinya dengan CD EP kami. Sambil menunggu, saya mengisi waktu dengan mengupas kencur dan membantu membungkus CD.

Sore itu, ceritanya, saya janjian dengan Ricky Surya Virgana dari WSATCC. Ada satu kegiatan yang harus saya lakukan bersamanya. Apa daya, saya datang terlalu sore. Sehingga tempat sudah ramai, dan hiruk pikuk. Kegiatan yang satu itu tak terlaksana. Tetapiiiiiii justru dari sini muncul ide lain: mengajak Ricky memainkan cello-nya di satu-dua lagu AriReda. Kami pilih dua lagu: Nocturno dan Lanskap.

Berlatih dalam suasana ramai, memang kurang ideal. Tetapi karena yang berlatih itu dua orang yang punya telinga dan rasa yang tajam –Ari dan Ricky, dua lagu bisa dikuasai dalam waktu super singkat.

Yogi memutuskan membuka semua jendela kaca, tak ada batas ruang sejuk dan hangat, jernih dan berkabut. Semua berbaur. Meja untuk jual CD sudah disiapkan di sudut. Teman-teman berdatangan. Jantung saya makin keras berdebar. Rasanya ia hanya bergantung pada sehelai urat.

Menyanyi di depan penonton sudah kami jalani sejak belum punya pacar sampai punya anak umur 20-an. Sejak dahulu kala juga jantung saya selalu berlompatan ketika waktu semakin dekat. Tapi hari itu, lompatannya agak terlalu berlebihan. Berkali-kali saya harus menghela napas, mencoba menenangkan. Berbagai pikiran berlarian di kepala juga: bagaimana kalau hujan, bagaimana kalau mendadak senar gitar putus, bagaimana kalau suara habis, bagaimana kalau kaki saya menendang cello, bagaimana kalau saya kebelet pipis di tengah-tengah lagu nanti, bagaimana kalau…. Terlalu banyak “bagaimana kalau”. Panik. Parah.

Acara mulai 15 menit lepas jam 8 malam.
Teman-teman sudah duduk manis. Termasuk Mas Gufi dari Kongsi Jahat yang sudah mengambil posisi di sudut teras coffeewar. Yogi dan Felix membuka acara.

Kalau tak salah ingat, kami menyanyikan sekitar 15 lagu, dengan dua di antaranya bersama Ricky Virgana. Hati saya rontok ketika Nocturno dimainkan Ricky. Kacau balau perasaan, mata mendadak panas, wah repot ini! Panjang sedikit, nggak bisa nyanyi! Mati-matian menahan tangis supaya nggak kebablasan, soalnya perjalanan nyanyi malam itu masih panjang. Ingat kata Oprah: “Don’t let the ugly cry take over your face and voice!”

Ricky: kamu keren banget, sih!

Habis menyanyi, Felix mengingatkan bahwa jadwal berangkat dari Cengkareng jam 6.00 dari Cengkareng. Artinya, dari rumah harus jalan jam 4.30. Artinya, tidur harus lebih awal. Artinya, pulang sekaraaaaang! Tapi kegembiraan berkumpul dengan banyak teman, berkenalan dengan teman baru, bertukar cerita dengan teman lama…. Terlalu berat untuk dilepaskan. Alhasil perjalanan menuju rumah baru terlaksana menjelang tengah malam. Ari ikut pulang ke Rawamangun.

Sampai di rumah, ternyata tidak bisa langsung tidur. Baru ingat kalau koper yang sudah disiapkan beberapa minggu sebelumnya, saya bongkar untuk keperluan lain. Cita-cita mengatur pagi hari tadi, tapi bangun kesiangan. Walhasil baru beberes jam lewat 1 pagi. Hanya perlu 15 menit. Masuk kamar tidur jam 2. Bangun 2 jam kemudian. Berat!

Malang: Folk Music Festival
Alarm menjerit, sementara empuk bantal dan hangat selimut memeluk erat, tak ingin dilepaskan. Tapi mana boleh! Kalau sampai ketinggalan pesawat, Gan Felix bisa tirus mendadak. Mas Ed mengantar kami ke bandara yang ternyata sudah ramai di subuh itu.

Untuk perjalanan Malang, Surabaya dan Yogyakarta, kami berangkat berempat: Felix, Ari, Disty Nugroho, dan saya.

Semua lancar kecuali urusan gitar yang ternyata tak bisa masuk cabin (nggak kompak nih aturannya…. Kadang boleh, kadang nggak). Setelah dibebat plastik dan dipasang stiker FRAGILE sebanyak-banyaknya, kami lepaskan gitar masuk bagasi.

Sebetul-betulnya, saya sangat suka terbang di pagi hari begini, karena awan dan matahari di atas sana begitu indahnya. Tapi tanggal 14 pagi itu, dengan rela saya lewatkan pemandangan keren itu. Hasrat melanjutkan tidur lebih mendesak. Mari pejamkan mata.

Tiba tepat waktu, kami diantar ke hotel. Felix dan Ari satu kamar, saya dan Disthy di kamar yang lain. Dari depan Felix sudah bilang, kalau membahayakan teman seranjang, maka ia minta kamar dengan twin bed. Saya dan Disty tak merasa perlu punya twin bed. Disty bilang dia bisa tidur dengan manis. Saya pun (ternyata kenyataannya tidak demikian: saya tetap suka main silat dan merebut selimut sampai Disty nggak kebagian. Sementara AC menyembur kencang, bikin dingin. Maafkan.).

Karena tiba agak awal, kami bisa menyambung tidur sedikit sebelum cek sound. Bangun dengan perut agak lapar, kami berangkat ke Lembah Dieng. Wah cantiknya! Panggung menghadap tempat duduk bertingkat –amphitheater style. Kabarnya bisa muat sampai 5 ribu orang. Bukan main.

Habis cek sound, setelah makan nasi-sayur bening-gereh-tempe-sambel tomat yang juara rasanya dan ngobrol sebentar dengan Bie dan Vania dari Wake Up Iris, kami kembali ke hotel. Mandi (sambil mencuri tidur beberapa belas menit) lalu berangkat lagi.

Panggung Folk Music Festival di Lembah Dieng mulai terisi. Ketika kami datang, lebih dari sepertiga tempat duduk terisi. Sedikit-sedikit yang menonton bertambah. Sambil menanti, kami berkenalan dengan Herman yang datang khusus dari Palangkaraya untuk acara ini. Dia dititipi banyak pesanan teman-temannya yang tak bisa datang. Bukan main.

Sarita dari Teman Sebangku menemani mengobrol juga sebelum kami naik panggung.

Kami main setelah Little Lute yang seru.
Kalau boleh saya ingin duduk di tengah penonton saja, menikmati setiap sajian di panggung. Semua keren! Waktu naik panggung kian dekat, saya mendadak ingin pulang. Lutut dingin. Jari-jari bergetar. Bahaya. Tiang di tepi panggung saya peluk erat-erat. Pengen pulang saja rasanya.

Giliran kami tiba.
Intro Hujan Bulan Juni mengalun. Tiba-tiba tepuk tangan menggema.
Kami naik panggung. Menyapa Malang. Menyanyi entah berapa lagu, lupa. Dari panggung saya bisa melihat Sarita, Vania dan Herman beserta teman-temannya menemani kami menyanyi. Yang menonton sudah bertambah banyak, dan terus bertambah. Felix bilang saat itu sudah mencapai 1500-an orang. Jumlah penonton terbesar buat kami. Beberapa kepala menempel. Ada banyak kepala dan lengan menyangkut di bahu kekasih. Lamat-lamat terdengar suara teman-teman yang menonton ikut menyanyi. Banyak yang menutupkan mata, bibir bergerak-gerak menyebutkan syair. Ah, bahagianya kami sore itu.  Tak terhingga jumlah teman-teman baru yang kami temui di sini. Termasuk Cecilia dan Richie yang datang jauh-jauh dari Kuala Namu. Saya tak ingat berapa lagu yang kami nyanyikan.  Terlalu senang sampai tak menghitung (setlist berantakan sejak lagu ke tujuh).

Terima kasih Malang.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to #StillCrazyAfterAllTheseYearsTOUR – Day 1 & 2

  1. mika says:

    kapan konser lagi di Jakarta mba reda? sayaa pengen nonton banget !!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s