Cemara


1509907_10151841684647984_802612712_n

Di halaman rumah, ada pohon cemara.
Daunnya halus, melambai-lambai setiap ditiup angin. Aku suka mengambil daunnya, diiris-iris jadi sayuran kalau buat pecel. Bumbunya, dari tanah liat, diulek pakai cobek dan ulekan dari tanah liat. Dibeli Mak di Pasar.

Farida paling suka buat bumbunya. Dia suka mengulek.
Aku yang membuat sayurnya.

Kadang-kadang, Mak menggunting satu dua ranting cemara, lalu dimasukkan ke dalam botol kaca berisi air. Di botol itu juga dimasukkan satu atau dua tangkai bunga seperti kertas. Warnanya merah muda. Kata Mak, namanya Oleander. Botol berisi daun dan bunga diletakkan di meja. Besoknya, bunga dibuang karena warnanya jadi coklat, lembek-lembek dan baunya tidak enak. Tapi daun cemara tetap di dalam botol. Bunga baru dimasukkan ke botol, menemani daun cemara sampai beberapa hari lagi.

Suatu hari, Mak ambil gergaji, dan potong satu batang cemara, ditanam di ember kaleng berisi tanah, diberi kotoran kambing yang diberi oleh ibunya Farida, lalu disiram. Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, aku siram ember kaleng berisi batang pohon cemara itu. Sore, sehabis mandi, aku siram juga. Mak bilang, supaya batang cemara bisa kuat, dan jadi pohon baru. Mula-mula daun-daunnya agak layu. Tapi setelah beberapa hari, daunnya bangun lagi. Tidak tidur dan lesu.

Pada suatu hari Minggu, Mak bilang batang cemara di ember sudah kuat, sudah ada akarnya. “Nah, karena sudah kuat, kita bisa bawa masuk ke dalam rumah,” kata Mak.
“Kenapa, Mak?”
“Karena mau kita jadikan pohon natal.” Oh! Di rumahku ada pohon natal?
“Seperti di gereja? Dihias-hias, Mak?”
“Ya, kita buat sendiri hiasannya.” Wah, bagaimana caranya?
“Aku boleh ajak Farida?”
“Kalau dia mau, boleh.”
“Sekarang, Mak?”
“Ya. Tapi lihat-lihat dulu, ya. Kalau Farida sedang bantu ibunya, jangan ajak ke rumah.”
“Ya, Mak.” Aku langsung berlari ke rumah Farida. Oh, ternyata dia sedang injak-injak punggung Ibunya yang berbaring di tikar, yang digelar di lantai di depan rumahnya.

“Eh, ada Willa, tho?” ibunya mengangkat kepala dari bantal.
“Ya, Bude.” Aku selalu panggil ibunya Farida dengan Bude. Seingatku, semua orang memanggilnya Bude.
“Mau ajak Ida main?”
“Aku mau buat pohon Natal, Bude.”
“Buat pohon Natal? Kapan?” Ida langsung bertanya, dan kakinya seketika berhenti menginjak-injak badan ibunya.
“Sekarang.”
“Boleh, Mak?” Ida bertanya pada ibunya yang sekarang sudah mengangkat kepalanya.
“Mau hias-hias pohon Natal, Willa? Oya, sebentar lagi Natal. Sana, kalau mau ikut,” katanya sambil menggoyangkan punggungnya. Ida melorot dari betis ibunya, dan langsung berdiri di sampingku, “Ayo!” katanya sambil menarik tanganku. Bergandengan tangan kami lari ke rumahku.

Di rumah, di ruang tengah, Mak sudah menunggu di samping meja makan yang penuh dengan potongan kertas mengkilap, karton bekas kardus, kertas-kertas kalender. Ada juga gunting, benang, lem, ada pensil warna, ada botol-botol kecil, di dalamnya ada bedak warna-warni. Ada kapas bulat-bulat. Ada kobokan, serbet.

“Sudah siap?”
“Siap, Mak!”

Sampai sore aku, Farida dan Mak bekerja di meja makan. Menggambar, menggunting, menempel, mewarnai. Bedak-bedak warna-warni itu, kata Mak namanya kesumba, buat mewarnai kue. Aku buat awan, bintang, bola-bola, kotak. Farida buat daun, bunga. Mak buat ayam, kucing. Semua digantung di dahan-dahan kecil pohon. Habis itu, kami cuci tangan. Meja dibersihkan.

Maghrib.
Farida harus pulang. Mandi dan siap-siap sembahyang.
Aku dan Mak menunggu Pak yang akan pulang sebentar lagi.

*satu episode dari NaWilla 2

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s