‘Mong-Omong


Saya punya sepoci teh.
Mari kita nikmati bersama di beranda.
Mengobrol kita sambil menyambut malam.

***

Saya ingat jaman kecil dulu, sebelum sekolah, ada seorang teman yang selalu meneriaki saya Cino Asu! (Cina Anjing!) setiap kali saya lewat di depan rumahnya.

Tak senang dengan kelakuannya, saya putuskan untuk menghadapinya. Pulang dari “hadap-hadapan” itu, saya kena marah dari Mak. Saya tak terima. Tapi jawaban
Mak membuat saya diam.
Katanya, “Lho bapakmu memang Cina. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang tidak bisa dibenarkan adalah teriakan yang menempel sesudahnya: “asu”.
Mak membuat saya memahami itu. Bapak saya memang orang Cina.
Ok, got it, Mak!

*
Saya sempat lupa perihal Cino atau bukan Cino sampai pada satu ketika saya berkenalan dengan seseorang kakak kelas. Dia bertanya saya orang apa. Dengan tenang saya bilang, bapak saya Cina. Tangan saya yang sudah terulur, dibiarkannya mengambang di udara. Dia berbalik badan dengan mengumpat, “Hah, Cina!”

Saya masih ingat seperti apa rasa yang muncul saat itu.
Sekarang sudah tak lagi menyakitkan seperti dulu, ketika pertama kali mendengarnya. Tapi cukuplah buat catatan bahwa peristiwa itu pernah ada.

Pengalaman itu membuat saya akhirnya perlu waktu agak panjang untuk menjawab pertanyaan sederhana, “Kamu orang mana?”

Kalau yang bertanya berkulit coklat dan bermata besar, saya akan menjawab orang Timor. Kenapa tidak Sabu – suku Mak saya? Saya malas menerangkan karena setiap kali menyebut Sabu, tak ada yang tahu di mana letak pulau itu. Geser sedikit ke Sumba, yang dikenal malah Sumbawa. Pasti waktu membahas NTT, banyak yang absen.

Jadi timbang ribet saya mengaku Timor saja. Kalau kemudian mereka membahas mata saya yang kecil, saya bilang ayah saya orang Sunda. Atau Menado. Dikira anak orang Batak? Saya iyakan saja. Kalau diajak bicara bahasa suku yang saya akui itu, saya bilang saya lahir di Jakarta. Tidak bisa bahasa sana. Saya menyiapkan banyak alasan untuk tidak mengaku orang Cina. Suku bapak saya itu. Kalau yang bertanya berkulit putih bermata sipit, saya akan menjawab, “Sama kayak kamu.” Biasanya dilanjutkan dengan pertanyaan lagi, “Kok gak putih?”
“Kebanyakan main di matahari,” itu alasan saya.

Ribet.
Memang.
Tapi –saya pikir- ini adalah cara yang saya temukan untuk menjaga perasaan sendiri. Pengalaman mengajarkan bahwa menjadi anak orang Cina itu tidak enak.

Di SMA, saya lupa kalau saya ini Cina. Saya juga tak merasa perlu menjelaskan letak pulau Sabu di mana. Teman-teman saya yang lain juga tidak peduli saya orang apa. Tidak penting karena tidak sempat. Di masa itu, saya dan teman-teman terlalu sibuk berkonsentrasi pada pelajaran dan bersatu-padu menghadapi kepala sekolah yang –waktu itu—rasanya galak banget.

Tapi masuk universitas, saya kembali diingatkan pada darah campur di badan saya ini beserta segala konsekwensi yang terkait di dalamnya. Urusan administrasi. Untuk masuk UI, saya perlu akte lahir, surat ganti nama juga.
Ini gara-gara nama saya di akte kelahiran mengandung nama lama Pak: Thio. Sialnya surat ganti nama tak ada. KTP sudah Gaudiamo. Bagaimana ini?

Saya hampir melepas kesempatan kuliah gara-gara surat itu. Malas membayangkan proses pembuatan surat yang sudah kadaluwarsa itu. Mak tak sepakat. Dia memaksa saya jalan terus.
“Sudah susah-susah ikut tes, lulus, main tinggal saja. Nggak bisa!”

Tapi surat-suratnye pegimane nih, Mak? Dikasih yang ade, jadi ribet. Kagak dikasih pasti ditagih.

“Pakai KTP-mu saja. Kalau perlu bawa ijazah SD, buat jaga-jaga,” katanya.
“Akte kelahirannya?”
“Bilang tidak punya.” Lho? Bisa begitu?
“Coba lihat formulirnya!” Saya baca sekali lagi kolom-kolom yang perlu diisi. Ada kotak INDONESIA dan WNI. Di samping WNI ada keterangan menyertakan akte kelahiran, KTP, surat ganti nama dll. Sementara di kotak Indonesia hanya ada catatan menyertakan fotokopi KTP. Akte kelahiran tidak diminta!
“Kamu, orang Indonesia. Warga Negara Republik Indonesia,” kata Mak sambil mencontreng kotak Indonesia. Selesai.
Mak memang tiada dua.

Sejak hari itu, setiap kali mendapat pertanyaan –Kamu orang apa—saya pakai jawaban Mak ini : Orang Indonesia! Hanya pada teman-teman dekat saya menjelaskan perihal suku ini, kalau mereka bertanya.
Satu teman dekat saya, pernah bertanya dengan muka sangat heran, “Kok kamu ngaku Cina, sih?”
“Memangnya kenapa?”
“Nanti hidupmu repot, lho!” katanya dengan suara iba. Punggung saya ditepuk-tepuknya juga.
“Semoga tidak.” Saya yakin: rejeki, nasib baik, tidak tergantung pada suku dan warna kulit dan besar kecil ukuran mata.

Tetapi urusan Cina ini ternyata masih belum tamat juga.

Pada suatu malam –saat itu saya dan pacar sudah akan menikah—kami bertandang ke rumah seorang teman. Ngobrol punya ngobrol, ternyata waktu sudah lewat tengah malam. Teman yang kami datangi itu menggelar tikar. Saya berbaring di situ, sementara pacar saya –yang sekarang sudah jadi suami—meneruskan obrolan.
Namanya bukan rumah sendiri, saya tak bisa segera lelap. Di saat itulah terdengarlah percakapan yang membuat saya kehilangan rasa kantuk….
“Mbul, kamu serius sama Reda?”
“Oh, iya.”
“Kamu nggak mau pikir-pikir lagi?” badan saya mendadak terasa kaku. Ada apa ini?
“Kenapa memangnya?” Itu pertanyaan saya juga.
“Kamu tahu dia Cina kan?” Astaga!
“Oh, tahu sekali!”
“Kamu nggak apa-apa kalau dia Cina?” Memangnya kenapa?
“Nggak apa-apa. Kenapa rupanya?”
Pertanyaan tak dijawab. Teman yang bertanya itu beranjak ke dapur. Katanya mau ambil minum.

*
Menurut saya—Mak lah penyebab munculnya urusan per-Cina-an ini.

Sungguh deh, kalau saya bekerja di bagian administrasi bidang perjodohan di langit sana, Mak sudah saya jauhkan dari Pak sejak sebermula mereka berkenalan. Kalau perlu tak usah kenalan.
Pilihan hati Mak membuat Cina dan bukan jadi sesuatu yang tak berkesudahan dibahas. Dari begitu banyak laki-laki yang menjadi sahabatnya, Mak memilih Pak yang Cina kelahiran Banda Aceh ini. Bukan sahabat sekampung. Bukan teman belajarnya asal Jogja. Bukan juga kenalan dari Australia atau Amerika. Dia memilih laki-laki bermata sipit, berambut lurus seperti sikat, berkulit putih menjadi suaminya. Jadi bapak saya dan tiga adik saya. Mak tak peduli bapaknya kurang setuju, dan ibunya menangis karena pilihan hatinya.
Begitulah Mak: Ia tak pernah kenal kata “ragu”.

*
Ketika kami mulai besar, dan televisi menjadi hiburan utama di rumah. Satu ketika saat melihat tayangan tentang dunia bisnis, Mak berkomentar, “Orang-orang Cina ini merasa dirinya superior ya? Segala mau dikuasai!” Pak ada di sana, duduk di sebelah Mak. Mengangguk-angguk sepakat.

Ketika yang lain, melihat saya yang tak juga menyelesaikan skripsi, Mak bersuara, “Anak Cina yang di rumah ini kok nggak ada ulet-uletnya sama sekali, ya? Bagaimana mau maju? Bisa cari uang nggak nanti?” Pada saat itu, Pak juga ada di sebelah Mak. Senyum-senyum dia.

Kau dan pilihanmu itu, Mak ☺

*
Saya menikah dengan pacar yang sempat diinterogasi temannya itu. Dia orang Jawa. Kami punya seorang putri yang selalu menyebut dirinya orang Indonesia raya. Kalau ada yang ingin tahu lebih jauh, ia jelaskan darah apa saja yang ada di tubuhnya. Ia bangga ada darah Cina di tubuhnya.
Penting buat cari duit, katanya. I see!

***

Mari, saya tuangkan teh ke cangkirmu.
Kita nikmati hangat dan wanginya di beranda.
Malam sudah datang sejak tadi.

About rgaudiamo

a mother, a writer, an occasionally singer
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s